2026 sekarang, dan bicara radio terdengar seperti membicarakan sesuatu yang “jadul”. Hehehe. Di antara podcast, streaming musik, dan informasi cepat berupa video berdurasi 30 detik; radio terdengar seperti teknologi “tua” untuk sebagian orang. Namun harus diakui bahwa sejak media sosial dan kawan-kawannya naik daun, radio tetap bertahan walau dengan kondisi lumayan terseok. Tetap eksist; ada dan punya tempatnya sendiri di hati para penikmat setia.
Kak Umek dan kak Bastian Salang di akhir tahun 2025 mencoba membuat terobosan dengan kembali menghadirkan radio dalam format berbeda. Streaming; tidak butuh antena, bisa diakses dimana pun asal ada jaringan internet, jangkauan lebih luas dengan ciri khas radionya tetap sama. Keren lah pokoknya.Go to Radio Manggarai 88 dan dapatkan semuanya disini. Radio kami mengudara 24 jam dengan studio yang tersebar di Ruteng, Borong, Jakarta dan Kroasia. Para penyiar akan hadir pada jam-jam tertentu dan musik bagus tersedia 24 jam non stop.
Saya bergabung ketika sudah jadi; program dan aplikasi sudah ada dan saya tinggal cuap-cuap. Hehehe. Menyenangkan pastinya. Berasa kembali ke tahun 2005 ketika masih jadi penyiar radio konvensional di Be Smart Radio lalu lanjut ke RSPD “Suara Manggarai” sampai akhir tahun 2010.
Radio punya sesuatu yang beda dibandingkan Spotify atau YouTube.
Salah seorang ponakan pernah bilang, “Ngapain radio, kalau mau dengar lagu kan ada Spotify, kalau mau dapat informasi tinggal cari di Google dan medsos.”
Generasi Alpha mungkin memang tidak akrab dengan radio seperti para senior, generasi Milenial dan generasi Z, dan itu jadi alasan pertanyaan di atas terlontar. Gen Alpha akan susah memahami rasa yang berbeda ketika mendengar suara penyiar menyapa dengan hangat; rasa hangat yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mana pun. Mereka juga mungkin akan bingung ketika diceritakan tentang bagaimana sebuah lagu dan sepotong kalimat bisa menjadi pemantik kenangan dan itu menyenangkan.
Hari ini kita mungkin sudah terbiasa dengan Spotify atau YouTube yang bisa memilihkan lagu sesuai mood dan selera. Tinggal masukan kata kunci maka mereka akan memilihkan lagu yang sesuai, yang relate.
Namun radio berbeda. Ia tidak selalu memberi kita apa yang kita mau—kadang justru memberi kita apa yang kita butuh.
Misalnya lagu yang diputar, tiba-tiba mengingatkan pada masa SMA atau seseorang tertentu. Ada suara penyiar yang setia menemani waktu beres-beres di rumah atau dalam perjalanan; saat lingkungan masih sepi dan pikiran belum sepenuhnya sadar tetapi kewajiban sudah harus mulai dijalankan.
Radio bekerja dengan cara yang sederhana, tapi dampaknya dalam, menemani tanpa menuntut perhatian penuh. Kita bisa mendengarkannya sambil memasak, beres-beres rumah, menyetir atau sambil bekerja kejar dead line. Saat-saat itu radio terasa sebagai yang paling setia.
Tanpa visual, radio sering memaksa kita “melihat” lewat pikiran sendiri. Suara dari balik mikrofon yang tidak juga kita kenal orangnya, sering kali menjadi penghubung rasa bahkan silaturahmi . Ia menyatukan orang-orang yang tidak saling mengenal dan memantik kenangan untuk yang saling mengenal. Di kota kecil maupun kota besar, radio menjadi teman yang tidak terlihat tapi ada dan terasa dekat.
Radio juga punya sisi romantis yang tidak bisa dibantah.
Dulu (dan sampai sekarang ini), orang saling mengirim salam lewat siaran. Menitip pesan untuk orang-orang yang punya tempat special di hati; mungkin diam-diam disukai atau selalu masih dicintai. Lagu diputar bukan sekadar hiburan, tetapi simbol perasaan.
