Perempuan  &  Ekonomi Kreatif

Perempuan  &  Ekonomi Kreatif

Pada saat bersamaan kaum hawa bisa menjadi produsen, bintang iklan dan konsumen. Itulah lingkaran dalam ekonomi. 

Saya gemar memakai kuteks, bukan kuteks seadanya  warna pada kuku. Kuteks favorit saya adalah kuteks artistic bergambar jepun (bunga kamboja) atau bunga kembang sepatu khas Bali. Mengapa khas Bali? Satu karena biasanya saya nguteks  pas ke Bali. Kedua, kalaupun coba membuatnya sendiri di rumah, kampung atau tempat lain gambarnya pasti beda, minimal beda nuansa dan kehalusan.  Kalau kita bertemu dan Anda melirik kuku- kuku saya berwarna warni dengan lukisan jepun atau kembang sepatu dipastikan saya baru saja pulang dari Bali.

Selain kuteks saya juga sangat menikmati spa di Bali (segala jenis, creambath atau kepang rambut). Bukannya tak suka hal serupa di tempat lain tetapi koq spa di Bali beda ya rasanya. Betul, ini pendapat subyektif, mungkin karena faktor atmosfir wisata Bali  yang bikin perasaan berbeda.   Saya pernah coba salah satu yang terbaik di Solo, di Yogya juga kerap pijat refleksi.  Waktu di Solo saya bilang mau ke bla bla Royal Spa, si sopir taksi balik berta nya dengan nada dan ekspresi kurang empuk begini : ‘yang tukang pijat itu ya? Lalu ada pertanyaan lanjutan yang gimana gitu konotasinya.

Ke spa di Bali apalagi di pusat wisata dianggap biasa saja.

Orang-orang  juga santai aja bahkan terkesan cuek bebek santai ria masuk spa. Ada yang berkostum formal rapi, ada yang cuma pakai kain sepotong usai berjemur di pantai, ada yang beraroma biasa, ada yang beraroma parah hehe.  Pengalaman saya sih semua pengunjung dengan jenis tampilannya dianggap biasa (tidak ada yang suitin atau menggoda) dan disambut dengan hospitality yang sama.  Mungkin karena warga sekitar sudah terbiasa dengan produk-produk wisata seperti itu.

Saya punya tempat favorit di sekitar Sanur. Letaknya di depan dan di samping penginapan tempat kami biasa numpang.  Harganya terjangkau (lebih murah dari spa di Kuta). Saya biasanya membayar berkisar Rp 60 ribu  hingga 90 ribuan). Selain itu kayaknya saya sudah familiar dengan tata cara layanan mereka (mungkin manajemennya sama bertahun-tahun). Di Kuta biasanya main tebak-tebakan, asal dekat dan terjangkau harganya. Special spa tour enaknya  dilakoni  di Ubud. Segala jenis layanan murah, agak mahal dan mahal ada di sana. Jika keinginannya untuk mempelajari manajemen spa, Ubud tempat yang direkomendasikan.

Mengapa begitu tertarik pada spa? Mengapa saya mewajibkan diri untuk ke spa meskipun waktu  dan dompet mepet dan juga harus mengorbankan hal lain? Apakah saya sedemikian fashionable sampai-sampai mengurutkan relaksasi spa pada nomor urut atas? Lebih serius lagi; apa kaitannya dengan refleksi Hari Kartini?  Apakah saya tipe perempuan yang merayakan hari kartini dengan cara berkebaya  dan ber-make up tebal?

Sejujurnya, saya tidak menganggap remeh kebiasaan berkebaya (representasi dari fashion) pada hari Kartini.  Itu bagian dari cara berekspresi, dan selera popular nan manusiawi bagi sebagian dari kita. Berekpresi dengan cara berkebaya juga  menyentuh aspek budaya yang mudah dicerna masyarakat kebanyakan. Lebih dari sekedar simbol-simbol fisik seperti berpakaian ala ibu Kartini, ada juga  warisan dari Sang Pahlawan mengenai makna relasi dan empati antar sesama perempuan.  Perempuan menolong perempuan merupakan salah satu dari nilai ajaran Kartini.  Saling membantu tentu saja dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan dan berempati.  Sebagai seorang perempuan yang mengerti rasanya berjuang di lingkungan patriarkat, saya beruntung mendapatkan bagian cerita perempuan lain termasuk perempuan pekerja spa. Beberapa kisah saya yang sangat  personal dan  sudah berlangsung bertahun-tahun selalu mengingatkan saya untuk menghargai pilihan karya, peran dan sudut pandang perempuan lain. Ada kenikmatan  yang melebihi kesanggupan saya mengekspresikannya yang membuat saya jatuh cinta pada kuteks dan spa Bali.

