Ngobrol Biar Waras

Ngobrol Biar Waras

Komunikasi adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Sebagai makhluk sosial, bertemu orang lain kemudian bersosialisasi dan berkomunikasi sepertinya memang menjadi bagian dari DNA. Ada saatnya sekedar bicara pada seseorang bahkan menjadi sebuah kebutuhan yang segera. Apalagi kalau ada sesak dalam dada yang butuh dilonggarkan. Ngobrol bisa jadi solusi.

Kalau dalam KBBI, ‘ngobrol‘ atau mengobrol itu artinya bercakap-cakap atau berbincang tentang hal ringan sampai yang hal yang cukup penting.

Kalau saya sih pemahamannya ngobrol lebih kepada hal-hal yang ringan saja kalau sudah agak berat buat saya namanya diskusi. Sama-sama melibatkan lebih dari satu orang tentu saja tetapi level kerutan dahi dan efek setelahnya agak berbeda. Soal penting dan tidaknya relative tentu saja.

Ngobrol selalu menyenangkan.

Biasanya secara naluri kita hanya akan bisa ngobrol dengan orang yang sejiwa, yang nyambung, yang asik menurut versi masing-masing. Ngobrol buat saya akan selalu identik dengan senyuman, canda dan topik-topik update. Sedikit konspirasi kadang juga terselip dalam obrolan, kalau ngobrolnya sama saudara atau sahabat.

Kadang tema obrolan juga agak “berat”;  curhat misalnya. Curhat akan selalu menghasilkan solusi yang asik ketika diobrolin ketimbang didiskusikan. Kesedihan dan air mata biasanya berganti senyuman dan derai tawa disesi akhir obrolan apalagi jika ditambah dengan pelukan.

Ngobrol bisa dilakukan didunia nyata pun dunia maya, kembali lagi kepada pilihan personal. Beberapa diskusi berkembang tentang obrolan dunia nyata dan dunia maya. Tentang yang mana yang lebih menyenangkan juga tentang yang mana yang lebih manusiawi.

Sebelum internet menguasai peradaban, ngobrol rasanya “hangat” sekali kalau dilakukan secara “face to face”, bertemu langsung. Para pihak nyata dipertemukan. Ekspresi, gerak tubuh, tatapan mata dan sentuhan yang kadang terjadi membuat obrolan dunia nyata terasa lebih “hidup”.

Terjadi perubahan pola dan metode obrolan dalam beberapa waktu belakangan.

Banyak yang lebih nyaman dan memilih untuk ngobrol di dunia maya saja. Pandemi dan internet adalah kolaborasi yang memantapkan pilihan ini.

Tidak perlu bertemu, ngobrol bisa lewat ketukan keyboard saja, kalau sedikit berani kemudian bisa lewat panggilan video. Tanpa interaksi langsung, ekspresi bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi, tak butuh gestur dan tatapan mata sebagai penegas, cukup emoticon. Kalaupun harus video call, beberapa hal dan situasi yang tidak ingin dibagi akan disembunyikan dibelakang alibi “signal buruk”.

Aihhh…..tentu saja ini pendapat pribadi yang akan segera dibantah oleh para pecinta obrolan dunia maya.

Tetapi sungguh saya menyukai ngobrol secara langsung. Tidak ada hal yang bisa disembunyikan, bahkan untuk hal yang tidak terucap, mata dan ekspresi akan bicara banyak. Dunia nyata memberikan lebih banyak kejujuran.

Dunia saat ini agak kurang ramah untuk beberapa hal.

Sepertinya serba sempit segala sesuatunya; lahan buat berdiri, ruang untuk bicara bahkan terkadang ruang dikepala pun kurang luas untuk menampung hasil pikir. Ketika penat dengan dunia dan segala pernak perniknya atau ketika lelah sebagai manusia dan perjalananannya, ngobrol bisa jadi solusi yang mudah dan murah.

Ketika lelah, emosi biasanya butuh dikeluarkan. Jika tidak, rentan sekali kita akan menjadi toxic untuk lingkungan sekitar. Nyinyir, iri hati, marah tanpa sebab atau bahkan menajdi jelek secara fisk dan psikis adalah hal-hal paling mungkin yang timbul dari timbunan sampah dijiwa.

Ngobrol biar waras, karena memendam “sampah” terlalu lama dan secara emosional kurang stabil berpotensi jadi tidak waras.

Tetapi jangan lupa untuk tetap hati-hati memilih teman dan tema yang diobrolin.

Bahan/topik obrolan dan dengan siapa berbagi bisa menunjang kewarasan atau malah memperburuk situasi.

Ngobrol sama diri sendiri kadang perlu juga, ketika sadar lingkungan diluar kurang ramah untuk yang jadi isi kepala kita. Tetap bisa bikin waras apalagi kalau backsoundnya adalah suara indah Afgan dan wangi pisang digoreng dari dapur tetangga.

Salam dari Borong

One comment

Komentar