Ruang Kosong

Ruang Kosong

Salah satu pekerjaan pokok penghuni rumah adalah berbenah. Beberes rumah dengan segala isinya. Naluri nginem kata anak gaul. Menyapu, membersihkan lantai dan lain-lain pekerjaan yang terkesan remeh tetapi sebenarnya rumit juga ketika dijalani. Salah satu hal penting dari berbenah adalah membuang semua barang yang tidak terpakai. Menyediakan ruang kosong yang bisa dipakai untuk barang atau hal baru yang lebih dibutuhkan. Pakaian, buku-buku, perabot, bahkan bunga-bunga yang sudah tidak bisa diajak kompromi melahirkan keindahan baiknya dibuang.

Urusan berbenah sepertinya hanya menjadi domain perempuan. Sedikit bantuan dari para lelaki akan menjadi legenda seumpana kunjungan artis ternama; pada sebagian cerita tentunya. Cukup banyak laki-laki yang juga mau beres-beres rumah, apa pun alasannya.

Ada perasaan sayang ketika harus membuang barang tertentu.

Harga barang, cerita dibalik adanya barang itu sampai hal remeh tentang bentuknya yang lucu adalah alasan beberapa barang menumpuk indah disalah satu sudut ruang. Sejujurnya tidak mudah memang menentukan barang mana yang layak dibuang dan mana yang baiknya dipertahankan. Harus benar-benar tega untuk beberapa barang yang mengandung kenangan. Kita masing-masing pasti punya barang yang sulit sekali untuk dilepaskan.

Saya mengenal seseorang yang masih menyimpan beberapa barang lama dan sudah tidak bisa dipakai lagi. Alasannya sederhana saja, barang itu hadiah dari seorang kerabat yang sudah pindah ke tempat jauh. Sebenarnya barang itu sudah tidak layak untuk disimpan, selain tidak bisa digunakan lagi, barang itu juga memakan ruang terlalu banyak. Tetapi tetap saja dia terongok manis disalah satu sudut dengan alasan sentimentil.

Sesuatu lebih sering bertahan karena alasan sentimentil daripada alasan kegunaan.

Generasi yang lebih tua biasanya lebih “fasih” soal menyimpan kenangan dalam bentuk barang. Coba saja cek lemari atau gudang para opa oma, akan ditemukan berbagai jenis barang yang seharusnya tidak perlu dipertahankan. Salah satu alasan pertengkaran antar generasi adalah isi gudang yang harus disortir karena butuh kamar tambahan untuk penghuni rumah yang terus bertumbuh. Kursi-kursi tanpa kaki yang lengkap tetapi punya kenangan tentang ngopi di teras sambil mendengarkan lagu-lagu Elvis Prestley, pasti akan tetap dipertahankan. Panci berlubang tanpa gagang yang seharusnya bisa jadi pot bunga akan dipertahankan dengan gigih karena dahulu itu adalah hadiah pernikahan; yang sudah memasuki usia emas. 

Lemari yang berdiri condong menunggu kejatuhan, selalu mendapat jatah perbaikan karena di dalamnya masih terdapat banyak baju-baju cantik pemilik hati yang sudah berpulang. Tidak mudah menggantinya dengan yang baru karena itu adalah lemari pertama yang dibeli dengan kesepakatan berdua; kala itu.

Kaum milenial juga tidak kalah rumitnya soal sortir menyortir barang.

Kemampuan menghasilkan uang dan tersedianya berbagai jenis barang membuat tumpukan barang lumayan tinggi. Berbagai jenis pakaian, sepatu, dan lain-lain yang kadang mungkin tidak terlalu dibutuhkan berbaris antri berharap dikenakan. Ketika ruang penyimpanan penuh dan butuh dikosongkan, kondisinya sama rumit dengan kaum old. Walaupun sebagian besar dipertahankan bukan karena kenangan tetapi karena harga atau trend yang berlaku. Untuk beberapa cerita bahkan banyak barang yang belum mulai digunakan ketika tiba saatnya untuk disingkirkan.

Beberapa barang lagi-lagi harus dipertahankan atas nama  “mungkin akan kembali trend” atau “siapa tau besok butuh” atau sekedar “ini investasi, banyak uang habis untuk ini”.

Urusan mengosongkan ruang selalu sulit.

Ada ruang di hati yang seharusnya kosong agar siap diisi kembali, namun ini sering sulit karena alasan kenangan. Serasional apapun alasan ketika hati harus dikosongkan, selalu butuh waktu dan alasan yang rumit untuk menjalankannya.

Demikian juga dengan ruang di kepala. Bahkan pikiran butuh ruang kosong lebih banyak biar tidak penat. Mengeluarkan beban pikiran sesederhana menangis akan sulit dilakukan ketika kita tidak mengijinkannya atas nama gengsi.

Keseluruhan kehidupan batin yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan yang tergabung menjadi jiwa terkadang butuh dikosongkan juga dengan ngobrol.

Perempuan atau laki-laki semua butuh ruang kosong untuk bisa melanjutkan hidup dengan lebih ceria dan bermakna. Karena seperti apapun yang penuh akan tumpah, demikian pun ruang di hati, pikiran dan jiwa. Tumpahan dari ruang yang penuh biasanya berupa mood yang tidak stabil, kemarahan berlebih,  fisik yang tidak segar dan hubungan yang memburuk dengan orang lain.

Butuh senjata ampuh berjudul ikhlas untuk mengosongkan ruang; fisik dan non fisik.

Ada sebuah tas yang sudah mulai “ngelotok” di sudut lemari.

Model yang usang dan bahan yang mulai terkelupas dimakan waktu membuat tas ini menjadi pilihan akhir untuk digunakan. Bahkan jika pun tidak punya tas lain, saya memilih untuk menenteng saja dompet dan hand phone. Tetapi tas ini bertahan cukup lama disana, karena itu milik almarhumah mama. Sebuah tas kantor yang keren pada jamannya dan saya yakin beliau menghabiskan cukup banyak uang jika dia membelinya. Atau jika tas ini adalah hadiah atau oleh-oleh, ini pasti dari seseorang yang sangat berarti. Ruang itu harus kosong, siapa tau akan segera ada tas baru disana. Kenangan dan cinta tentang yang empunya tas tentu saja tidak ikut dibuang, karena itu sudah menyatu dan tidak mungkin kemana-mana lagi. Ada ruang khusus yang telah disiapkan untuk orang-orang special tanpa harus tergantung pada benda-benda yang mereka tinggalkan.

========= Salam dari Borong =========

4 Comments

Komentar