Dalam setiap kesempatan, seketat apapun peraturan spa membatasi obrolan antara pelayan dengan costumer tetap saja ada obrolan (sekali lagi pengalaman saya) yang akrab  antar perempuan: yang melayani dan yang dilayani.

Ruang massage hening dan wangi.

Biasanya terdengar instrument pelan dan merdu, cahaya redup romantis serta tempat tidur atau tempat duduk yang nyaman.  Obrolan dimulai dengan pertanyaan: Gimana bu; tekanan segini cukup ? Terlalu keras atau kurang keras? Lalu perlahan disambung dengan sangat diplomatis tentang berapa lama di Bali, sudah ke mana saja? Jika direspon, bisa jadi obrolan yang lebih interaktif akan terjadi. Nama, asal, dan berkembang biak jadi sharing tentang keluarga.

Di tempat nguteks satunya lagi saya tidak risih lagi diceletukin : “Aduhh badannya tanpa lemak ya?” Atau rambutnya keriting, dari Timor ya?  Suaminya kerja di mana? Labuan Bajo itu sebelah mananya Ambon? Saya sih berusaha untuk sensi  dengan pertanyaan seperti itu. Anggap saja kita sedang mempelajari sesuatu perihal model komunikasi dengan mereka.   Sumber daya manusia dan manajemen pengelolaan usaha spa itu memang berwarna-warni. Jika mood sedang tidak bagus, capek atau tidak ingin ngobrol apalagi masalah pribadi, tinggal bilang saja; “Mba/Bu, saya lagi malas ngobrol nih!” Atau “Kita ngobrol hal-hal umum saja ya? Kalau punya duit lebih bisa memilih spa yang lebih  ‘elite’ yang jarang menyentuh privasi customer

Pekerja spa sejauh ini kebanyakan perempuan; baik itu pemilik, manajer dan karyawan. Sesekali ada pekerja pria. Meskipun ada pekerja pria dengan layanan sopan yang standar, saya sendiri tetap lebih memilih  dilayani pekerja perempuan. Tentang para perempuan pekerja spa, gambaran umumnya sama; mereka adalah perempuan penyokong ekonomi keluarga. Ada yang saling membantu berkerja dengan suaminya, tidak sedikit yang menjadi pencari nafkah utama dan tunggal bagi keluarga.

Sesekali saya mendapatkan cerita (versi si pekerja) bahwa secara fisik  suami-suami mereka sehat walafiat  tetapi perilakunya kurang  sportif sebagai kepala rumah tangga. Ada yang memang suaminya sakit, ada yang cerai dan sebagainya. Di kawasan Kartika Plaza Kuta saya banyak  kali ngobrol dengan perempuan pekerja yang masih belia. Sering sekali  saya dilayani  gadis-gadis yang dari segi usia tidak begitu jauh dari anak sulung saya. Kategori cerita mereka mirip-mirip.  Pendidikan formal mereka seputar lulusan SD, SMP, dan sesekali SMA. Ada yang  ikut kursus spa kurang lebih 3 bulan atau langsung belajar di tempat spa. Mereka menjadi tulang punggung kehidupan keluarga di Jawa (Timur), Lombok atau di kampung di Bali. Pernah juga saya berhadapan dengan pekerja spa asal Ende Flores.

Seorang gadis pernah bercerita tentang bagaimana seusai SMP dia bekerja di pabrik sandal di Jakarta.

Katanya  ekonomi di kampung/keluarganya tidak buruk-buruk amat sampai kemudian keluarganya bangkrut karena ayahnya selingkuh, punya istri baru dan menghabiskan harta keluarga. Perilaku serupa diikuti saudara lelakinya. Jadi dalam keluarga, para perempuan baik yang tua maupun muda harus melakoni tugas melanjutkan hidup seluruh keluarga dan tak jarang  menjadi obyek perasan.

Tidak semua cerita setragis itu. Ada juga yang berasal dari keluarga baik-baik namun memang harus berjuang membiayai anak yang masih kecil, membantu biaya sekolah saudara/i atau ipar dan tentu saja kehidupan sendiri.  Mereka bertahan kerja di spa karena (selain tidak ada pilihan lain) mereka telah berusaha menikmatinya. Hanya sedikit (yang saya tahu) mengutarakan bahwa mereka bekerja di spa karena memang sejak awal itulah cita-cita mereka (dalam pencarian minat bakat di sekolah jarang saya dengar guru memberikan contoh profesi pekerja spa). Pengecualian untuk pemilik dan manajer, para pekerja memilih kerja di spa karena itulah pekerjaan yang mereka temukan dan lalu menjadi keahlian mereka.

