Selamat Datang di Laboratorium Kemanusiaan; Pengantar untuk Buku Metode Sant Egidio

Selamat Datang di Laboratorium Kemanusiaan; Pengantar untuk Buku Metode Sant Egidio

Saudara-saudariku, Para Peziarah Kehidupan,

Jika Anda membaca tulisan ini, kemungkinan besar kita sedang berdiri di persimpangan batin yang sama. Mungkin Anda, seperti saya, merasakan ada sesuatu yang “retak” atau bergeser di balik gemerlap dunia modern kita yang serba canggih. Kita hidup dalam sebuah paradoks yang membingungkan: kita memiliki segalanya—koneksi internet super cepat yang menembus batas benua, ribuan teman virtual di media sosial, dan akses informasi tanpa batas di ujung jari—namun mengapa lorong-lorong hati kita sering kali terasa begitu sunyi dan bergaung hampa?

Tenggelam kita dalam kebisingan notifikasi, namun sering kali kehilangan kata-kata untuk percakapan yang menyentuh jiwa. Kita menjadi arsitek jejaring sosial yang ulung, namun menjadi pemula yang gagap dalam membangun persahabatan nyata. Inilah ironi zaman kita: sebuah epidemi kesepian yang terbungkus rapi di balik layar kaca yang menyala terang.

Naskah yang akan Anda baca dalam 70 bagian serial ini hadir sebagai respons atas kegelisahan tersebut. Karya ini memiliki sejarah yang unik, sedikit berantakan, tidak linear, namun—saya berani katakan—sangat manusiawi.

Pada tahun 2013, di lorong “cinta” Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, naskah ini lahir sebagai benih sebuah skripsi. Saat itu, saya dipenuhi ambisi akademis untuk membedah realitas sosial. Namun, seperti takdir yang sering kali memiliki selera humornya sendiri (atau mungkin kebijaksanaannya sendiri), skripsi ini tidak pernah mengantarkan saya ke panggung wisuda yang megah. Saya drop out (DO).

Di atas kertas, saya gagal. Label ‘mahasiswa gagal’ sempat terasa seperti vonis berat bagi masa depan saya.

Namun, justru saat terlempar keluar dari sistem itulah, di jalanan kehidupan yang nyata, saya mulai memahami secara eksistensial apa yang dimaksud oleh Erich Fromm—salah satu tokoh utama dalam buku ini. Fromm mengajarkan perbedaan radikal antara sekolah yang mengajarkan kita untuk “memiliki” pengetahuan (Having Mode), dan kehidupan yang menuntut kita untuk “menjadi” manusia yang utuh (Being Mode).

Saya tidak menyelesaikan gelar saya, tetapi saya tidak pernah berhenti menyelesaikan pemikiran ini. Kegagalan institusional itu justru menjadi pintu gerbang menuju kebebasan intelektual yang lebih otentik. Saya tidak lagi menulis untuk mengejar nilai dosen, melainkan menulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membakar jiwa saya sendiri.

Mungkin Anda bertanya-tanya tentang judul buku ini yang sengaja saya tulis dengan gaya tipografi yang tidak lazim: FROMm. Ini bukan salah ketik, melainkan sebuah undangan filosofis. Ada alasan mendalam di balik permainan huruf ini yang ingin saya bagikan kepada Anda:

Huruf kecil pada ‘fromm’ adalah simbol keintiman.

Saya tidak ingin menyapa Fromm sebagai profesor agung di menara gading, melainkan sebagai seorang saudara dan teman bicara. Huruf kecil ini mensejajarkan kita sebagai sesama manusia yang bergulat dengan kerapuhan. Saya ingin Anda membaca pemikirannya bukan sebagai dogma akademis, melainkan sebagai bisikan seorang sahabat.

Namun, “M” kapital di akhirnya adalah penanda akan Manusia (Humanity) dengan segala potensinya yang raksasa. Ini adalah simbol dari harapan bahwa meskipun kita kecil, kita memiliki kapasitas untuk melampaui determinisme sejarah, untuk bangkit dari ilusi yang membelenggu kita, dan menjadi arsitek bagi kehidupan yang lebih bermartabat.

