Opa Kanisius; GOAT (Greatest of All Time) Kami

Opa Kanisius; GOAT (Greatest of All Time) Kami

Jodoh sepanjang perjalanan Golowatu-Borong-Rejeng

Opa Kanisius GOAT Kami
Opa Kanisius, GOAT Kami, dan Mama Lala

Setiap keluarga memiliki sosok yang menjadi panutan dalam iman, kerja keras, dan kasih. Bagi kami, Bapa Kanisius, yang saban waktu kami sapa “Opa Kanis”, adalah pribadi istimewa—GOAT (Greatest of All Time) dalam hidup kami. Tulisan ini adalah ungkapan syukur atas kebijaksanaan, ketulusan, dan teladan yang terus beliau berikan kepada kami hingga saat ini.

Jodoh sepanjang perjalanan Golowatu-Borong-Rejeng

Tidak seperti kisah cinta saya dan teman-teman seangkatan, apalagi perjalanan cinta anak-anak milenial dan Gen Z yang bisa berkomunikasi dengan mudah melalui super apps.

Perjumpaan Bapa Kanisius dan Mama Lala—juga banyak orang tua seangkatan mereka—adalah kisah yang seolah direstui oleh semesta. Seperti galaksi yang terbentuk dari bintang, gas, debu, dan materi gelap yang terikat oleh gravitasi, begitu pula perjuangan Bapa Kanisius mendapatkan Mama Lala serta restu Opa Gaspar dan Nene Vero di Rejeng.

Dulu, Manggarai masih satu wilayah luas, belum terbagi menjadi tiga kabupaten. Jalan raya belum mulus, transportasi masih sulit. Semua bermula dari perkenalan lewat Om Leksi Dugis—sepupu Mama—yang saat itu menjadi atasan Bapa di Kantor Kecamatan Borong. Selanjutnya, kata-kata sederhana tersampaikan melalui surat cinta, diantarkan oleh tangan orang-orang terdekat hingga sampai ke Mama di Rejeng.

Keseriusan Bapa dibuktikan dengan langkah besar berikutnya: pertemuan langsung dengan calon mertua. Dengan segala keterbatasan, ia menempuh perjalanan panjang. Debu musim panas, cahaya bintang, suara jangkrik, bahkan mungkin pertanda mistis menjadi teman seperjalanan. Namun, gravitasi cinta Mama terlalu kuat. Ratusan kilometer ditempuh dengan berjalan kaki hingga akhirnya tiba di Rejeng, lelah tak terperi.

Namun semua terbayar lunas. Sambutan hangat Opa Gaspar dan Nene Vero, serta yang paling berharga—senyum dan paras cantik Mama. ❤️❤️❤️

Tahap berikutnya adalah mengikat janji pertunangan. Keluarga dari Golowatu—tempat lahir dan tinggal Bapa—datang melamar. Meski sejatinya Bapa Kanisius berasal dari Nekang Rowang, karena Opa Viktor menikahi Oma Isdora dan menetap di Anak Wina, di sanalah ia tumbuh besar dan menapaki kisah cintanya.

Potret Pekerja Keras

Soal kerja keras, tak ada yang perlu diragukan dari sosok Bapa Kanisius. Selama empat tahun, setiap hari ia berjalan kaki pulang pergi dari Golowatu ke Ruteng—tujuh kilometer jauhnya—demi gaji Rp16.000 sebagai seorang PNS. Perjuangan itu tak mungkin terjadi tanpa tekad yang kuat dan dukungan Mama Lala.

Hidup di Golowatu saat itu sungguh tidak mudah, terlebih dengan dua anak masih bayi—saya dan adik laki-laki. Mama harus mengurus kebun sekaligus menggendong bayi, sementara air harus ditimba dari lembah berbatu yang jauh. Bahkan, hanya dua hari setelah melahirkan, Mama sudah kembali ke dapur, tanpa bantuan Oma Vero atau Oma Isdora. Tak ada waktu untuk memulihkan tubuh, apalagi merawat diri seperti para ibu masa kini.

