Politik (dan) Dunia Maya

Politik (dan) Dunia Maya

Mumpung lagi ramai bahasan soal politik, jadi pingin mencoba menulis tentang tema ini. Politik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan). Pengertian politik ini berlaku untuk dunia maya dan dunia nyata.

Dari pengertian ini sepertinya politik hanya soal negara, sistem dan kebijakan pemerintahan serta turunannya. Hal ini kemudian membuat banyak yang berpikir dan merasa bahwa politik hanya urusan mereka yang mengelola negara saja.

Pengertian politik berkembang dan cukup banyak disajikan oleh para ahli.

Membaca beberapa literatur (biar kelihatan lebih kece), politik sebenarnya memiliki banyak pengertian. Merangkum semuanya, menurut saya sih intinya politik itu menyatukan banyak orang dengan banyak kepentingan dalam satu sistem untuk mencapai suatu kondisi yang menyenangkan buat semua orang. Entahlah, tapi secara pribadi saya pikir inilah idealnya politik.

Pengertian sederhana politik untuk kaum awam biasanya adalah pemilihan kepala desa, kepala daerah, anggota legislatif dan presiden. Seperti yang saat ini sedang ramai dimana-mana. Obrolan politik menempati tempat teratas, sulit sekali menemukan teman ngobrol yang bisa bicara topik selain politik dalam waktu lebih dari 15 menit. Segala sesuatu akan selalu dikaitkan dengan politik.

Bahkan ketika sedang bercerita tentang kelompok arisan yang mulai jarang berkumpul, akan ada koment, “Mungkin karena kalian tidak punya pilihan politik yang sama. Sudah dengar kalau caleg A sedang bagi-bagi skin care?” Duhhhhh…

Konsep politik sebenarnya banyak, tetapi yang tersaji ke publik sebagaian besar hanyalah tentang “kekuasaan”; mendapatkan, merebut atau menikmatinya. Yang lain tentangnya seolah tenggelam dan kemudian politik terasa sempit. Pemahaman yang sempit akhirnya membuat politik hanya milik segelintir orang dan biasanya diidentikan dengan orang-orang tua dan serius.

Diskusi-diskusi politik biasanya hanya melibatkan orang-orang yang agak oldish dan serius. Susah menjadi bagian dari diskusi politik jika masih suka cengengesan dan main plesetan kata. Katanya sih hehe. Wajah harus selalu berwibawa dan pilihan diksi juga harus berat, biar kental nuansa berkelas dan “eksklusif”. Saking eksklusifnya, banyak obrolan terkait politik yang membuat para peserta diskusi merasa paling hebat dan menjadi si paling tau, lalu merendahkan orang lain dan kehidupan nyata

Itu gambaran politik jadul, hari sekarang sudah berbeda. Politik hari ini lebih dinamis dan down to earth. Hari sekarang semua orang sudah punya akses yang sama luas untuk dapat informasi terkait politik. Semua orang bisa ngobrol dengan santai tentang politik, tanpa harus merendahkan suara biar terkesan berwibawa. Hahaha.

Tidak lengkap rasanya gempita politik tanpa melibatkan dunia maya.

Sebelum era digital, diskusi politik bisa dibangun sambil ngopi dengan penganan lokal atau pun yang modern, rasanya pas saja. Ngafe atau di rumah saja juga asik, dengan banyak argumen dan kalimat-kalimat keren yang dipadu isu aktual. Terkadang obrolan politik menjadi pemersatu untuk banyak perbedaan ketika dilakukan di area publik, tentu saja dengan tidak menutup kemungkinan untuk pertikaian juga. Hehe.

Nah di era digital ini, dunia maya juga menjadi panggung luas untuk orasi dan diskusi politik.  Seluas-luasnya dunia nyata, tidak mudah untuk berdiskusi dengan orang se-RT kan, paling banter sekelompok doa. Selain akan sulit untuk saling mendengar, tentu saja juga rumit memikirkan tempat berpijak saat diskusi berlangsung.

