15. Nekrofilia Terselubung: Ketertarikan pada Yang Mati, Mekanis, dan Hampa dalam Budaya Populer.

15. Nekrofilia Terselubung: Ketertarikan pada Yang Mati, Mekanis, dan Hampa dalam Budaya Populer.

Necrophilia… can be described as the passionate attraction to all that is dead, decayed, putrid, sickly; it is the passion to transform that which is alive into something unalive; to destroy for the sake of destruction; the exclusive interest in all that is purely mechanical. It is the passion to tear apart living structures.”

Erich Fromm, The Anatomy of Human Destructiveness.

Saudara-saudariku, para peziarah yang merindukan hembusan nafas kehidupan di tengah hutan beton yang dingin dan steril,

Selamat datang kembali di laboratorium jiwa kita. Perjalanan kita menuruni tangga spiral psikologi manusia modern semakin dalam dan semakin gelap. Kita telah melihat bagaimana kesepian menggerogoti kita seperti kanker sunyi yang tak terlihat. Narsisme mengurung kita dalam penjara cermin yang menyesakkan di mana kita hanya melihat wajah sendiri, dan bagaimana pasar mengubah kita menjadi barang dagangan yang dipajang di etalase digital demi validasi semu.

Namun, hari ini, kita harus memberanikan diri untuk turun ke lantai dasar—mungkin lebih tepatnya ke ruang bawah tanah (basement)—dari neraka psikologis manusia modern. Di sini, udaranya pengap, dingin, dan berbau logam.

Di Seri 15 ini, kita akan menyingkap sebuah patologi yang paling gelap, namun sering kali paling sulit dideteksi karena ia tidak berwajah monster yang menakutkan atau iblis bertanduk. Sebaliknya, ia sering bersembunyi di balik topeng “kemajuan”, di balik kilauan teknologi canggih, efisiensi birokrasi yang rapi, ketertiban kota yang steril, dan hiburan layar kaca yang memukau mata. Kita akan berbicara tentang Nekrofilia Terselubung (Disguised Necrophilia).

Jangan terburu-buru merasa jijik atau berpikir ini tentang penyimpangan seksual terhadap mayat (nekrofilia klinis/perverse).

Bukan itu yang dimaksud oleh Fromm. Dalam psikologi humanistik radikal Erich Fromm, nekrofilia adalah sebuah orientasi karakter yang fundamental. Ini adalah kecintaan pada segala sesuatu yang tidak bertumbuh, yang mekanis, yang dapat dikontrol sepenuhnya karena tidak memiliki kehendak sendiri. Ini adalah kerinduan akan kepastian absolut, di mana kehidupan yang spontan dan tak terduga dianggap sebagai ancaman, sedangkan keteraturan yang kaku dan mati dianggap sebagai keamanan.

Di era di mana kita lebih mencintai gadget daripada tatapan mata manusia, kita terobsesi dengan film-film apokaliptik tentang kehancuran dunia (zombie, distopia), dan di mana perang dengan drone dianggap sebagai solusi “bersih” dan “higienis” untuk konflik; kita harus mengajukan pertanyaan yang sangat tidak nyaman, pertanyaan yang mungkin mengguncang fondasi kenyamanan kita: “Apakah kita, tanpa sadar, sedang jatuh cinta pada kematian?”

Anatomi Kematian: Membedah Sindrom Pembusukan (Syndrome of Decay)

Erich Fromm, dalam mahakaryanya The Anatomy of Human Destructiveness (1973), membedakan dua orientasi dasar yang bertarung secara abadi dalam jiwa manusia: biofilia (cinta akan hidup) dan nekrofilia (cinta akan kematian).

Kehidupan (bios) itu berantakan, tidak terduga, basah, organik, lambat, dan tumbuh secara misterius. Kematian (necros) itu rapi, pasti, kering, mekanis, cepat, dan statis. Manusia modern, yang didorong oleh kecemasan eksistensial dan ketidakmampuan untuk menanggung ketidakpastian hidup, sering kali memilih keamanan kematian daripada risiko kehidupan. Kita memilih yang “pasti” meskipun itu mematikan jiwa kita.

Berikut adalah ciri-ciri klinis nekrofilia karakterologis yang kini merajalela dalam masyarakat kita, sering kali menyamar sebagai “efisiensi” atau “modernitas”:

Obsesi pada “Hukum dan Ketertiban” (Law and Order) di atas Kehidupan

Si nekrofil mencintai ketertiban yang kaku. Baginya, kehidupan yang organik itu “kotor”, “berisik”, dan “tidak efisien”.

