Cemas adalah Bagian dari Tanggung Jawab sebagai Orang Tua.

Cemas adalah Bagian dari Tanggung Jawab sebagai Orang Tua.

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Tidak ada sekolah yang khusus mengajarkan bagaimana menjadi seorang ayah dan ibu yang baik. Menjadi orang tua juga tidak otomatis membuat semua hal bisa dikontrol dan diatur sesuai kondisi ideal yang diinginkan. Bertanggung jawab pada orang di luar diri dengan kehidupan lain yang kita ciptakan bukan perkara mudah. Tanggung jawab sebagai orang tua itu sesuatu yang tumbuh sebagai naluri dan disempurnakan dengan latihan setiap hari

Menikah, memiliki anak, merawat dan melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan baik adalah harapan sebagian besar manusia dewasa. Tetapi like always, tidak semua hal berjalan semudah yang diangankan. Bahkan ketika sudah merencanakan semuanya dengan matang pada setiap tahapan. Apalagi kalau sudah soal anak.

Memiliki anak dan bagaimana membesarkan mereka harus direncanakan matang.

Ini adalah salah satu program unggulan pemerintah untuk menciptakan generasi emas; generasi hebat yang akan menguasai dunia di tahun 2040an nanti. Perencanaan ini dimulai dengan kapan sebaiknya menikah dan jeda ideal setiap kelahiran. Prioritasnya adalah mempersiapkan mama yang bahagia; lahir dan batin.

Setetelah paham waktu yang tepat untuk memiliki anak, selanjutnya adalah bagaimana merawat kehamilan. Ini tidak mudah. Pembentukan fisik dan emosi anak bahkan sudah dimulai dari dalam perut. Bagaimana kondisi emosional seorang mama (dan pasangan) berpengaruh besar pada tumbuh kembang janin; selain asupan gizi seimbang tentunya.

Tanggung jawabnya tidak sebatas sudah bisa punya anak pada usia sekian. Kalau ini sih lebih kepada tanggung jawab kepada yang suka sekali terlibat dengan kehidupan orang lain. Masih sangat bisa dikeluarkan dari standard prioritas untuk kehidupan yang berkualitas.

Masa-masa awal menjadi orang tua adalah jam-jam seru adaptasi.

Belajar bagaimana mengurus orang lain yang masih sangat kecil dengan berbagai kebutuhannya benar-benar menguras emosi. Terbangun di tengah malam karena suara tangis setelah seharian berkutat dengan popok, baju kotor dan lainnya terasa lebih horror dari ujian skripsi. Cerita panik orang tua “baru” ketika si bayi tidak berhenti menangis yang ternyata karena popoknya lembab dan harus diganti, itu bukan isapan jempol. Kecemasan dan air mata yang terus keluar tanpa bisa dicegah gegara anak demam itu benar-benar deh. Hehe.

Emosi ketika baru punya anak itu asli roller coster; naik turun dan menikung tajam tapi dalam jangka waktu yang panjang. Perjuangan adaptasi sejak buka mata sampai berusaha terlelap kembali pada saatnya. Adaptasi untuk bisa hidup dengan orang diluar keluarga; terbiasa segala sesuatu diurus oleh orang tua sekarang giliran kita menjadi orang tua. Kebiasaan yang berubah, jam tubuh dan hidup yang berbeda dari kebiasaan, orang-orang sekitar yang tak lagi sama.

Pertumbuhan anak-anak (sepertinya) berlangsung otomatis, perkembangannya yang rumit.

Pertumbuhan anak-anak bisa dilihat secara kasat mata. Merangkak, berdiri, berjalan lalu berlari. Dari yang hanya bisa merengek sampai akhirnya bisa mendebat banyak hal. Kepala tanpa rambut yang kemudian menjadi kepala dengan rambut indah dan bisa dikepang.

Semuanya akan berlangsung dengan sendirinya. Bantuan paling paten berupa asupan gizi dan keamanan lingkungan adalah yang bisa diberikan pada setiap tahap pertumbuhan.

Lain cerita ketika bicara perkembangan; asli campur aduk perasaan. Lebih rumit, karena sulit untuk menebak sejauh mana mental anak berkembang dan apakah itu baik. Sedalam apa luka yang mungkin ada.

Cukupkah bahagia yang kita berikan? Apakah tawa ceria yang tersaji akan selalu sama untuk hari ini dan esok.. Tidak ada sesuatu yang pasti dan bisa jadi indikator perkembangan, karena setiap anak itu unik. Apalagi jaman sekarang; mudah sekali untuk menyembunyikan kondisi diri dibalik sikap yang “baik-baik saja”. Senyum indah dari rumah bisa berubah menjadi tangis ketika sampai di luar, pun sebaliknya. Cerita bahagia di sekolah mungkin saja adalah khayalan yang diharap nyata di rumah. Semua orang bisa memakai topeng hari ini, bahkan anak-anak sudah belajar untuk itu.

Pikiran, pertanyaan dan pernyataan ini mungkin berlebihan untuk sebagian orang tetapi sering sekali berseliweran dalam kepala banyak orang tua.

Perkembangan jaman banyak berpengaruh pada pola asuh dan cara orang tua merawat anak-anak.

Orang tua jaman dulu sepertinya selalu yakin bahwa anak-anak mereka akan baik-baik saja; di dalam atau di luar rumah. Tidak ada kekhawatiran berlebih, yang penting makanan selalu ada.

“Tuhan, nenek moyang dan alam akan menjaga mereka dengan baik,” ini kata oma saya dulu ketika ditanya bagaimana dia membesarkan 14 orang anak.

Generasi old akan otomatis ke sekolah tanpa drama di pagi hari dan kepanikan mengerjakan tugas sepanjang hari. Orang tua dulu tidak khawatir kalau anaknya tidak keluar dari kamar berjam-jam.

“Kalau lapar nanti juga keluar; tunggu saja.”

Dan emang benar, panggilan alam dan kebutuhan metabolisme akhirnya membuat pintu kamar terbuka tanpa perlu digedor.

Bandingkan dengan kepanikan orang tua hari ini saat anaknya tidak keluar kamar. Ketakutan mereka mengkonsumsi narkoba, miras atau sakit yang pilih dirahasiakan. Bahkan kemungkinan mengakhiri hidup membuat jendela kamar bisa dipecahkan untuk bisa menerobos masuk. Pertumbuhan anak jaman dulu dan sekarang mungkin tak banyak bedanya, perkembangannya yang sangat berasa beda.

Bentuk kecemasannya  pada setiap  tahap perkembangan anak juga beda untuk setiap generasi.

Kecemasan mungkin adalah hal yang paling sering menghampiri para orang tua hari ini. Ketakutannya banyak. Kemudahan mengakses segala informasi membuat generasi hari ini berkembang jauh lebih cepat dari usianya.

Perbedaan generasi terkadang juga jadi penghalang untuk komunikasi yang efektif. Orang tua dipaksa konformis untuk banyak hal atas dasar perkembangan jaman. Tetapi disaat yang sama anak-anak merasa yang paling tahu tentang bagaimana hidup hari ini harusnya dijalankan. Orang tua merasa sudah cukup panjang perjalanannya di dunia sehingga pengalaman juga lebih banyak. Anak-anak merasa pengalaman itu sudah out of date.

Ketika hidup memberi pelajaran melalui masalah pada anak-anak, naluri menyelamatkan membuat orang tua tunggang langgang membantu hadapi soal. Sebagian anak berterima kasih dan belajar, banyak lainnya merasa punya tameng dan kembali berulah; lagi dan lagi.  

Makin kesini, anak-anak semakin besar; masalah semakin kompleks. Menjadi orang tua hari ini semakin banyak cemasnya.

Terlalu mengekang akan dicap kolot. Memberi kebebasan berlebih terkadang malah berujung pada hal-hal yang bikin urut dada.

Mencoba bicara untuk tahu lebih banyak dikata kepo. Tidak peduli juga akan mendapat kecaman dan perlawanan berupa pemberontakan sikap dan ucapan.

Perang antara arus informasi parenting hari ini melawan gaya lama yang terbukti sukses pada  generasi sebelumnya benar-benar bikin pening.

Cemas adalah bagian dari tanggung jawab sebagai orang tua.

Ini kalimat dari Romo Ino Sutam pada suatu kesempatan. Semoga saja segala jenis kecemasan hari ini berujung pada tanggung jawab untuk belajar lebih.

Tanggung jawab orang tua hari ini bukan sekedar memastikan anak bisa makan, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal layak. Lebih kompleks dari sekedar bisa sekolah dan punya lingkungan yang nyaman.

Hari ini orang tua harus bisa menjadi teman, pengawas dan aparat keamanan, “tempat sampah”, sumber informasi, dan banyak fungsi lain.

Sebaiknya selalu ada kapanpun dibutuhkan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Am I good enough?”

Ndeeeee…. perkiraan jawabannya bikin meriang.

Salam dari Ruteng di sore yang berkabut dengan kopi dan cerita opa Nanu tentang masa mudanya di Wae Koe

4 Comments

Komentar