Dunia maya menawarkan ruang lingkup diskusi dan orasi yang lebih luas, sangat luas malah. Beragam orang dan latar belakang bisa bergabung dan bicara, asalkan rajin menulis; walau ada kemungkinan tidak dibaca juga. Setidaknya isi kepala sudah dikeluarkan, bernas atau sekedarnya pun juga nanti saja dipikirkan.

Politik identik dengan kata dan kalimat; seni meyakinkan melalui rangkaian kalimat (yang harusnya logis dan berdasarkan data). Ketika memasuki dunia maya yang persaingannya lebih luas, butuh lebih dari sekedar kata-kata untuk bisa meyakinkan orang. Berpolitik lewat tulisan harus benar-benar menguasai soal dan menulisnya dengan menarik agar dibaca. Untuk orasi politik dalam bentuk video yang dipublikasikan lewat media sosial juga susah-susah gampang; banyak faktor agar itu tidak menjadi kepingan informasi yang bisa dipakai untuk kepentingan dengan tujuan berbeda.

Ada banyak cara untuk membuat politik lebih terlihat “santai” di dunia maya; stiker, meme, dan emoji contohnya.

Tidak hanya sekedar hiburan semata, meme, emoji, dan stiker juga memiliki peran penting dalam kampanye politik. Semakin banyak ‘like’ dan ‘share’ yang diterima, semakin besar pengaruhnya. Inilah yang membuat dunia maya menjadi tempat strategis untuk memenangkan hati pemilih. Politik di dunia maya tidak hanya soal serius dan tegang dan/atau oldish. Kampanye yang bersifat viral, yang diwarnai dengan meme lucu, emoji, dan stiker kreatif, memiliki daya tarik tersendiri. Dengan sentuhan humor, para politisi dapat mendekati pemilih dengan lebih “gaul”, santai dan memberi kesan mendalam.

Dengan beragam jenis senjata digital yang dikembangkan dari meme, emoji, dan stiker, politik di dunia maya telah menjadi panggung yang penuh dengan tawa dan santai. Dalam pertarungan kata-kata yang seringkali memanas, kehadiran elemen humor ini memberikan warna dan keleluasaan berekspresi. Akan tiba waktunya kita mengingat politik bukan hanya sebagai panggung serius, tetapi juga sebagai panggung di mana senyum dan tawa turut berperan penting. Sebuah dunia maya yang berwarna, penuh emoji tersenyum, dan stiker lucu yang menjadikan politik kita lebih dekat dengan hati pemilih.

Dunia maya akan membawa politik sebagai topik umum yang tidak lagi hanya untuk orang tertentu.

Semua orang bisa terlibat dengan pengetahuan yang sama, dengan gaya khas masing-masing. Yahhhh…tentu saja etika tetap harus menjadi hal utama yang menjadi dasar; baik itu diskusi dan orasi maupun tanggapannya.

Tidak perlu ada fanatisme berlebih yang membuat diskusi menjadi ajang tumbangnya harga diri, apalagi jika kita hanyalah para pendukung dan bukan aktor utamanya.

Selalu ada kompromi dalam politik, demikian yang sering terlihat dan terjadi, kepentingan adalah pemersatu utama dalam dunia ini. Maka baiknya para pemandu sorak dan penonton di pinngir lapangan tak perlu saling mencaci lalu bermusuhan untuk membela mereka yang bertarung. Nikmati saja pertunjukannya, dengar janji dan sumpahnya, pahami juga karakternya. Cocok nikahi, kalau tak cocok kita temenan saja. Hahaha.

Toh pada akhirnya sebagaian dari mereka akan tetap menuju puncak lalu bersama bekerja untuk kepentingan banyak orang (?). Kita tetap akan jadi rakyat jelata yang selalu akan saling kunjung lalu bergosip tentang tukang gorengan yang pake minyak jelantah berlebih; ini bukan diskusi level politikus di TV dongg.

Jadi kenapa harus berlebihan bereaksi tentang politik?

ilustrasi politik (dan) dunia maya

======= Salam dari Borong =======

Komentar