Adakah Natal di Rumah Kita?

Adakah Natal di Rumah Kita?

Hiruk pikuk menjelang Natal itu suasananya khas sekali. Dari dapur sampai ruang keluarga dan halaman rumah berbenah dengan sukacita dan suasana khas Natal. Percakapan di meja makan sampai dengan yang dilakukan di halaman rumah tetangga juga bertema hijau dan merah; warna khas Natal.

Suasana ini juga terasa kental sekali di dalam rumah keluarga Bapak Herman. Seperti suasana rumah dan keluarga lainnya yang merayakan Natal, semua orang di dalam rumah sibuk mempersiapkan “pesta” Natal.

Sejak minggu kedua bulan Desember, Mama Meri- istri dari Bapak Herman- sudah mulai nyicil membuat kue yang akan disuguhkan untuk para tamu. Pak Herman tidak kalah sibuknya; dia membersihkan halaman dan memastikan semua kebutuhan pesta Natal tersedia dalam kondisi yang siap pakai. Mobil dicek kondisinya agar malam Natal bisa dipakai ke gereja tanpa harus kehabisan bensin atau mengalami kerusakan yang tidak perlu. Halaman harus bersih dan rapi, karena kebiasaan keluarga besar saat Natal adalah ngobrol di halaman  rumah yang teduh dan asri.

Keluarga Pak Herman memiliki tiga orang anak yang sehat dan ceria.

Mereka adalah Natan, Angela dan si bungsu Rafael. Dibesarkan dengan makanan dan kasih sayang cukup di dalam rumah yang nyaman membuat anak-anak tumbuh dan berkembang dengan bahagia.

Natan, Angela dan Rafael adalah anak-anak yang menunggu Natal dalam kebahagiaan dan suasana khas yang sudah berlangsung sejak mereka kecil. Aroma kue Natal dari dapur mama dan tentangga, kesibukan menghiasi pohon Natal dan halaman rumah serta mendapatkan baju baru merupakan hal biasa bagi mereka menjelang Natal.

Tradisi membeli baju baru adalah tradisi yang paling disukai dan dinantikan oleh anak-anak. Misa Natal dengan baju yang tentunya sesuai dengan mode terbaru yang ditampilkan di banyak iklan media. Untuk orang dewasa, ada trik khusus untuk baju Natal baru. Karena selalu ada kemungkinan punya teman untuk satu model atau warna baju, maka agar tidak malu ketika bertemu di gereja maka media sosial hanya rujukan model saja.

Mama Meri dan Angela menjahit baju Natal di penjahit langganan di samping rumah. Selain untuk mendapatkan ukuran baju yang pas di badan dan enak dipakai, memilih untuk menjahit pakaian di penjahit dan tidak membeli baju di toko adalah untuk menyakinkan diri  bahwa tidak akan bertemu “kembaran” di gereja, yakin bahwa mereka akan tampil beda. Motif kemeja untuk Pak Herman dan anak-anak lelaki juga disamakan.

Malam tanggal 23 Desember adalah malam evaluasi.

Semua anggota keluarga duduk di ruang keluarga, santai dan penuh antusiasme menyambut Natal. Semua berlomba untuk bercerita tentang persiapan menyambut Natal. Mobil siap, makanan dan kue berbagai jenis yang sudah dipastikan rasanya yang enak telah siap dihidangkan, baju baru juga sudah disetrika rapi, disemprot pengharum dan digantung. Riuh sekali ruang keluarga karena semua berlomba bicara dan bercerita.

Saking riuhnya suara mereka bercerita dan ditimpa bunyi hujan yang turun sejak siang, tidak ada yang mendengar bunyi pintu diketuk. Ketika jeda menarik napas, ketukan halus dari pintu depan akhirnya terdengar. Rafael, si bungsu berlari membukakan pintu. Pak Herman segera menyusul Rafael dan mereka mendapatkan seorang laki-laki berdiri dengan wajah lesu di depan pintu. Lelaki itu bernama Bapak Abraham, tetangga dari kampung sebelah.

Dengan wajah sedih dan kalut, pak Abraham mengungkapkan maksud kedatangannya. Istrinya akan melahirkan anak mereka yang pertama dan mereka butuh kendaraan untuk ke rumah sakit. Beberapa tetangga terdekat sedang merayakan Natal di luar kota sehingga mereka tak bisa membantunya. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan kepada keluarga Pak Herman.

“Istri saya sudah sangat kesakitan, bisakah kami meminta bantuan Bapak  untuk mengantarkan kami ke rumah sakit? Maaf kalau ini berlebihan tetapi saya sudah tidak tahu harus ke mana lagi untuk meminta bantuan,” ungkap Pak Abraham sambil menunduk menahan tangis.

Pak Herman bingung. Dia tak tahu mau bilang apa.