Birokrasi yang mematikan. Lihatlah sistem birokrasi di mana manusia direduksi menjadi nomor antrean, formulir, dan data statistik. Ketika seorang pejabat atau pegawai lebih peduli pada “kelengkapan dokumen” daripada nyawa manusia yang sedang membutuhkan pertolongan darurat, itu adalah nekrofilia birokratis. Manusia yang hidup dan bernafas dianggap sebagai gangguan terhadap kelancaran sistem. Adolf Eichmann adalah contoh ekstrem dari birokrat nekrofilik: ia mengirim jutaan orang ke kamar gas bukan karena kebencian personal yang berapi-api, melainkan karena ketaatan dingin pada sistem. Baginya, manusia bukanlah jiwa yang bernafas, melainkan ‘unit kargo’ yang harus diproses secara efisien sesuai jadwal kereta api.

Gentrifikasi dan Kota Steril. Lihatlah arsitektur kota modern yang penuh beton, baja, dan kaca (bahan anorganik) tetapi miskin pohon dan ruang interaksi sosial. Si nekrofil lebih suka melihat orang miskin “dibersihkan” dari jalanan demi estetika kota yang steril dan Instagramable, daripada melihat mereka hidup dan ditolong. Baginya, kemiskinan adalah “polusi visual”. Ia lebih mencintai infrastruktur (benda mati) daripada warga (makhluk hidup). Kota menjadi mesin untuk ditinggali, bukan ruang untuk hidup.

Pemujaan terhadap Teknik dan Mesin (The Worship of Technique)

Ini adalah gejala paling modern dan paling berbahaya. Fromm menulis bahwa bagi karakter nekrofil, “suatu hal menjadi menarik hanya karena hal itu bersifat mekanis, bukan karena hal itu hidup.”

Manusia Sibernetik (Cybernetic Man). Kita menyentuh layar smartphone kita ribuan kali sehari dengan kelembutan yang seharusnya kita berikan kepada kekasih atau anak kita. Gadget itu dingin, mati, tetapi kita terikat padanya secara emosional. Mengapa? Karena gadget bisa dikontrol. Manusia tidak bisa dikontrol. Gadget tidak pernah menolak kita; manusia bisa menolak kita. Kita lebih nyaman berhadapan dengan benda mati yang merespons perintah jari kita daripada berhadapan dengan manusia yang memiliki kehendak bebas.

Ilusi Kontrol AI. Kita terkagum-kagum pada Artificial Intelligence yang bisa menulis puisi atau melukis (mekanis/algoritmik), tetapi kita kehilangan kemampuan untuk merasakan puisi itu sendiri (organis/emosional). Kita lebih suka berinteraksi lewat chat (bersih, bisa diedit, bisa dihapus, bisa ditunda, tanpa bau badan) daripada bertemu muka (berisiko, spontan, menuntut kehadiran penuh). Kita sedang berubah menjadi Homo Mechanicus yang takut pada keintiman organik.

Kekerasan sebagai Cara Penyelesaian Masalah

Si nekrofil tidak memiliki kesabaran. Pertumbuhan (growth) membutuhkan waktu, kesabaran, pupuk, dan perawatan yang telaten. Penghancuran (destruction) bisa dilakukan dalam sekejap.

Impotensi Kreativitas. Membangun kepercayaan butuh bertahun-tahun; menghancurkannya butuh satu kalimat fitnah. Menciptakan manusia butuh 9 bulan dan merawatnya butuh 20 tahun; membunuhnya cukup satu peluru dalam satu detik.

Bagi si nekrofil, kekerasan adalah jalan pintas menuju rasa berkuasa. “Aku mampu menghancurkanmu, maka aku lebih kuat darimu.” Padahal, menurut Fromm, kemampuan menghancurkan adalah bukti impotensi untuk mencipta. Orang yang tidak mampu membuat orang lain mencintainya, akan berusaha membuat orang lain takut padanya. Ketakutan adalah bentuk penghormatan yang bisa dipaksakan; cinta tidak.

Budaya Populer: Perayaan Kehancuran yang Hampa

Mari kita lihat “diet mental” kita sehari-hari. Budaya populer adalah cermin jiwa kolektif, dan cermin itu memantulkan bayangan mayat yang kita poles agar terlihat “keren” dan “menghibur”.

Epidemi Zombie dan Fantasi Apokaliptik. Mengapa serial seperti The Walking Dead, The Last of Us, atau film-film kehancuran dunia (post-apocalyptic) begitu laku keras dan mendominasi imajinasi kolektif kita dalam dekade terakhir? Secara psikodinamika, ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah proyeksi dari kematian batin kita. Kita merasa dunia modern yang penuh rutinitas 7 pagi hingga 5 sore ini sudah begitu hampa, membosankan, dan tidak bermakna sehingga kita berfantasi tentang kehancurannya. Ada kepuasan tersembunyi (schadenfreude) melihat gedung-gedung pencakar langit runtuh dan bank-bank terbakar dalam film.