Warna  yang agak berbeda di Ubud, sebagian anak gadis mengenal spa karena familiar dengan lingkungannya. Juga tersedianya fasilitas pendidikan spa dekat rumah dan ketularan cinta spa karena keluarganya banyak yang bekerja di spa. Jarang saya dengar cerita sangat getir seperti saya dengar di Kuta, Sanur, dan Nusa Lemogan. Gadis-gadis dan ibu-ibu  bekerja di spa terlihat lebih menganggap itu sebagai suatu yang biasa saja, sama seperti pekerjaan lain. Materi obrolan dengan pekerja spa pun standard dan umum-umum saja; anak yang sekolah, keluarga, urusan adat, macam-macam tamu dan sebagainya.

Kebutuhan akan pekerja spa di Bali yang tinggi dan biaya kursus yang tidak semahal pendidikan formal memberi kondisi ruang kepada sejumlah perempuan  untuk berkarir di luar rumah. Mengapa perempuan? Kemungkinan sudut pandang tentang spa itu terkait dengan kehidupan perempuan. Sekali lagi, di zaman now pun  jumlah pekerja spa laki-laki masih belum sebanding dengan pekerja spa perempuan.

Lepas dari beragam latar pribadi para pekerja spa, jelas para pekerja tersebut (yang kebanyakan perempuan) memiliki peran ekonomis yang kuat bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Mereka adalah pelaku ekonomi kreatif, alat produksi, otak intelektual dari sumber ekonomi masyarakat.  Berbeda dengan para pekerja, costumer spa yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan relatif lebih imbang. Produk spa juga semakin beragam dan lanjutannya menghasilkan pabrik-pabrik alat dan bahan spa, arsitektur spa, jamu-jamuan yang efek ekonomisnya tidak  bisa dibilang kecil.   

Akhir-akhir ini, selain studio yoga, saya juga mengimpikan punya usaha spa (yang modelnya seperti di Ubud). Saya tidak pandai membuat orang cakep, tidak berbakat merias, pijatan juga tidak pernah enak. Paling bisa saya membuat macam-macam minuman tradisional seperti jahe hangat, jamu-jamuan , infused water (air minum dengan rendaman potongan buah atau beberapa jenis sayuran) dan sejenisnya. Entahlah, tetapi dari catatan harian saya saya merasa bahwa di dunia yang mempertemukan wanita dengan wanita secara intens akan tumbuh semangat ekonomi kreatif dan paling menularkan sudut pandang positif  manusiawi yang membantu orang hidup lebih bahagia.

Sebuah kisah pribadi  khusus mengakhiri sesi tentang perempuan pekerja spa versi pengalaman saya.

Tahun 2012 sore hari saya berjalan dari hotel ke arah pantai Sanur Bali. Tidak tahu mau ngapain, agak galau juga oleh karena suatu sebab. Pikiran dan perasaan saya masih sibuk dengan persoalan pribadi. Seorang ibu (sepintas nampak berumur, namun setelah lama ditatap usianya masih lebih muda dari saya) menawarkan jasa kepang rambut dan kuteks. Biasanya yang agresif begini aku hindari. Malas nanti harganya berubah-ubah dan banyak keponya lagi. Namun kali ini saya iyakan saja. Bahkan saya mengajaknya ke hotel.

Kaki saya dipijat. Pijat refleksi. Lama-lama ngobrol juga dan semakin seru. Saya hanya bertanya umur berapa putrinya, dan ternyata jawabannya menjadi panjang dan detail. Ia bercerita tentang pekerjaannya. Awal mulanya ia mempunyai usaha laundry yang berkembang baik. Ia, suami dan  puterinya tinggal di rumah sewaan yang layak; sampai sebuah  tragedi  terjadi. Suaminya mulai gemar berjudi dan menjual satu per satu yang dimiliki. Tragedi puncak saat suaminya memperkenalkan perempuan lain yang sudah hamil.  Untuk mengalihkan situasi anak mereka dititipkan di rumah nenek di kampung. Yang ia lakukan adalah memaafkan situasi dan mulai bekerja lagi. Meskipun berpisah dengan suaminya sesekali ia masih main membawa anaknya mengunjungi keluarga mantan suaminya. Ketika bertemu dengan anak madunya ia masih mengajarkan anaknya untuk berbagi jajanan meski masih dipandang negatif oleh madunya. Beberapa minggu sebelum ia bertemu denganku mantan suaminya meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Kami ngobrol hingga saatnya makan malam. Layaknya sahabat lama saya mengajaknya makan malam. Ia agak grogi, meskipun bekerja di kawasan wisata ia belum pernah makan di restaurant atau hotel. Tidak apa-apa saya agak membujuknya dan kami pun makan malam bersama.

