Manusia Modern Bicara

Manusia Modern Bicara

Baru saja lewat viral tentang Rocky Gerung yang (katanya) menghina Presiden Jokowi. Bukan soal siapa yang menghina dan dihina buat saya, tetapi lebih kepada etika dan sopan santun yang sepertinya semakin tergerus. Keriuhan yang mengikuti setelahnya juga lumayan “ngeri-ngeri sedap”. Semua orang berlomba dengan caranya untuk menjadi bagian cerita dan berita; dengan bicara.

Tidak peduli seberapa banyak umur atau setinggi apa pendidikan, sepertinya semakin banyak yang tidak lagi memperdulikan etika dan sopan santun. Terutama tentang kata dan kalimat yang dipakai untuk orang di luar diri.

Jadi ingat bagaimana keras dan intensnya didikan orang tua dan guru agar bisa menggunakan bahasa yang santun dan beradab. Etika berkomunikasi. Tentu saja pendidikan hari ini masih menekankan hal yang sama, mungkin modernitas saja yang membuat implementasinya jadi beda ya.

Guru-guru jaman saya masih sekolah keras sekali mendidik soal etika dalam banyak bidang, terutama soal komunikasi. Penting tidaknya untuk bicara, kapan bicara dan kapan sebaiknya diam; ini adalah sedikit dari banyak aturan terkait berbicara dan membuang bahasa.

Bicara menuntut kecerdasan sosial, bukan hanya kecerdasan intelektual.

Bukan sekedar mengeluarkan bunyi dalam bentuk kata dan/atau kalimat. Akan banyak hal yang tergambar dari bahasa yang digunakan ketika bicara. Pilihan kata dan kalimat bahkan intonasi atau nada bicara, berpengaruh pada sampai atau tidaknya pesan yang ingin disampaikan. Juga kesan tentang pribadi.

Kecerdasan sosial termasuk kemampuan untuk memperhatikan kapan, dimana dan dengan siapa sebuah kata atau kalimat dipakai.

Bukan perkara mudah; bahkan untuk kelas professor

Menulis adalah bicara dalam bentuk lain.

Bicara dan menulis sama-sama mengeluarkan hasil pikir dan itu tidak mudah, karena sering yang terpikir adalah hal negatif. Tulisan sesederhana status medsos pun terkadang menjadi titipan kemarahan dan ketidakpuasan akan kehidupan.

Itu salah satu alasan sebagian orang memilih berdebat dengan suara keras dan mengeluarkan kata-kata kasar di dunia nyata. Berpikir itu sulit, itulah kenapa lebih banyak orang memilih untuk menghujat. Menghujat tak butuh berpikir.

Tulisan dan pembicaraan tentang banyak hal buruk lebih banyak peminat dibandingkan hal-hal baik. Karena orolan perkumpulan dan sajian tulisan yang berseliweran memang lebih banyak tentang hal dan cerita buruk. So ketika gaya komunikasi juga memburuk, kita tidak harus heran terlalu lama juga kan?

Media sosial adalah tempatnya manusia modern untuk pamer; level noraknya saja yang berbeda.

Jaman modern yang hadir dan dibarengi kebebasan publik menjadikan media sosial menjadi panggung besar tempat semua orang berlomba untuk menunjukan eksistensinya. Semua orang (merasa) boleh bicara tentang apa saja dan dimana saja. Beberapa kemudian membuat keadaan menjadi kacau.

Ketika panggung dunia nyata menjadi sulit didapat, maka dunia maya adalah panggung berikut yang dituju. Berharap ketika tidak didengar di dunia nyata, akan ada yang mendengar celoteh di dunia maya.

Eksistensi sebagai manusia modern seolah harus dipublikasikan sesegera mungkin (untuk tidak bilang dipertontonkan); beragam pameran dilakukan di dunia maya.

Pamer harta kekayaan, pamer isi kepala, pamer aktivitas sosial atau religius, pamer badan, pamer kemampuan ini dan itu; sebutkan saja dan media sosial menyediakannya.

Ujaran dan kalimat-kalimat  tak senonoh, gambar dan adegan yang harusnya hanya ada di ruang private, masalah pribadi yang diceritakan secara gamblang juga tersedia sama banyaknya.

Beberapa orang yang tidak bisa mengkomunikasikan pikiran negatifnya tentang kehidupan orang lain bahkan dengan sukarela memamerkan  kualitas cara pikirnya melalui status-status medsos yang menyedihkan.

Beragam sakit yang butuh dokter seolah sembuh ketika di publish di dunia maya dan disukai oleh netijen yang bahkan tidak dikenal.

Pertanyaannya kemudian adalah, yang butuh perhatian itu sakit fisik atau psikisnya? Hehe.

Dunia modern kadang emang seaneh itu.

Beranda media sosial adalah pangggung besar yang bisa digunakan oleh siapa saja untuk menyatakan dirinya. Negatif atau positif, benar atau salah adalah urusan kemudian yang bisa dikomunikasikan.

Kompromi dan kesepakatan terkait norma yang berlaku di dunia nyata sepertinya adalah sebuah keniscayaan di dunia maya.

Etika dan etiket dunia nyata banyak yang tidak berlaku lagi ketika memasuki beranda media sosial. Hal-hal yang sebelumnya tak apik sering menjadi sah ketika bumper- nya adalah dunia maya dan jaman modern; cara pikir, berpakaian, interaksi termasuk juga gaya berkomunikasi.

Komprominya terlalu banyak.

==== Salam dari Borong ====

2 Comments

  1. Nera Gega

    Sangat setuju dengan tulisan ini. Klo saya selalu menahan diri untuk berkomen di medsos dengan prinsip bahwa tidak semua hal yg terlintas di benak harus ditulis atau diucapkan. Supaya tida terlalu los orang Manggarai bilang hahaha

Komentar