Zombie adalah metafora sempurna bagi manusia modern. Ia bergerak, ia makan, ia bergerombol, tetapi ia tidak memiliki jiwa, tidak memiliki kesadaran, tidak memiliki empati, dan tidak memiliki cinta. Kita menonton zombie karena tanpa sadar kita melihat cermin diri kita sendiri: makhluk teralienasi yang berjalan ke kantor setiap pagi, digerakkan oleh rutinitas tanpa jiwa, melakukan pekerjaan yang tidak kita cintai, dan hanya hidup untuk mengonsumsi. Kita adalah The Walking Dead yang kehilangan kemampuan untuk berkata ‘Aku’ secara autentik.

Gamifikasi Pembunuhan (The Gamification of Death).

Dalam video game pertempuran (Battle Royale, FPS) yang dimainkan jutaan anak muda setiap hari, membunuh menjadi aktivitas motorik yang refleks, cepat, repetitif, dan tanpa konsekuensi moral. Kematian didigitalkan menjadi poin, loot box, dan kenaikan level. Ini adalah desensitisasi sistematis. Kita melatih otak kita untuk melihat penghancuran “yang lain” sebagai jalan satu-satunya menuju kemenangan. Darah menjadi piksel. Jeritan menjadi efek suara. Empati dimatikan agar efisiensi membunuh meningkat. Bahayanya bukan pada game itu sendiri, melainkan pada pembentukan karakter yang melihat solusi masalah adalah “eliminasi lawan”, bukan “negosiasi” atau “koeksistensi”.

Berita sebagai Pornografi Kematian (True Crime Obsession). Media massa dan platform streaming (Netflix, dll) sering kali mengeksploitasi tragedi. Slogan jurnalisme kuning “If it bleeds, it leads” (Jika berdarah, itu jadi berita utama) kini berevolusi menjadi dokumenter pembunuh berantai yang ditonton jutaan orang sambil makan malam bersama keluarga. Kita mengonsumsi detail-detail mutilasi, perang, dan bencana bukan dengan empati dan duka yang mendalam, tetapi dengan sensasi dingin dan rasa ingin tahu yang morbid. Kita menjadi penonton (spectator) di teater penderitaan manusia, terhibur oleh rasa sakit orang lain dari jarak aman layar kaca kita. Ini adalah bentuk voyeurisme nekrofilik.

Sant’Egidio: Diagnosa Spiritual tentang “Kematian Batin”

Komunitas Sant’Egidio, melalui perenungan mendalamnya terhadap Injil di tengah kota Roma dan kota-kota besar dunia, mendeteksi nekrofilia ini bukan hanya sebagai masalah psikologis atau sosiologis, tetapi sebagai krisis spiritual akut.

Ketakutan yang Membawa Maut (Paralisis Jiwa)

Renungan Adven 2024 (1 Desember 2024) mengutip Lukas 21:26 dengan sangat presisi dan profetik:

“Orang akan mati ketakutan… Mudah untuk menyerah dan membiarkan harapan akan dunia baru dan kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain memudar.”[1]

Frasa “mati ketakutan” (faint from terror) sangat relevan. Ketakutan adalah emosi nekrofilik yang paling purba. Ketakutan membuat kita membeku (mati rasa/paralisis). Ketika bangsa-bangsa takut akan masa depan, mereka membangun tembok perbatasan, kawat berduri, dan menumpuk senjata nuklir (alat kematian), bukan membangun jembatan diplomasi (alat kehidupan). Ketakutan membuat kita menutup diri dalam ‘bunker’ ego kita. Dan ingatlah hukum fisika termodinamika yang juga berlaku bagi jiwa: sistem tertutup—yang tidak menerima input energi kasih dari luar—pasti akan mengalami entropi, pembusukan, dan akhirnya kematian. Orang yang takut tidak bisa mencintai; ia hanya bisa bertahan hidup (survive), dan sekadar bertahan bukanlah hidup (living).