Dua tahun setelahnya saya tidak ingat lagi wanita itu. Masih suka nginap di hotel yang sama, hanya kurang lebih 100 menter dari pantai Sanur, sore itu saya jalan lagi ke arah pantai dengan perasaan yang baik. Dekat penjual jagung bakar seseorang berseru ke arahku: “Ibu…ibu!”. Tentu saja saya tidak merespon, emangnya siapa yang kenal saya di sini? Ternyata memang saya lah yang dimaksud dengan panggilan ‘ibu’ tadi.  Saya masih lupa. Perempuan itu berjalan dengan dua perempuan lain dan tanpa ragu ia memperkenalkan saya : “Ini lho, ibu yang pernah membelikan saya makan malam!” Ia lalu membantu mengingatkan saya. Saya tersentuh dan merasa bahwa saya memang  sedang bertemu kawan lama.

Perempuan pekerja tenun.

Bagian berikut masih tentang pekerja perempuan di bidang yang masih kategori fashion dan gaya hidup. Perempuan penghasil sandang yang tidak kalah tangguh dengan perempuan pekerja spa.

Selain pakai kuteks, saya juga doyan pakai baju bagus. Favorit saya adalah  aneka kain tradisional Indonesia yang kerap dioleh-olehin suami saat kembali dari tour nya. Saya suka batik, kain Sumatra, kain Toraja, tenunan Lombok dan Sumbawa dan terutama tenun ikat Nusa Tenggara Timur.  Bukan saja karena kain-kain itu bagus tetapi juga saya menyukai cerita dibalik kain-kain itu. Suami saya yang adalah seorang tour organizer dan  tour guide kerap pergi ke berbagai tempat, menceritakan berbagai budaya dan alam. Tidak terkecuali cerita tentang kain-kain itu. Saya menyukainya.

Saya juga pernah melihat proses membantik meskipun hanya dua kali. Melihat canting, kompor kecil tempat lilin dicairkan dan tangan-tangan yang menorehkan lukisan di atas kain membuat  saya terkagum-kagum. Saya juga suka terharu campur kagum campur bangga ketika duduk di samping atau berhadapan dengan penenun di Manggarai, Ngadha dan penenun lainnya di Nusa Tenggara (Timor, Flores, Sumbawa dan Lombok) . Dari cerita suami dan pengalaman saya sendiri kebanyakan kain-kain itu dihasilkan oleh tangan perempuan. Peran lelaki secara umum adalah di ladang kapas  dan urusan tanaman pewarna serta pemasaran.  Perempuan masuk di semua lini mulai dari ladang (kapas dan bahan pewarna alam), proses menghasilkan benang, menenun hingga menjual.

Kami tinggal di Flores, sebuah pulau dengan eksotis  karena perpaduan alam dan budayanya yang khas. Di sepanjang Flores, kain adat adalah contoh harta penting dalam sebuah rumah tangga.  Orang Manggarai menenun kain songke (bukan songket). Umumnya berwarna dasar hitam diberi motif yang terinspirasi dari bunga-bunga kopi atau unsur alam lainnya. Konon dulu bahan dan pewarnanya semuanya dari alam namun sekarang semuanya memakai produk pabrik. Makin ke timur pulau Flores, tenunan makin serius. Ngadha dan Nagekeo memiliki tenunannya sendiri (warna, motif dan makna). Ende, Sikka dan Flores Timur tenun ikatnya sangat termasyur. Daratan Timor, Pulau Alor dan Sumba memiliki tenunan yang sangat indah motif dan warnanya.

Umumnya para pekerja tenun adalah perempuan.

Ada seorang ibu, bertahun-tahun menjadi tetangga (bahkan berelasi bagai keluarga dengan) kami sebelum pindah rumah tahun lalu. Beliau memiliki lima orang anak dengan suami seorang penambang pasir. Anak-anaknya bersekolah di sekolah yang baik dengan prestasi yang baik pula. Bagaimana mengatasi masalah ekonomi untuk anggota keluarga sebanyak itu? Si ibu rupanya sudah mengenal tenun menenun sejak masih belia di kampungnya. Ia menenun sambil mengurus dapur dan mengawasi anak-anaknya yang masih kecil. Kain hasil tenunannya bagus dan sering dibeli orang (dikenal dari mulut ke mulut).