Teringat semua itu, hati ini terenyuh. Tak terhitung kata atau perbuatan kami, anak-anaknya, yang mungkin menyakitkan hati Mama. Tapi ia selalu menyimpannya rapat-rapat, tak pernah mengeluh.

Bapa Kanis sendiri, dengan tubuh kurusnya, melangkah sejak pukul 04.00 pagi hingga kembali pukul 19.00 malam selama empat tahun. Semua berubah saat kami pindah ke Ruteng pada 1983. Kami menumpang di rumah Tanta Dora, sebelum akhirnya Bapa berhasil membangun gubuk bambu sederhana berukuran 5×6 meter.

Hemat dan sederhana—itulah yang Bapa dan Mama ajarkan. Mengatur uang belasan ribu rupiah untuk kebutuhan sehari-hari adalah tantangan besar. Uang jajan Rp50,- terasa begitu sulit didapat saat kami masih sekolah dasar.

Ketika sandal jepit Swallow putus, rasa takut pun menjalar. Kami tahu, membeli yang baru bukan perkara mudah. Perlu pertimbangan panjang. 😔

Sepulang kerja, Bapa tak langsung beristirahat. Setelah makan siang, ia pergi ke kebun. Tak jarang, ia memikul batang bambu besar, meski tubuhnya mungkin tak cukup kuat untuk menahan beban seberat itu. Tapi, karena ekonomi tak memungkinkan menyewa pekerja, semua itu ia lakukan dengan penuh suka cita.

Pecinta Olahraga

Bapa Kanis adalah pecinta olahraga sejati. Sepak takraw, bola voli, dan badminton adalah beberapa cabang yang ia kuasai. Selain itu, ia juga pendukung setia sepak bola—dari tingkat desa hingga nasional—baik menonton langsung maupun lewat televisi.

Badminton adalah olahraga keluarga kami. Sejak kecil, kami sudah diajarkan cara menggenggam raket dengan benar. Baik Bapa Kanis maupun Mama Lala sangat andal dalam permainan ini, meski hanya di level RT, hehehe.

Namun, satu hal yang harus diingat, Opa Kanis adalah pelatih yang keras dan tak sabaran. Jika terlalu sering melakukan kesalahan, bersiaplah menghadapi omelan khasnya. Kekejaman Opa dalam olahraga sudah jadi cerita terkenal di keluarga—mulai dari kakak, adik, anak, ponakan, hingga anggota keluarga lainnya. Maka, jika bermain dalam timnya, baik di voli maupun ganda badminton, mental baja adalah syarat utama.

Begitu besarnya cinta Bapa pada olahraga, halaman rumah lama kami pernah disulap menjadi lapangan badminton. Garis batas lapangan dibuat dari pelepah bambu, dan di saat tertentu, lapangan itu juga berfungsi sebagai arena sepak takraw.

Soal menjadi suporter, Opa Kanis tak kenal kompromi, bahkan untuk Timnas Indonesia. Pemain kelas dunia pun tak luput dari kritiknya. Karena itu, mewakili Opa, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada Timnas. Semua itu hanyalah wujud cintanya yang begitu besar pada tanah air. Semoga Indonesia selalu baik-baik saja.

Seorang yang Sangat Mencintai Pendidikan

Bapa Kanis adalah lulusan SMP yang sempat mengenyam pendidikan SMA selama dua tahun. Namun, impiannya harus terhenti karena Opa Viktor tak lagi mampu membiayai.

Meski pendidikannya terbatas, Bapa adalah guru membaca yang disiplin. Sepulang sekolah, kami selalu diuji ulang tentang kemampuan membaca. Saya masih ingat, saat kelas 1 SD, saya sering tertukar antara huruf B dan D. Jika kesalahan itu berulang, sapuan rotan akan mendarat di tangan, dan tokian (ketukan) hinggap di dahi. Saat penerimaan rapor, rasa takut selalu menyelimuti—khawatir jika angka-angka di dalamnya tak memuaskan Bapa.

Bapa Kanis memiliki impian besar meski hanya berijazah SMP. Ia bertekad menyekolahkan kami setinggi mungkin, meski tak tahu bagaimana caranya dengan gaji yang begitu kecil. Mama Lala pun ikut berjuang, beternak babi demi menambah biaya kuliah kami. Anak-anak babi dijual dan uangnya menjadi bagian dari perjalanan pendidikan kami.