Orbit yang Mati: Repetisi Tanpa Kreasi

Renungan Adven 2023 (3 Desember 2023) memberikan gambaran visual yang kuat tentang mekanisme nekrofilia dalam keseharian yang terjebak rutinitas egois:

“Tanpa Natal kita tetap saja dalam keadaan begitu, kita terus berputar di sekitar diri kita sendiri.”[2]

“Berputar di sekitar diri sendiri” adalah gerakan mekanis yang sempurna. Seperti planet mati atau satelit buatan yang mengorbit tanpa tujuan, terjebak dalam gaya gravitasi egonya sendiri. Tidak ada arah tujuan (telos), hanya repetisi. Ini adalah repetisi tanpa kreasi. Fromm menyebutnya sebagai unlived life (hidup yang tidak dijalani). Kebosanan (boredom) adalah tanda vital dari nekrofilia. Orang yang memiliki orientasi biofilia tidak pernah bosan karena kehidupan selalu baru dan menarik. Namun, orang nekrofilik bosan karena ia terputus dari sumber kehidupan, sehingga ia butuh sensasi eksternal yang ekstrem (belanja impulsif, kekerasan, drama, narkoba, pornografi) hanya untuk merasa “hidup” sejenak. Ia butuh kejutan listrik karena nadinya sudah berhenti berdenyut.

Tidur sebagai Kematian Sementara (Anestesi Moral)

Renungan Adven 2022 (27 November 2022) menyerukan dengan lantang, seperti alarm di pagi buta:

“Saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur.”[3]

Dalam tradisi biblis dan mistik, tidur sering kali menjadi metafora kematian rohani. Orang yang “tidur” adalah orang yang tidak sadar (unconscious). Ia mungkin berjalan, berbicara, bekerja, dan membayar pajak, tetapi ia “tidur” terhadap penderitaan sesamanya. Ia “tidur” terhadap ketidakadilan yang terjadi di depan matanya. Ini adalah bentuk anestesi moral. Nekrofilia terselubung membuat kita acuh tak acuh (indifferent). Kita melihat pengemis di lampu merah, tapi tidak melihatnya sebagai manusia; kita hanya melihat “objek” yang mengganggu pemandangan. Kita mendengar berita perang, tapi tidak merasakannya sebagai tragedi saudara kita. Hati yang tertidur adalah hati yang nekrotik.

Terapi Biofilia: Revolusi Kehidupan Sant’Egidio

Melawan arus deras nekrofilia yang mematikan rasa ini, Sant’Egidio menawarkan Revolusi Biofilia. Jika nekrofilia mencintai yang mati, Sant’Egidio mengajak kita mencintai yang hidup, yang tumbuh, yang tidak sempurna, yang kotor, dan yang rentan.

Sentuhan Manusiawi Melawan Mesin

Dalam dunia yang terobsesi dengan virtual reality, metaverse, dan pertemuan daring, Sant’Egidio bersikeras pada Physical Reality dan Personal Encounter. Mengunjungi lansia di panti jompo adalah tindakan biofilik radikal. Lansia sering dianggap “sampah” atau “barang bekas” oleh masyarakat nekrofilik (karena tidak produktif, lambat, dan mendekati kematian). Mereka dibuang ke pinggiran kesadaran kita. Namun, anggota Sant’Egidio datang, duduk, memegang tangan mereka yang keriput, dan mendengarkan cerita masa lalu mereka yang lambat dan berulang. Sentuhan fisik—memegang tangan orang sakit, memeluk orang miskin yang mungkin berbau, mencium pipi sahabat—adalah sakramen kehidupan yang melawan higienitas steril dunia modern. Ini memecahkan kebekuan mekanis. Mesin tidak bisa memeluk dengan hangat. Algoritma tidak bisa menangis karena haru. Layar sentuh (touchscreen) tidak bisa membalas sentuhan kita; hanya kulit manusia yang bisa.

Perdamaian: Menghentikan Mesin Perang

Perang adalah manifestasi tertinggi, terorganisir, dan paling brutal dari nekrofilia. Perang mengubah manusia yang hidup menjadi mayat, kota yang tumbuh menjadi puing, dan harapan menjadi abu. Perang adalah industri kematian. Keterlibatan Sant’Egidio dalam mediasi damai (seperti sejarah perdamaian di Mozambik, dan bantuan kemanusiaan berkelanjutan ke Ukraina yang tercatat di website mereka) adalah upaya konkret menghentikan mesin kematian.[4]

Andrea Riccardi sering mengatakan, “War is the mother of all poverty.” Perang adalah negasi total terhadap kehidupan. Menjadi pembawa damai (peacemaker) berarti menjadi pejuang kehidupan (biophile) yang berani berdiri di depan tank kebencian dan berkata: “Cukup! Kehidupan lebih berharga daripada ideologimu.”

