Anak-anak Butuh Mama yang Bahagia

Anak-anak Butuh Mama yang Bahagia

Tugas mama adalah bahagia.
Tugas ayah adalah memfasilitasi kebahagiaan mama.
Tugas anak-anak adalah menikmati kebahagiaan.

Saya pernah menuliskan kalimat-kalimat ini sebagai keterangan gambar untuk salah satu postingan di instagram pribadi saya.
Menjadi seorang mama dengan semua konsekuensinya adalah anugerah luar biasa yang diinginkan setiap perempuan.

Menjadi seorang mama juga bukan tugas yang mudah. Tuntutan tugas menjadi seorang mama cukup berat dan tidak ada jenjang pendidikan yang khusus mempelajari hal ini.

Ketika menjadi seorang mama, banyak sekali kemampuan yang harus dimiliki perempuan. Yang terutama adalah kemampuan untuk selalu bahagia.

Karena anak-anak tidak butuh mama yang cetar, cantik, mempesona setiap saat; mereka hanya butuh mama yang bahagia.

Ketika mama bahagia, anak-anak akan merasakannya dan hal ini akan menular dengan mudah kepada mereka.

Disinilah kemudian kerjasama dalam rumah tangga menjadi penting.

Tentu saja sebagai pribadi, perempuan bertanggung jawab terhadap kebahagiaannya sendiri namun harus diakui bahwa salah satu hal yang membahagiakan seorang perempuan adalah keberadaan pasangan.

Tanggung jawab, keberadaan, dan kebersamaan adalah hal-hal yang biasanya dibagi bersama dalam sebuah rumah tangga; suami dan istri.

Untuk banyak cerita, beberapa perempuan kemudian harus membesarkan dan memberikan kebahagiaan kepada anak-anak tanpa keterlibatan seorang laki-laki.
Banyak yang menjalaninya karena takdir, beberapa melakoninya sebagai pilihan sadar; sebagai orangtua tunggal atau single parent.

Berperan sebagai seorang mama yang harus memfasilitasi kebahagiannya sendiri tanpa harus tergantung pada keberadaan seorang laki-laki.

Ini bukan perkara mudah, bahkan sangat berat.

Seorang ibu tunggal adalah gambaran kekuatan yang sesunguhnya.

Tidak ada hal yang benar-benar tunggal (single) dalam tugas dan tanggung jawabnya membesarkan anak-anak dan memastikan mereka menikmati bahagia.

Seorang perempuan yang harus membesarkan anak-anaknya sendirian biasanya memiliki kekuatan double dan ekstra. Dia harus memiliki empat lengan, empat kaki dan cinta yang double.

Seorang perempuan yang membesarkan anak-anaknya sendirian harus memiliki kekuatan berkali lipat dan ini biasanya adalah mekanisme yang terjadi secara otomatis.

Lingkungan sosial kita masih memiliki persepsi bahwa kehormatan perempuan tergantung ada atau tidaknya lelaki dalam rumah tangga.

Hal ini kemudian berpengarauh pada bagaimana mereka melihat seorang perempuan yang membesarkan anak-anaknya sendirian.

Pandangan miring adalah hal yang paling sering bikin miris.

Banyak perempuan yang sukses membesarkan dan mendidik anak-anaknya walaupun tanpa peran seorang suami, bahkan diusia muda.

Mereka menunjukan kekuatan luar biasa untuk bertahan dan berdiri tegar.

Menghadapi kesendirian tentu saja berat. Menghadapi kenyataan dan tanggung jawab untuk membahagiakan anak-anak juga tidaklah mudah.

Apalagi ditambah dengan menghadapi tekanan sosial.
Ketika seorang perempuan menjadi single parent, banyak hal negatif yang disematkan kepadanya.

Mungkin memang tidak diutarakan tetapi masih selalu ada orang berpendapat bahwa perempuan tidak dapat menjalani kehidupan dengan sempurna tanpa seorang lelaki.
Pandangan seperti ini adalah dasar yang kemudian memberikan label-label “aneh” kepada seorang single mom.

Tetapi banyak perempuan yang berhasil melaluinya dengan kelemahlembutannya, dengan ketegarannya dan dengan cinta yang luar biasa.

Banyak perempuan yang memilih memfasilitasi kebahagiannnya sendiri dan sukses menjadi seorang mama sekaligus bapak untuk anak-anak.

Tidak ada yang salah dengan kesendirian seorang perempuan terutama dalam membesarkan anak-anaknya.

Pikiran sosialah yang kemudian melahirkan persepsi dan membuat beberapa hal menjadi rumit bahkan salah menurut mereka.

Ada tiga hal yang dapat dipelajari orang dewasa dari anak-anak kata Coelho, yaitu merasa bahagia tanpa alasan, selalu sibuk dan ada saja yang dikerjakan; dan bagaimana menuntut sekuat tenaga agar keinginannya dikabulkan.

Seorang ibu tunggal saya pikir juga belajar banyak dari anak-anaknya, terutama untuk tiga hal ini.

Kita semua adalah anak-anak dari ibu yang luar biasa.

Maka kita semua berhak untuk merayakan Hari Anak Nasional.
Selamat Hari Anak Nasional untuk semua mama single parent, rayakan sisi anak-anakmu sesekali dengan pelukan semesta.
I adore you all.

Salam dari Borong

5 Comments

  1. HERMINA SILVANI RANDUT

    Luar biasa dengan mengulas hal- hal begini, semoga dari sekian banyak yang membaca ini bisa membuka cakrawala berpikir tentang para wanita, terutama yang terus berjalan sendiri membesarkan dan mendidik anak2nya dengan penuh cinta, terus menumbuhkan rasa bahagia dengan caranya sendiri, sebab semua wanita berhak bahagia, salam bahagia buat para wanita Indonesia umumnya dan para wanita Manggarai khususnya

  2. Sariman

    Saya setuju tulisan ini….tapi jg sedih dg anak2 saya yg sejak kecil tumbuh dg mama yg mungkin kurang bahagia (itu asumsi saya,dan berharap saya salah)..sejak kecil bahkan sebagian besar masa pertumbuhan mereka hy bisa melihat mamanya terbaring di tempat tidur…tumor otak memaksa mamanya lbh banyak beraktivitas di tempat tidur…sejak sulung berusia 3 THN sampai skrg berusia mendekati 17 THN (September 2022)… RS besar tipe A sdh kita datangi sampai berbagai alternatif… saya slalu bangga dg mereka yg tetap berprestasi dan seperti dewasa sblm waktunya…..apapun kondisinya anak2 harus menikmati kebahagian..

  3. Sariman

    Saya suka semua tulisanmu jeanny,gaya bahasanya enak tp sarat makna….adik kelas paling cetar….sy hadir waktu kamu 17 THN…masih ingat yg MC teman saya dokter Yoan..karya dan tulisan mu slalu di tunggu….salam sehat buat semua

Komentar