Singkat cerita, impian mereka menjadi nyata. Kami bertiga berhasil menjadi sarjana. Semoga cita-cita mulia Bapa Kanis dan Mama Lala dapat kami teruskan untuk cucu-cucu mereka kelak.

Sakit Hampir Merenggut Segalanya

Tahun 2014, Bapa Kanis mengalami serangan yang menyerupai stroke, meski bukan. Kakinya melemah, langkahnya goyah. Kursi roda menjadi sahabat barunya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosisnya dengan saraf terjepit. Operasi di Denpasar menjadi satu-satunya harapan.

Bapa Sesil menemani perjalanan panjang itu. Di sana, dokter memasang pen di tulang belakangnya. Sebulan masa pemulihan, lalu Bapa kembali ke Ruteng dalam kondisi yang lebih baik. Namun, harapan untuk pulih sepenuhnya tak pernah terwujud. Rasa sakit tetap bersarang di kakinya. Tongkat dan kursi roda menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, sakit tak pernah meredupkan senyum dan kasihnya. Bapa tetap setia bertanya kabar, tak pernah absen mengingatkan kami untuk hadir dalam setiap acara keluarga, baik syukur maupun dukacita.

Waktu berlalu, tetapi semesta belum mengizinkannya menikmati alam seperti dulu. Sudah lama Bapa tak mencium harumnya bunga, mendengar kicauan burung, atau melihat gagahnya pohon-pohon di kebunnya.

Tahun 2022, kami kembali membawanya berobat ke Surabaya. Lima bulan di sana, Bapa hanya mengenal aroma kamar apartemen dan rumah kontrakan. Hanya dinding rumah sakit dan wajah-wajah letih para pasien yang menemani. Bagi Bapa, Surabaya hanyalah kota kecil berisi penderitaan.

Tak kunjung ada tindakan medis yang berarti, kami memutuskan membawanya kembali ke Ruteng. Tahun-tahun yang berlalu semakin menggerogoti tubuhnya. Hingga akhirnya, pada September 2024, Bapa benar-benar hanya berteman dengan kasur. Raganya lelah, kakinya tak lagi mampu menopang.

Natal tahun itu kami rayakan bersama di kamar VIP 05 RSUD Ruteng. Selama 13 hari, dokter dan suster dengan penuh ketabahan merawatnya. Hanya dua bulan setelah kembali ke rumah, kondisinya kembali menurun.

Kini tubuh kurus Bapa Kanis bukan lagi karena perjalanan panjang Golowatu-Ruteng, melainkan karena kaki-kakinya tak lagi bertenaga. Yang tersisa hanyalah ingatan yang mulai memudar, senyum yang tak lagi lebar, mata yang sayu, dan tulang-tulang yang menonjol di sekujur tubuh.

Kasih yang tidak Pernah Selesai

Saat tulisan ini dibuat, Bapa masih dirawat di RSUD Ruteng. Keputusasaan, kepasrahan, dan keikhlasan datang silih berganti. Dan, kami terus bertahan menjaga dan merawat Opa Kanis, GOAT-nya kami.

Terima kasih, Bapa Kanisius, telah mengajarkan dengan nyata bagaimana memanggul salib dalam hidup ini.
Kecintaan Bapa pada doa telah menguatkannya hingga saat ini.
Titip salam untuk semua orang tua hebat di dunia.
Terima kasih, Mama Lala, yang tak pernah tidur nyenyak demi Bapa.
Terima kasih, Om Opin, yang berhari-hari terjaga tanpa lelah.
Semoga galaksi yang sama terus menemani dan menjaga kita, merayakan kasih yang tidak pernah selesai dalam hidup kita.

Salam hangat,

Yulita.

Artikel ini ditulis oleh sahabat saya Yulita Jebarut untuk ayahnya, Opa Kanisius, yang sedang sakit. Cinta selalu butuh dinyatakan dan tulisan adalah salah satu cara sederhana untuk itu. Menulislah ketika sesaknya dada butuh dilonggarkan.

Komentar