Kami juga mengenal dan berinteraksi dengan beberapa penenun (perempuan) di beberapa kampung di Manggarai termasuk kampung wisata Tado dan Wae  Rebo. Selain menghasilkan uang yang sangat berarti untuk keluarga, para perempuan ini dengan bangga memandang diri sebagai pelestari budayanya. Kain dan sandang  hasil tenunnya menggambarkan banyak hal selain sebagai penutup badan. Ia mencerminkan martabat, nilai yang dianut, kasih sayang, dan citra diri positif.

Di Ngadha dan Nagekeo perempuan penenun lebih mudah ditemukan dibanding Manggarai. Jika ke kampung Bena, Gurusina dan kampung-kampung lain, adalah pemandangan biasa melihat ibu-ibu muda dan tua atau gadis-gadis memintal benang dan menenunnya. Karya-karya mereka dikenakan baik dalam keseharian maupun  upacara adat. Selain itu juga dipajang di pasar-pasar atau beranda kampung untuk dijajakan. Saya selalu kagum pada cara kerja, daya tahan fisik, ketekunan, dan seni yang terpancar nyata di kain tenunan.

Di Ende kita bisa mampir melihat dan berbelanja tenunan karya para perempuan tangguh di desa Wolotopo, Moni, Ndona, Wologai, Saga, Jopu dan kampung-kampung lainnya. Berinteraksi dengan mereka juga menyenangkan apalagi sambil snacking  sirih pinang.

Tenunan Sikka juga sangat saya kagumi. Warna dan motifnya sangat menawan. Kunjungan khusus untuk melihat proses tenun adalah di desa Sika, Watublapi, Dokar dan kampung-kampung lainnya. Tidak hanya memproduksi, para perempuan-perempuan di kawasan tenun ini juga mengenakan kainnya dengan bangga dan nampak sangat elegan di mata saya.

Suami saya juga sangat  ekspresif menceritakan cara kerja penenun di Sumba (Timur, Barat dan Barat Daya) yang dasyat filosofi dan keindahannya, termasuk nuansa di sekitarannya. Saya selalu terkesima. Oleh-oleh kain menjadi semakin berharga. Jika suamiku melakukan perjalanan yang lebih jauh di tanah air,  seperti  ke Toraja, Batak, Sunda atau Sasak, kain juga menjadi oleh-oleh favorit  saya included dengan cerita-ceritanya.

Benang merahnya adalah ada banyak kartini dan pahlawan di sekitar kita. Banyak di antaranya perempuan.

Sebagai perempuan yang tidak berbeda dengan perempuan kebanyakan saya mengambil nikmat dari fashion, dan life style. Bergaya: to express and sometimes to impress. Begaya untuk ekspresi diri, juga sesekali untuk memberi kesan baik termasuk selipan unsur pamer (hehehe kan tulisan ini jujur). Menjadi konsisten bergaya dengan kuteks Bali, kain batik, kain Toraja dan terutama tenun ikat NTT karena sebenarnya di balik semua itu saya mendapatkan permenungan tentang peran para perempuan  di bidang ekonomi kreatif. Pada saat bersamaan kaum hawa bisa menjadi produsen, bintang iklan dan konsumen. Itulah lingkaran dalam ekonomi. 

Segala sesuatu terjadi bukannya tanpa alasan. Saya memang hanya mereka-reka, tetapi ada beberapa hal yang menjadi karakter atau sekedar stereotype pada perempuan kebanyakan, sebetulnya memiliki peran penting dalam lingkaran proses  ekonomi kreatif.  Kadang-kadang ada pandangan negatif dan agak kurang intelek  terhadap dunia pergayaan di hidup perempuan. Bisa saja itu benar bisa juga itu tidak benar atau tidak selalu benar.

Jauh di detail hidup sehari-hari perempuan manapun di dunia  memiliki perasaan dan selera yang mirip. Adapun ekspresi  terlihat berbeda-beda dikarenakan faktor lingkungan budaya tempat si perempuan menimba inspirasi. Perempuan adalah pejuang, perempuan adalah dekorasi kehidupan, perempuan adalah rekan sekerja pria, perempuan adalah rahim, perempuan adalah model.

Benang merahnya adalah ada banyak kartini dan pahlawan di sekitar kita. Banyak di antaranya perempuan.

Salam dari Borong

Tulisan ini milik kak Lila Jehaun dengan judul asli “Kuteks, Baju Bagus, Pekerja Wanita dan Ekonomi Kreatif”; yang ditulis sebagai bagian dari refleksi Hari Kartini. Diturunkan disini untuk Hari Perempuan Internasional 2022.

Komentar