Dia mau mengatakan sesuatu tetapi tak sempat karena terdengar suara Mama Meri dari ruang keluarga, “Maaf Pak Abraham, mungkin baik Bapak ke rumah tetangga yang lain. Mobil kami besok mau dipakai. Apalagi jarak ke rumah sakit cukup jauh, kalau  terjadi apa-apa dengan mobil itu maka besok kami jadinya tidak bisa ke gereja untuk misa Natal. Suami saya juga capek kalau harus menyetir jauh.” Mama Meri kemudian berjalan mendekati mereka di pintu depan.

Dengan wajah sedih Pak Abraham menatap Mama Meri, “Saya sudah berusaha Mama, tetangga lain yang punya mobil sedang keluar kota.”

“Coba ke paroki saja, mungkin Romo bisa membantu. Romo juga punya sopir di sana, jadi tidak apa-apa kalau harus mengantar sampai ke rumah sakit di kota,” ujar Mama Meri dengan suara pelan namun terdengar tegas dan tak terbantahkan.

Pak Herman dan anak-anak hanya mendengar dan menyaksikan semuanya dalam diam. Keputusan sudah diambil dan tidak ada yang bisa membantah apa yang telah diputuskan oleh seorang Mama Meri. Akhirnya pak Abraham pamit dengan wajah sedih yang tidak bisa ditutupi. Suasana rumah yang ramai sempat hening terpengaruh kejadian tersebut. Namun tidak berlangsung lama, karena sebagian kue Natal mulai disajikan untuk teman ngobrol.

Misa malam Natal, pada tanggal 24 Desember, berlangsung meriah dan menyenangkan.

Umat paroki berbondong-bondong ke gereja. Semua ingin merayakan Natal dengan sukacita dan kemeriahan. Tentu saja tidak terkecuali keluarga Pak Herman. Baju baru yang cantik dengan motif seragam untuk semua anggota keluarga, sepatu yang cantik dan keren dengan model kekinian disempurnakan oleh wangi parfum yang mahal. Semua bersukacita. Wajah-wajah bahagia sumringah menyanyikan lagu-lagu Natal.

Selepas misa Natal, umat berkumpul di depan gereja, berjabatan tangan dan bercerita, berbagi sukacita. Romo kemudian juga ikut bergabung, mengucapkan terima kasih untuk perayaan Natal yang berjalan baik dan meriah.

“Perayaan kita berjalan lancar, aman dan meriah. Semua umat bersukacita. Sayangnya, Saya harus melanjutkan perayaan ini dengan upacara penguburan istri dan anak dari Bapak Abraham besok siang. Besok jika tidak ada halangan kita semua diajak untuk ikut memberikan penghiburan untuk Bapak Abraham.”

Suasana mendadak hening, semua mata memandang Romo dengan bingung.

“Ya… Bapak Abraham yang dari kampung sebelah. Istri dan anaknya meninggal dini hari tadi karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Agak sulit mencari kendaraan saat libur seperti ini kata Pak Abraham. Ia datang ke paroki tadi malam. Ketika ia dan sopir mobil paroki tiba di rumahnya, istrinya sudah sangat lemas karena pendarahan. Perjalanan ke rumah sakit butuh waktu yang lama, sehingga ketika sampai di rumah sakit, istri dan anaknya sudah tidak tertolong lagi.”

Hening yang sangat panjang dan mencekam mengiringi perjalanan pulang umat setelah misa Natal, tidak terkecuali keluarga Pak Herman. Semua kembali mengingat seorang lelaki yang berjalan lelah kemarin malam, mengetuk rumah mereka yang sedang mempersiapkan Natal. Semua kembali mengingat tatapan nanar yang diberikan lelaki itu karena mobil tuan rumah yang tidak bisa digunakan dengan alasan untuk persiapan misa Natal. Bapak Abraham dan istrinya mestinya mendapatkan kado natal terindah dengan kehadiran anak pertama mereka. Tetapi semuanya itu sirna.

Kemeriahan Natal dengan segala persiapannya adalah hal duniawi yang kadang membuat kita lupa makna Natal yang sesungguhnya.

Berbagai jenis makanan dan kue yang kita siapkan terkadang menutup mata kita tentang kenyataan banyaknya orang yang masih harus berjuang keras untuk makan setiap harinya.

Dekorasi Natal mewah yang kita sajikan menutup mata kita untuk melihat sesama yang bahkan tidak punya rumah untuk pulang.

Natal seharusnya adalah pesta untuk kasih, persaudaraan, cinta dan senyuman bersama.

Tulisan ini adalah saduran dari sebuah naskah drama Natal yang ditulis oleh teman saya Avin Gantir. Drama ini ditulis untuk Sekami se-keuskupan Weetebula Sumba pada tahun 2012. Drama ini kemudian dipentaskan dibeberapa Paroki, diantaranya di Paroki Waikabubak, Sumba Barat.

Salam dari Borong

One comment

Komentar