Today is Valentine’s Day 2026.
Apa kabar ibu hamil yang kemarin menangis di ambulans sambil memeluk anak lelaki kecilnya setelah proses nego panjang untuk bisa membawa dia ke Puskesmas terdekat ya? Penasaran juga dengan kabar si suami yang keukeh tidak izinkan istrinya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan alasan biaya. Ini bukan cerita pertama tentang perempuan hamil yang dipaksa menahan sakit di rumah karena suami atau keluarga merasa tidak perlu ke faskes,
“Bukan hamil baru, kita sudah biasa urus orang hamil dan melahirkan. Anak-anak yang sedang bermain itu, bahkan kita-kita ini juga dilahirkan di rumah tanpa bidan.”
Tahun 2026 dan masih ada yang berpikiran seperti ini rasanya seperti tidak real, sampai akhirnya kemarin saya berhadapan langsung dengan mereka itu
Belakangan cukup banyak cerita tentang para lelaki yang keberatan perempuan mereka melahirkan di faskes. Saya tidak menyebut suami dan istri, karena dalam banyak kasus yang terjadi ini lebih sering soal relasi kuasa di masyarakat. Keluarga dan lingkungan social juga berpengaruh besar. Hidup dalam system patriarki dimana semua keputusan menunggu mereka yang berkuasa berbicara pada bagian ini sangat memuakkan.
Sesak rasanya nafas membayangkan pedihnya menahan sakit akan melahirkan tetapi tidak bisa megambil keputusan untuk diri sendiri.
Valentine ideal ala media social dan budaya (atau kebiasaan?) sering datang dengan warna merah muda, bunga, cokelat, dan kalimat-kalimat manis tentang cinta.
Dalam kenyataan dan untuk sebagian orang, kadang cinta hanya butuh hadiah berbentuk kebebasan. Cinta terkadang hadir dalam bentuk keputusan yang sulit; bahkan sangat sulit, terutama untuk perempuan. Seperti cerita kemarin dan beberapa lain sebelumnya ketika kehamilan yang berisiko harus berhadapan dengan lelaki keras kepala dan lingkungan yang terkesan pasrah. Mereka mengatakan bahwa semua dilakukan atas nama cinta.
“Perempuan harus menurut, suami dan keluarga tahu yang terbaik. Dukun dalam kampung bisa membantu, semua perempuan disini juga begitu.”
Lalu mereka dimana ketika infeksi merambati seluruh organ akibat proses persalinan yang tidak steril? Perempuan akhirnya tetap harus menanggung kesakitan itu sendiri, menangis di sudut sambil melihat mereka berkumpul, tertawa dan mengelilingi botol sopi lalu berkata mereka menemaninya bergulat melawan sakit.
“Saya mencintai istri saya, saya tidak mau dia mabuk dalam ambulans dan malah jadi lebih buruk kondisinya.”
Lalu siapa monster yang memukulnya keras saat trimester awal dan perempuan itu mengeluh mual muntah? Aihhh sa yang migren.
Valentine berbicara tentang cinta.
Tapi pada situasi seperti ini, untuk sebagian perempuan cinta sering berubah menjadi tekanan. Boro-boro dapat kado coklat atau berpikir baju pink untuk makan malam; beras di tong hanya cukup untuk perut satu orang dan sudah bisa dipastikan siapa yang akan makan duluan. Ketika balon-balon berseliweran di medsos sebagai lambang perayaan cinta; bayangan air mata bumil dalam ambulans yang memeluk satu-satunya anak yang selamat dari 4 kehamilan sebelumnya bikin sesak nafas.
Kehamilan memang terjadi di tubuh perempuan.
Tapi sering kali, keputusan tentangnya bukan hanya milik perempuan. Ada suara pasangan, orang tua, keluarga besar, tetangga, norma agama dan adat. Semua bicara dan merasa punya hak. Ironisnya, yang paling sering diminta untuk diam justru perempuan si pemilik tubuh. Perempuan di tengah semua suara itu akhirnya memelankan dan pelan-pelan kehilangan suaranya sendiri. Memilih diam atau terpaksa diam, biar tidak menambah panjang soal dan atau tidak berimbas pada keluarga yang lain; relasi kuasa disini sangat membagongkan.