Natal: Perayaan Kelahiran (Biofilia Tertinggi)

Mengapa Sant’Egidio begitu merayakan Natal, bahkan menjadikannya pusat kegiatan tahunan dengan Makan Siang Natal? Karena Natal adalah tentang KELAHIRAN. Kelahiran adalah lawan mutlak dari kematian. Kelahiran adalah sesuatu yang baru, rapuh, tidak terduga, namun penuh potensi tak terbatas. Bayi adalah anti-tesis dari mesin. Bayi butuh dirawat, ia menangis, ia buang air, ia merepotkan, ia tidak efisien—tetapi ia adalah kehidupan itu sendiri. Dalam Makan Siang Natal, kita tidak hanya memberi makan (transfer kalori/mekanis); kita merayakan perjumpaan (jiwa/organis). Kegembiraan yang tulus, tawa yang meledak, dan air mata haru di wajah orang miskin dan sukarelawan adalah bukti kemenangan biofilia atas depresi dan kebosanan modern yang dingin. Di sana, di meja perjamuan itu, tidak ada yang mekanis; semuanya personal, hangat, dan hidup.

Kesimpulan: Pilihlah Kehidupan!

Saudara-Saudariku, Fromm mengajukan pertanyaan ultimatif di akhir analisisnya tentang anatomi manusia: “Apakah kita akan memilih untuk melayani berhala kematian (mesin, negara, ego, efisiensi, properti), atau melayani Tuhan yang hidup?”

Gema Ulangan 30:19 terdengar kembali di telinga kita, melintasi ribuan tahun sejarah: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu diperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.”

Tugas kita minggu ini adalah latihan kewaspadaan spiritual (spiritual vigilance) untuk mendeteksi jejak-jejak nekrofilia dalam diri kita sendiri.

Pertama, audit digital. Apakah saya lebih suka menatap layar smartphone daripada menatap wajah anak atau pasangan saya saat makan malam? Apakah saya lebih mencintai “foto momen” (yang mati/statis) daripada “momen” itu sendiri (yang hidup/mengalir)?

Kedua, audit informasi. Apakah saya tertarik pada berita kekerasan, skandal, dan kehancuran daripada berita harapan dan pembangunan? Apakah saya menikmati rasa marah di media sosial?

Ketiga, audit relasi. Apakah saya memandang alam dan orang lain sebagai “sumber daya” untuk dieksploitasi (mati) atau sebagai “ciptaan” untuk dijaga dan dikasihi (hidup)?

Keempat, audit konflik. Apakah saya menyelesaikan konflik dengan amarah (memutus relasi/destruktif) atau dialog (menyambung relasi/konstruktif)?

Marilah kita menjadi agen-agen Biofilia.

Tanamlah bunga meski Anda tinggal di rumah ataupun apartemen sempit. Sapalah tetangga yang asing. Peluklah sahabat yang sedang sedih. Berdoalah bagi perdamaian dunia. Lawanlah kekosongan hampa budaya populer dengan kehangatan kasih yang nyata. Biarkan nafas Tuhan (Ruah) kembali menghidupkan tanah liat tubuh kita, sehingga kita tidak lagi menjadi mayat hidup yang berjalan, melainkan Manusia yang Hidup Sepenuhnya.

======== Salam dari Borong; salam dari tigakecoa ========


[1]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 01 Desember 2024: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2024-2025.pdf). Tafsir Lukas 21:25-28 menyoroti ketakutan eksistensial yang melumpuhkan daya hidup manusia modern, menciptakan mentalitas bunker yang nekrofilik di mana orang lebih memilih keamanan tembok daripada risiko perjumpaan.

[2]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 03 Desember 2023: Hari Minggu Adven Pertama”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2023-2024.pdf). Kritik tajam terhadap kehidupan yang berpusat pada diri sendiri (self-referential) sebagai bentuk kematian rohani yang mekanis dan repetitif tanpa pertumbuhan, sebuah orbit yang sia-sia tanpa kehadiran “Yang Lain”.

[3]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 27 November 2022: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2022-2023.pdf). Panggilan untuk “bangun” (awakening) adalah tema sentral dalam mistisisme dan psikologi humanistik untuk beralih dari eksistensi otomatis (tidur/mati/tidak sadar) ke eksistensi sadar (jaga/hidup/bertanggung jawab).

[4]Informasi mengenai inisiatif perdamaian dan bantuan kemanusiaan (misalnya “Humanitarian Aid for Ukraine”) diakses dari arsip berita website resmi Sant’Egidio (https://www.santegidio.org/). Keterlibatan aktif dalam daerah konflik dan penolakan terhadap logika perang adalah manifestasi praksis dari prinsip biofilia yang melawan nekrofilia politik dan militerisme.

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *