Saya lahir dan besar di Ruteng, kota kecil dengan mayoritas masyarakatnya beragama Katolik yang selalu hangat dalam toleransi. Di kota ini, saya yang adalah seorang Muslim, tumbuh dalam keluarga dan lingkungan dengan beragam keyakinan; Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Islam. Buat kami perbedaan ini bukanlah sekat, melainkan warna yang memperkaya hidup.
Salah seorang teman kecil saya, teman bermain sepakbola di lapangan Motang Rua, bernama Andi. “Anak kota” yang tinggal di kompleks rumah sakit lama yang kemudian menjadi biarawan Katolik. Dia yang kemudian dikenal dengan Romo Andi Latubatara, Pr adalah Pastor Paroki Katedral Ruteng saat ini. Kami tumbuh bersama, bermain di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi mimpi.
Persahabatan itu tak lekang oleh waktu, justru semakin menguat dengan bertambahnya usia.
Om Romo, begitulah saya, keluarga dan teman-teman menyapanya. Dia adalah kebanggaan semua kami yang mengenalnya.
Om Romo adalah pribadi yang sederhana meski berasal dari keluarga yang cukup terpandang di kota Ruteng. Ayahnya, Opa Stanis Latubatara, pernah menjabat sebagai Camat Kopeta Ruteng (sekarang Kecamatan Langke Rembong). Juga pernah menjadi Ketua DPP Paroki Kristus Raja Mbaumuku pada suatu periode. Orang tua yang ramah, tegas dan dikenal karena kearifannya.
Bagi saya pribadi, om Romo bukan hanya seorang imam bagi umatnya atau sekedar sahabat kecil. Ia adalah sahabat tempat saya datang bercerita tentang kegembiraan, kesedihan, kekecewaan, bahkan ketakutan. Tempat saya meminta nasihat, doa, dan dukungan. Ia selalu ada dalam suka maupun duka. Seorang Imam Katolik yang menguatkan seorang Muslim untuk tetap teguh dan setia menjalankan nilai-nilai Islam.
Persahabatan, Sepak Bola, dan Malam yang Panjang
Ada suatu masa ketika kesibukan membuat kami berjarak. Romo Andi dipercaya untuk memimpin Paroki, komunitas umat beriman kristiani yang dibentuk secara tetap dalam batas-batas wilayah tertentu (teritoris) atau personal di bawah Keuskupan, dan ini cukup menyita waktu selain karena jarak Parokinya yang cukup jauh dari Ruteng.
Ketia Ia dipindahkan dari Paroki Pateng dan dipercaya menjadi Kepala SMAK St. Fransiskus di Ruteng, hubungan kami kembali dan semakin dekat. Kami kembali sering bertemu. Bersama To’o Daniel Mboeik, yang kala itu adalah Ketua Pemuda GMIT dan Romo Beben Gaguk, Pr., kami kerap berdiskusi panjang tentang beragam topik, hingga larut malam.
Ada malam dengan obrolan serius atau sekedar nobar Piala Dunia, Liga Champions, Premier League, atau Liga Spanyol.
Tak jarang kami akhirnya nginap di kamarnya karena terlalu larut untuk untuk pulang atau memang ketiduran. Kami adalah para pecinta bola yang bersahabat. Om Romo adalah seorang Culés ; pendukung setia FC Barcelona, dan saya adalah seorang Red Army, pendukung garis keras Manchester United, Si Setan Merah.
Kamar Romo adalah museum mini Barcelona; segala pernik Barca, poster, syal, sarung bantal, seprai dan jersey dikoleksinya. Bahkan stiker Barca juga ditempelkan di mobil tuanya yang kemudian menjadi penanda untuk mobil Taft kesayangannya itu.
Kami berdebat sengit tentang sepak bola, berbagi ejekan ringan tentang klub kesayangan lalu tertawa panjang. Persahabatan yang tulus dan sederhana.
Paroki Poka dan Malam-malam Kebersamaan
Ketika om Romo bertugas di Paroki Poka yang jaraknya kurang lebih lima kilometer dari kota Ruteng; kami sering bertemu dan berbagi cerita.
Setiap ada waktu senggang, yang biasanya disore atau malam hari, Om Romo selalu menelepon atau mengirim pesan: “Utam, jemput saya. Ajak teman-teman kita kumpul.”
Saya kemudian menjemputnya di paroki, lalu menuju titik kumpul; di rumah saya atau rumah salah seorang sahabat.
Dalam perjalanan, om Romo selalu berkata, “Kita singgah beli rokok dulu. Jangan lupa jajan anak-anak juga e. Telepon mereka, tanya mau jajan apa.”
Begitulah Romo Andi. Anak-anak kami selalu kegirangan mendengar om Romo akan berkunjung, karena bisa dipastikan akan ada jajanan kesukaan mereka.
“Bapa, kita tidak pergi lihat om Romo?” atau “Om Romo tidak datang ka?.”
Ini adalah pertanyaan yang pasti keluar ketika Om Romo tidak berkunjung atau berkabar dalam waktu lama. Pertanyaan sederhana dan polos yang membuat kami tersenyum; karena tahu maksud tersembunyi di baliknya. Om Romo dekat dan menyayangi anak-anak, dia selalu memanjakan mereka dengan cara yang hangat, penuh perhatian dan khas om Romo.
Dekat Namun Tak Selalu Sempat
Dari Paroki Poka Romo Andi kemudian pindah dan menjadi Pastor Paroki Santo Mikael Kumba di Ruteng. Kami para sahabat menyambut berita ini dengan gembira. Meski kami sering berandai-andai Om Romo bisa ditugaskan di Paroki Kristus Raja; Paroki dari mana dia berasal. Namun kami bersepakat kepindahan kali ini adalah hadiah.
“Akhirnya Romo Andi kembali ke Paroki dalam kota. Jarak makin dekat. Kita akan lebih sering bertemu”, ujar salah satu teman kami.
Ah, ternyata kami salah. Kesibukannya di Paroki Kumba sangat padat. Pelayanan umat menuntut waktu dan tenaganya hampir tanpa jeda. Jadwal misa, kunjungan umat, pelayanan sakramen dan rapat-rapat menyita hari-harinya. Kedekatan jarak tak menjamin kedekatan waktu.
Suatu hari, karena rindu yang tak tertahan, saya memberanikan diri datang ke Pastoran dan mengetuk pintu kamar peristirahatannya. Om Romo sendiri yang membuka pintu dan menyambut saya dengan senyumnya yang selalu sama, “Mai masuk e. Sendiri ka? Mana yang lain?”
Saya masuk sambil menggerutu, setengah bercanda setengah protes.
“Iya sendiri e Tuang. Kita ini sudah tinggal satu kota, semakin dekat jaraknya malah semakin susah untuk bertemu.”
Dengan tawa kecilnya yang selalu menenangkan dia menjawab, “Iya e, Utam. Banyak kerjaan dan pelayanan di sini. Saya tidak punya banyak waktu untuk keluar dan kumpul. Apa kabar teman-teman yang lain, sehat semua kah? Mama Rafa, Rafa dan Luthfi bagaimana kabarnya? Opa dan Oma sehat kan?”
Begitulah Romo Andi. Alih-alih menjelaskan tentang diri dan kesibukannya, dia lebih memilih menanyakan kabar orang lain.
Kami lalu duduk bercerita; melepas rindu. Dia lebih banyak bertanya tentang teman-teman, dan keluarga. Tak lupa om Romo juga mendoakan kami satu per satu; seperti yang selalu dia buat ketika bertemu.
Setelah beberapa waktu, saya pamit dan seperti biasanya juga dia berkata, “Itu ada pisang dan buah di kamar, bawa pulang sebagian untuk Opa dan Oma.”
Romo Andi selalu menjadi kesayangan Opa dan Oma di rumah, mereka menyayanginya seperti anak sendiri. Kalau sudah lama tak mendengar kabarnya, mereka akan bertanya,
“Utam, tidak ada kabar Romo Andi? Hae.. Kamu tidak pernah ke paroki lagi ka, coba cari tau, mungkin dia sakit.”
Saya biasanya hanya menjawab pelan, “Om Romo sibuk, Opa. Susah ketemu sekarang.”

Namun dalam hati saya tahu, sesibuk apa pun dia, hatinya tak pernah jauh. Dia tetap Romo Andi yang sama; yang peduli, yang selalu ingat kami teman-teman masa kecilnya.
Kadang saya berpikir, mungkin itulah arti persahabatan yang dewasa. Tidak lagi diukur dari seberapa sering bertemu, tetapi dari seberapa dalam saling mendoakan. Dan Om Romo Andi selalu mendoakan.
Kartu Caleg yang Tak Pernah Dibuang
2014 adalah tahun yang berat untuk seorang Rustam Kelilauw. Masa itu saya adalah Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Salah satu partai Islam dengan segala kontroversi dan ceritanya di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Katolik bukanlah hal mudah. Tantangan datang dalam berbagai bentuk dan dari berbagai arah. Keraguan, ketidaksukaan melahirkan tekanan bahkan godaan untuk mundur dan berpindah partai.
Sebagai seorang politisi saat-saat itu cukup berat dan sempat menggoyahkan hati dan keyakinan. Namun setiap kali goyah, saya memutuskan datang kepada Om Romo.
Romo Andi akan selalu setia mendengar sebagai seorang sahabat tanpa menyela. Dia juga tak pernah mencampuri pilihan-pilihan politik saya.
Nasihatnya akan selalu sama setelah semua cerita dan kopi yang menemani, “Setialah pada pilihan. Lakukan semuanya dengan niat baik.”
Saya juga ingat ketika suatu hari saya menyerahkan kartu nama caleg saya kepadanya dan berkata, “Om Romo, doakan saya supaya dipermudah.”
Om Romo menerima kartu itu tanpa banyak bicara, tetapi sikap dan senyumnya saat itu cukup menegaskan bahwa dia merestui niat saya.

Singkat cerita, saya gagal dalam Pileg 2014.
Om Romo hadir untuk menguatkan dan berkata: “Untuk berbuat baik tidak harus menjadi anggota DPR. Percayalah, kebaikan selalu menemukan jalannya. Tetaplah fokus dan konsisten memimpin PKS. Semoga bermanfaat bagi umat dan sesama.”
Kalimat itu menguatkan dan terus hidup dalam ingatan saya sampai hari ini.
Pada tahun 2018, saat om Romo ditugaskan di Paroki Poka, salah satu Paroki dekat kota Ruteng, saya kembali memberanikan diri maju sebagai caleg pada Pemilu Legislatif Periode 2019–2024. Kali ini saya mencalonkan diri sebagai caleg Provinsi NTT, Dapil 4 dan masih dari PKS.
Sekali lagi saya kembali menemuinya dan menyampaikan niat itu. Om Romo terdiam sejenak dan saya ingat saat itu saya menunggu dengan cemas. Sedikit khawatir keinginan kali ini tak direstuinya. Tak lama berselang, perlahan ia mengambil dompet dari saku belakangnya dan mengeluarkan selembar kertas kecil yang terselip rapi di antara kartu-kartu lainnya.
Kartu caleg saya tahun 2014. Masih tersimpan, meski sedikit lecek dengan warna memudar.
Sambil menunjukkan kartu itu, om Romo berkata pelan, “Utam, Saya tidak pernah berhenti mendukung dan mendoakanmu. Maju… dan jangan pernah takut gagal.”
Singkat namun menembus lubuk hati. Saya tersenyum menahan air mata lalu memeluk erat tubuhnya yang sedikit kurus; tubuh yang mulai sering sakit-sakitan dan berbisik,
“Terima kasih, Om Romo… Terima kasih banyak em…”
Lelaki ganteng berwajah kalem, berhidung mancung dan berkulit hitam manis itu tersenyum sumringah. Sambil menggenggam tangan saya ia berkata, “Jan cengeng.” Lalu kami tertawa bersama.
“Di kulkas ada pisang dan apel. Minum kopi kita e? Ada roti juga di dapur.”
Begitulah sahabat saya, kata-katanya sederhana namun selalu bisa menenangkan. Tidak banyak yang ia katakan, tetapi cukup untuk meyakinkan bahwa saya takan pernah berjalan sendiri.
Di Ruteng, kota kecil tempat kami tinggal di ujung barat Pulau Flores, saya belajar bahwa toleransi bukan sekadar slogan. Toleransi hidup dalam pelukan seorang Romo kepada sahabat Muslimnya. Toleransi hidup dalam doa dan ritual berbeda namun menuju Tuhan yang sama. Toleransi hidup dalam sebuah kartu kecil yang selalu punya tempat di dompet dan hati pemiliknya.
Mencintai Tuhan Harus Merasakan Sakit
Kami punya tradisi merayakan Natal dan Tahun Baru bersama, walaupun tidak lagi dalam tiga tahun terakhir. Keseluruhan rangkaian persiapan acara Natal bersama akan selalu ramai dan menyenangkan. Akan selalu ada pertanyaan, “Sudah hubungi Romo Andi ka?”
Biasanya kami akan berkumpul disalah satu rumah dan Romo Andi akan memimpin misa dan doa bersama keluarga para sahabatnya.
Ia selalu meluangkan waktunya untuk kami di tengah semua kesibukannya. Datang dengan senyuman khasnya, menyapa setiap orang dan memeluk anak -anak dengan hangat.
Ia lalu memimpin misa dengan khidmat, dengan khotbah yang sederhana, namun selalu pas di hati. Tidak berapi-api apalagi menggurui, ia berbicara sebagai seorang sahabat yang memahami luka dan pergumulan hidup setiap orang dan keluarga.
Pada suatu kesempatan dalam khotbahnya om Romo berkata, “Mencintai Tuhan harus siap merasakan sakit.”
Ia lalu melanjutkan, bahwa mencintai Tuhan berarti harus siap untuk taat, berkorban, disalahpahami, difitnah, dihakimi, bahkan harus siap gagal. Karena cinta kepada Tuhan bukan soal kenyamanan, melainkan kesetiaan.
Sebagai seorang Muslim yang duduk di antara sahabat-sahabat Katolik saat itu, saya merasakan getaran kalimat itu. Iman, apa pun jalannya, akan selalu menuntut pengorbanan. Dan mungkin, di situlah letak kedewasaannya.
Kini, ketika Natal tak lagi kami rayakan bersama, kami sering merindukan momen-momen itu. Rindu pada suaranya yang tenang, cerita–ceritanya yang menginspirasi, doa-doanya yang tulus, dan caranya menguatkan tanpa menghakimi.
Doa Di Bulan Ramadhan
Malam ini di bulan Ramadhan 1447 H betapa saya merindukannya.
Dalam sunyi sahur bersama opa, oma, istri dan anak-anak; namanya kerap terucap lirih. Kami membayangkan ia di pastoran, sendiri atau mungkin saja sedang sibuk melayani umat, menahan lelah yang tak selalu ia ceritakan.
Di malam bulan penuh berkah ini, ada doa yang ingin saya langitkan untuknya. Semoga om Romo senantiasa dikuatkan dalam pelayanan, disehatkan tubuhnya, dilapangkan hatinya ketika lelah, diteguhkan imannya dalam setiap cobaan; yang terlihat pun tak terlihat. Semoga ia diberikan umur yang panjang dengan hari-hari yang damai serta dilipatgandakan sukacitanya sebagaimana ia yang tak pernah berhenti mendoakan kami semua.
Dan jika suatu hari nanti saya kembali goyah, saya percaya, di suatu sudut pastoran Gereja Katedral Ruteng atau di mana pun ia bertugas, akan ada seorang sahabat yang tetap menyebut nama saya dalam doa-doanya.
“Terima kasih, om Romo. Barakallah. Semoga Allah menjaga dan menguatkanmu selalu”
Tulisan dipersembahkan untuk sahabat saya, Romo Andi Latubatara, Pr
Salam dari Ruteng