Aku akan Tetap di Sini

Aku akan Tetap di Sini

Nanga Lok
NangaLok, 25 Oktober 2022

“Aku tahu cepat atau lambat kau akan meninggalkanku; tapi aku mohon izinkan aku bersamamu beberapa waktu lagi.”

Ini adalah kalimat yang kau ucapkan ketika aku memutuskan mundur waktu itu.

Saat itu aku yakin semua sudah harus berakhir. Susah sekali menemukan alasan untuk tertawa bersama lagi. Menangis bersamamu juga akhirnya bukan pilihanku. Waktu itu aku hanya ingin pergi; menikmati hari dan perjalanan sembari melihat semuanya lagi.

Bukan untuk menemukan alasan dari banyak kenapa, tetapi lebih pada menikmati semua luka. Aku selalu percaya tentang menikmati luka akan membuat nyerinya perlahan hilang.

Aku pernah sangat mencintaimu.

Jadi ingat saat awal kita bertemu, jatuh cinta lalu memutuskan berjalan bersama. Kau adalah fantasi liarku yang menjadi kenyataan.

“Kau adalah obat untuk banyak luka di hati dan jiwaku,”  ini adalah salah satu kalimat favoritku dari banyaknya kalimat yang sering kau ucapkan….dulu.

“Aih…gombal,” jawabku dengan raut sumringah yang susah untuk kututupi. Aku suka kalimatmu itu, demi apapun.

“Sungguh, menemukanmu adalah kenyataan dari mimpi-mimpi indahku dear.”

Dan aku selalu ingin mendengar kau mengatakan ini.

Menikmati lengket keringat dikulitmu adalah butuhku dan menikmati wajahku ketika menulis adalah aktivitas favoritmu. Masihkah kau merasakan sensasi indah dari hangatnya ciuman kita?

Aku masih….

Kita pernah punya banyak cerita untuk dibagi. Setiap detik waktu adalah cerita yang indah untuk didengar terutama saat senja; waktu kita duduk berdua menikmati kopi dan mengakhiri hari.

Waktu itu sakit maaghmu bukan halangan untuk sajian kopi dan ceritaku, walau kadang aku selingi dengan minuman herbal. Alasannya sederhana, agar sakitmu tak menyela waktu kita bercerita.

Sejalan seiring kita putuskan untuk bersama menikmati waktu, yakin bahwa masing-masing telah menemukan pelabuhan akhir.

Awal cerita yang menggebu dan kekurangan waktu, akhirnya pun  mulai dibumbui kebosanan.

Waktu kenapa selalu menjadi musuh dalam perjalanan ya?

“Kenapa susah sekali sekali menemukan waktu untuk bisa bercerita lagi?” sekali waktu aku pernah bertanya.

“Mau dengar cerita apa lagi, semua masih seperti kemarin. Toh kita tidak kemana-mana juga,” ketus jawabmu membuat ku berhenti merangkai kalimat tanya selanjutnya.

“Apakah kau tak mau cerita tentang panjang hari ini dear?” kadang kau bertanya dengan ceria.

Aku menunduk sedih ketika tak menemukan kalimat untuk mulai bercerita. Seolah tak lagi ada hal menarik yang bisa diceritakan ketika perjalanan tak lagi bersama.

Kita masih kemana-mana bersama. Pertemanan kita juga masih mereka yang sama ketika kita pertama kali jatuh cinta. Kita masih merangkai harapan yang sama dalam perjalanan dan hari-hari kita.

Kau masih teman ngopi favoritku

Aku juga masih menjadi pemandangan favorit yang ingin kau nikmati setiap hari.

Tetapi kenapa beberapa bagian terasa kosong?

Ruang apakah yang tidak terisi itu?

Sejahat itukah waktu mengambil semua pijar hangat itu dari percakapan kita?

Fantasi liar yang kita banggakan tidak lagi sehangat kemarin.

Cerita saat senja terasa kosong dan membosankan.

Kita mulai berusaha mencari teman untuk menemani kopi sore kita. Ruang tamu terasa terlalu luas hanya untuk cerita kita yang mulai datar.

Ah….apakah cinta yang jatuh itu tetap tergeletak di tanah tanpa kita berusaha mengambilnya untuk digenggam bersama?

Kenapa cinta itu harus jatuh?

Seharusnya dia terbang saja, setidaknya ketika waktu ingin mengambilnya dari kita dia tak membusuk bersama cacing tetapi bersinar diantara bintang.

Baiklah…aku memutuskan untuk berhenti saja.

Teruskan perjalananmu, aku akan disini menunggumu lelah dan melihatku lagi.

Jika pun kau putuskan untuk terus berjalan, itu adalah sedihku saja. Bukan bebanmu.

“Aku tahu cepat atau lambat kau akan meninggalkanku; tapi aku mohon izinkan aku bersamamu beberapa waktu lagi.”

Kali ini aku putuskan untuk tidak meninggalkanmu. Aku melepasmu berjalan dan keluar dari cerita ini. Kau tetap terindahku walau tangan tak lagi menggenggam seerat dulu.

Semoga aku tetap favoritmu, tempat yang akan kau datangi ketika lelah menghampiri jalanmu.

………. Salam dari Borong ……….

2 Comments

Komentar