Maaf Jika Syukurku Kurang

Maaf Jika Syukurku Kurang

Foto: Frido Beo

Maaf jika syukurku kurang. Banyaknya cinta yang setiap hari aku rasakan seharusnya membuatku sibuk menghitung berkat dari-Mu. Bukannya malah riuh berkeluh tentang jalan hidup yang menurutku  tidak rapi. Seharusnya bisa melihat banyaknya jalan berlubang yang dilalui saudaraku yang lain. Berpikir seolah ceritaku hidupku paling rumit, tanpa mau sedikit menoleh melihat hidup berantakan di ruang sebelah. Meratapi hal remeh pada tubuh yang kurang apik, berpaling dari saudara yang bahkan punya fisik tak lengkap.

Maaf jika syukurku kurang

Berlomba setiap hari mengejar entah apa, lupa meluangkan waktu untuk diam, berlutut dan bersujud sejenak melepas penat. Mengeluh lelah senantiasa tentang kehidupan, lupa bersyukur bisa sampai sejauh ini. Berlari dan sembunyi entah soal apa, kurang yakin tentang pelukan yang selalu tersedia sejauh doa. Pongah mendongak merasa bisa, tak malu dengan indahnya bulan dalam hening malam. Tidak banyak yang diberkati sebanyak Kau memberkatiku. Mencintaiku sebesar ini, kadang sampai merasa tak pantas.

Maaf jika syukurku kurang

Menikmati kicau burung dan mentari pagi dengan udara yang masih leluasa keluar masuk paru adalah kemewahan yang kuterima tanpa sadar; setiap hari. Kemana syukur itu pergi? Menggerutu tentang ternak tetangga yang berisik merusak taman, lupa bersyukur masih bisa melihat dan mendengar mereka berkepak di halaman. Bahkan lupa berterima kasih untuk sapaan pagi dari tetangga yang lewat depan rumah. Fokus dan riuh tentang siang yang terik, alpa bersyukur tentang cucian yang kering sempurna dan beras yang masih cukup untuk makan sebulan.

Dear God

Maaf jika syukurku kurang

Untuk banyak cinta dalam hidup, seharusnya cukup untuk senantiasa bersujud dan memuja-Mu. Lagu-lagu cinta dicipta untuk dinyanyikan, lamban sekali kepala sekedar bergoyang menikmati  dan bersyukur masih bisa memaknainya. Setelah semua yang boleh dilewati, seharusnya tau kemana harus pergi dan bersandar ketika lelah. Setelah lelah yang akhirnya terbayar dengan tawa, sepatutnya mengenal diri lebih jauh untuk tau kemana harus melangkah. Halaman demi halaman yang sudah selesai sewajarnya menjadi buku penuh cerita bersampul cinta.

Maaf jika syukurku kurang.

Salam dari Borong

2 Comments

Komentar