Kalau mengikuti trend; “Valentine itu bukan budaya kita, budaya kita adalah perempuan itu harus tunduk pada kuasa suami dan lingkungan yang sok tau soal tubuh perempuan dan kehamilan.” Prettttt
Butuh kerja sama dua orang atas dasar cinta untuk sebuah kehamilan (demikian idealnya).
Namun ketika kehamilan menjadi berisiko, lebih sering diskusi tidak melibatkan perempuan lagi. Kkeputusan diambil oleh mereka yang merasa paling berhak atas dasar “kami lebih tahu” dan “kami menyayangi anak perempuan kami”.
Padahal keputusan tentang kehamilan bukan hanya soal moral. Hamil itu tentang kesiapan, kesehatan, mental, ekonomi, dan masa depan seorang perempuan. Tapi sering kali, keputusan itu tidak lahir dari ruang aman; ia lahir dari tekanan.
Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi “baik”, “menurut”, “tidak membantah”. Diajarkan untuk menjaga dan bertanggung jawab untuk nama baik keluarga dan bahwa menjadi ibu adalah panggilan mulia, tanpa ruang untuk bertanya apakah ia siap.
Saat dewasa kadang ajaran ini malah jadi boomerang yang mengukung perempuan dan merampas hak nya untuk bicara, bahkan untuk dirinya sendiri.
Angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB) di Manggarai Timur bisa dibilang cukup tinggi.
Tahun 2025 ada 5 ibu yang meninggal Ada banyak factor penyebab; sakit penyerta atau bawaan hamil, kehamilan yang tidak direncanakan, pernikahan usia dini atau lempok pada usia tua. Penyebab lain adalah lingkungan social yang ikut mengambil keputusan untuk melahirkan tanpa perlu ke fasilitas kesehatan. Selain alasan sakit, alasan lainnya ini bikin sakit kepala kita yang dengar.
Keputusan untuk menikah, hamil dan melahirkan adalah keputusan mutlak seorang perempuan (seharusnya).
Penting untuk mendengarkan pendapat orang-orang terdekat sih iya, tetapi ketika menyangkut tubuh pribadi seorang perempuan harusnya tidak diintervensi terlalu jauh apalagi sampai diintimidasi.
Masih banyak perempuan Manggarai yang belum memiliki kuasa atas dirinya; pikiran dan fisik. Untuk yang tinggal di kota atau punya pendidikan cukup, mungkin kondisi ini tidak terlalu berasa. Tetapi perempuan-perempuan yang tinggal di kampung-kampung dengan akses sulit kemana-mana, mereka terbiasa dikuasai oleh lelaki dan budaya.
Pada kondisi tertentu, untuk banyak perempuan, Valentine bukan hanya tentang mendengar dan mengatakan “I love you.”
Mungkin Valentine juga tentang bertanya,
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Apa yang kamu inginkan?”
Karena cinta yang sehat memberi ruang dan cinta yang dewasa itu tentang mendengarkan. Cinta yang bertanggung jawab itu tentang berdiri bersama dan tidak lari dari konsekuensi.
Ketika seorang perempuan hamil, cinta bukan hanya soal mengakui janin di dalam perutnya. Tetapi juga mengakui perasaan dan ketakutannya. Dan terutama mengakui haknya untuk berpikir dan mengambil keputusan tentang tubuh dan kehamilannya.
Karena tubuh yang sedang hamil itu milik perempuan.
Di balik perayaan yang manis Valentine, ada banyak cerita yang tidak kita lihat.
Ada perempuan-perempuan yang sedang bergulat dengan keputusan besar dalam hidupnya. Yang mereka butuhkan bukan bunga, cokelat, atau kata-kata manis. Mereka butuh ruang untuk bersuara, didengarkan dan boleh memilih.
Banyak perempuan yang butuh dukungan dan kerendahan hati dari orang-orang di sekitarnya untuk menghormati pilihan mereka.
Valentine bisa jadi perayaan kecil untuk belajar tentang cinta yang lebih adil. Karena cinta sejatinya bukan tentang siapa yang paling keras bersuara and say i love you tapi tentang siapa yang berani memberi ruang bagi yang paling sering disenyapkan.
========== Happy Valentine dan Salam dari Borong ==========