Satu lagu bisa jadi “kode” khusus atau punya cerita sendiri, yang saat terdengar hati akan bergetar dengan cara yang sulit dijelaskan. Cihuiiii. Kurang romantis apa coba.
Radio juga mengajarkan kita tentang sabar. Menunggu lagu favorit diputar dan mendengarkan penyiar bercerita sampai selesai. Tidak ada tombol skip, next atau fast forward. Dalam dunia yang serba cepat saat ini, radio mengajak kita untuk pelan-pelan. Nikmati. Mungkin ini yang membuat radio selalu punya tempat khusus.
Radio adalah tempat belajar yang asik untuk penyiar dan pendengar.
Bagi penyiar, radio adalah sekolah kehidupan yang dinamis. Melatih kepekaan membaca situasi, merangkai kata dan kalimat menjadi informasi yang tersaji jelas, juga memilih lagu yang (kira-kira) pas untuk menemani suasana hati pendengar.
Ketika mengasuh sebuah program, otomatis harus membaca banyak refrensi. Paling sederhana adalah ketika memutarkan lagu-lagu permintaan pendengar, penyiar minimal membaca tentang lagu tersebut; penciptanya, cerita di balik lagu atau sekedar profil penyanyi. Mengaitkan tema dan daftar lagu yang dihadirkan saat siaran dengan situasi terkini juga seru dan butuh bacaan update.
Selain punya bahan omongan yang ”berisi”, seorang penyiar juga baiknya punya kemampuan untuk memilih kalimat dan lagu yang pas dengan mood pendengar secara umum. “Secara umum” untuk bagian ini tergantung jam berapa siaran; lagu-lagu yang nge-beat biasanya dihadirkan pagi atau menjelang sore. Saat siang informasinya yang update dan music bergenre campuran, karena biasanya menjelang dan setelah makan siang pendengar punya mood lumayan random. Haha. Jam makan malam diisi dengan bahan siaran yang ringan dan lagu yang lebih slow. Ini juga tergantung genre radio dan segmen pendengar sih ya.
Penyiar belajar untuk memahami mood, selera musik dan memperkaya diri dengan informasi sehingga bisa terkoneksi dengan pendengar yang secara pribadi tidak saling kenal. Ini bukan pekerjaan mudah tentu.
Di radio pendengar juga ikut belajar; tentang hal dan cerita yang terjadi di sekitar, atau tentang musik yang mungkin baru terdengar.
Bisa juga belajar lebih memahami diri dari potongan kenangan yang tiba-tiba muncul ketika sebuah lagu diputar. Sudah sejauh mana melangkah dengan semua cerita, luka dan atau kenangan. Selalu ada pelajaran dari setiap cerita dan terkadang itu termuat dalam lagu dan kenangan yang mengikutinya.
Kadang sepotong kalimat atau sebuah lagu bisa membawa pendengar ke masa sekolah, perjalanan, atau atau bahkan orang tertentu dalam hidup. Radio menjadi salah satu sumber informasi untuk menambah wawasan; dari berita, cerita, hingga musik yang membawa pesan dan rasa. Lagu-lagu yang diputar bukan sekadar hiburan; ada kenangan disana yang mengikat beberapa moment tertentu dalam hidup. Sering kali radio juga membuat seseorang semakin memahami diri dan dunia dalam hitungan menit siaran.
Intinya, radio itu bukan hanya tentang siaran; ada informasi di sana, lagu-lagu yang menemani, dan kenangan yang sering ikut tersimpan diam-diam.
Karena pada akhirnya, radio bukan sekadar gelombang frekuensi atau line streaming tetapi ruang sunyi yang diisi suara. Ada tawa penyiar yang terdengar tulus, atau lagu lama yang tiba-tiba membuat kita tersenyum sendiri.
Radio adalah teknologi dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang. Perlahan menyesuaikan diri dengan zaman dan tetap mempertahankan bagian khasnya.
Selama masih ada yang mau mendengar, selama masih ada suara yang ingin bercerita, radio akan tetap hidup—bukan hanya sebagai media, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.
Saat dunia terasa terlalu bising, terkadang kita hanya butuh teman dengan suara yang paling sederhana: suara radio yang menemani dalam diam. Tidak menuntut, tidak terburu-buru dan tanpa penghakiman.
=========== Salam dari Borong ===========