Buku ini adalah panggung perjumpaan antara dua raksasa yang jarang disandingkan namun saling melengkapi.

Pertama, Psikologi Humanistik Erich Fromm.Yang dengan tajam mendiagnosis penyakit zaman kita—bagaimana kita teralienasi oleh pasar, bagaimana kita jatuh dalam narsisme maligna, dan bagaimana kita menjual diri kita sebagai komoditas. Fromm memberikan kita “peta” untuk memahami mengapa kita sakit.

Kedua, Spiritualitas Komunitas Sant’Egidio. Yang menawarkan “obat” paling radikal namun sederhana: Persahabatan. Jika Fromm memberikan teorinya, Sant’Egidio memberikan laboratorium praktisnya. Di sini, cinta bukan sekadar perasaan sentimentil, melainkan sebuah metode sosial dan politik untuk meruntuhkan tembok pemisah.

Mengapa saya membagikannya sekarang, secara gratis, dan memecahnya menjadi 70 bagian di website kakak perempuan saya tercinta, Jeany Wajong (lejeany.com)?

Karena obat tidak boleh disimpan di lemari terkunci saat wabah kesepian sedang merajalela.

Pengetahuan yang membebaskan tidak boleh dipenjara oleh hak cipta atau biaya yang mahal. Saya ingin memecahkan roti pemikiran ini dan membagikannya kepada Anda, remah demi remah, dalam 70 sub-bab yang bisa Anda nikmati di sela-sela kesibukan harian Anda. Website lejeany.com sendiri adalah simbol dari dukungan keluarga—sebuah mikrokosmos dari komunitas kasih yang ingin saya wartakan.

Namun, proyek ini bukan sekadar pemberian satu arah dari saya kepada Anda. Saya memiliki sebuah permohonan tulus, sebuah undangan untuk berkolaborasi.

Saat Anda membaca serial ini—entah itu saat saya membahas tentang “Narsisme Maligna” yang mengisolasi kita, tentang kehangatan “Makan Siang Natal” bersama kaum miskin, atau tentang “Diplomasi Persahabatan” yang mendamaikan konflik—saya mengundang Anda untuk berhenti sejenak.

Renungkanlah. Apakah tulisan ini menyentuh pengalaman hidup Anda sendiri? Apakah Anda pernah merasakan kekosongan yang sama di tengah keramaian kota? Atau mungkin, Anda telah menemukan secercah harapan yang serupa melalui perjumpaan-perjumpaan kecil dalam hidup Anda?

Tinggalkanlah jejak Anda di kolom komentar.

Jangan ragu. Ceritakan pengalaman Anda, kritik Anda, atau sekadar sapaan sederhana. Saya tidak ingin menulis di ruang hampa. Jangan biarkan tulisan ini berakhir sebagai monolog. Mari jadikan ini sebuah dialog yang hidup. Suara Anda penting, karena ia menjadi bukti bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian.

Mengapa ini penting? Karena impian besar saya adalah merajut komentar-komentar Anda—sharing pikiran dan perasaan Anda yang jujur dan mentah itu—untuk menjadi bahan utama dalam Kata Pengantar buku ini kelak ketika ia diterbitkan secara utuh dalam bentuk fisik. Saya ingin buku ini lahir dari rahim komunitas, bukan hanya dari studio kerja saya.

Dengan demikian, buku ini bukan lagi hanya milik Aloysius yang pernah DO dari kampus, melainkan menjadi milik kita bersama—sebuah antologi harapan dari manusia-manusia yang menolak untuk menyerah pada keputusasaan, dan yang berani percaya bahwa Revolusi Harapan itu mungkin.

Selamat membaca. Selamat menyelami diri. Dan yang terpenting: selamat menjadi Manusia.

Salam persaudaraan dari hati ke hati,

Aloysius Do Carmo Sobak

Penulis, Pembelajar, dan Sahabat Peziarahan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *