“Joy is the concomitant of productive activity. It is not a ‘peak experience’ that culminates and ends suddenly, but rather a plateau, a feeling state that accompanies the productive expression of one’s essential human faculties. Joy is not the ecstatic fire of the moment. Joy is the glow that accompanies being.”
Erich Fromm, To Have or To Be?
Saudara-saudariku, para peziarah yang haus akan air kehidupan sejati di tengah gurun fatamorgana yang menyilaukan,
Selamat datang kembali di laboratorium jiwa kita. Kita telah menempuh perjalanan yang panjang, terjal, dan melelahkan menembus lorong-lorong gelap jiwa manusia modern. Kita telah melihat wajah dingin kesepian yang membekukan tulang, menatap cermin retak narsisme yang mengisolasi, berjalan di pasar alienasi di mana manusia dijual sebagai komoditas, dan menyentuh dinginnya nekrofilia budaya yang memuja kematian.
Kini, di Seri 16 ini, kita tiba di sebuah tempat yang tampak sangat berbeda.
Tempat ini tidak gelap; sebaliknya, ia terang benderang oleh lampu neon dan layar LED resolusi tinggi. Tempat ini tidak sunyi; ia dipenuhi musik beat yang menghentak jantung dan tawa yang keras. Tempat ini dipenuhi orang-orang yang tersenyum lebar sambil memegang gelas anggur mahal, memamerkan tas bermerek, atau menatap layar smartphone terbaru dengan mata berbinar. Tempat ini menjanjikan satu hal yang didambakan semua manusia sejak fajar peradaban: Kebahagiaan.
Namun, izinkan saya, sebagai sahabat seperjalanan Anda—seorang sahabat yang telah melihat terlalu banyak jiwa yang hancur di balik senyum palsu yang dipoles filter Instagram—untuk membisikkan sebuah kebenaran yang tidak nyaman: tempat ini adalah ilusi optik terbesar abad ini.
Ini adalah fatamorgana di tengah gurun spiritual kita. Kita akan membedah Ilusi Kebahagiaan Hedonistik.
Kita hidup di zaman yang memegang dogma tak tertulis namun absolut, sebuah perintah baru yang menggantikan Sepuluh Perintah Allah: “Tujuan hidup adalah bersenang-senang, dan penderitaan harus dihindari dengan segala cara.” Zaman ini kita dididik oleh iklan, film, dan media sosial untuk percaya bahwa kebahagiaan adalah sekumpulan momen puncak (peak experiences): liburan eksotis di Labuan Bajo, makanan mewah yang instagramable, belanja tanpa batas saat flash sale, dan maraton hiburan tanpa henti. Kita memburu dopamine hits dari notifikasi media sosial seperti bayi yang menanti botol susu, menjadi konsumen pasif yang gemetar menanti validasi maya.
Namun, pertanyaan krusial yang harus kita ajukan dengan jujur—pertanyaan yang menusuk jantung peradaban kita—adalah: Jika kita memang masyarakat yang paling “bersenang-senang” dalam sejarah manusia, mengapa tingkat depresi, kecemasan (anxiety), dan bunuh diri global justru mencapai rekor tertinggi? Mengapa klinik psikolog penuh sesak oleh anak muda yang memiliki segalanya dan mengapa konsumsi obat antidepresan meningkat tajam? Mengapa setelah pesta usai dan lampu dimatikan, keheningan di kamar tidur terasa begitu mencekik, menakutkan, dan hampa?
Mari kita bedah mengapa kesenangan sesaat (pleasure) tidak akan pernah, dan tidak bisa, menjadi kebahagiaan sejati (joy).
Diagnosis Frommian; Kegagalan “Hedonisme Radikal” dan Mitos Kemajuan. Erich Fromm, dalam analisis profetiknya di buku To Have or To Be? (1976), membongkar kegagalan dari apa yang ia sebut Hedonisme Radikal. Ini adalah gagasan—yang dipupuk oleh kapitalisme konsumeris sejak Revolusi Industri—bahwa kebahagiaan tercapai dengan memuaskan setiap keinginan subjektif sesegera mungkin tanpa batas. Ini adalah janji palsu tentang “kemajuan tanpa akhir” (the great promise of unlimited progress): bahwa produksi tak terbatas akan membawa pada konsumsi tak terbatas, dan konsumsi tak terbatas akan membawa pada kebahagiaan tak terbatas.
Sejarah telah membuktikan bahwa premis ini salah. Fromm membedakan dua konsep yang sering kita campur adukkan dalam bahasa sehari-hari, namun memiliki perbedaan ontologis yang mendasar: kesenangan (pleasure) dan sukacita/kebahagiaan (joy).
Kesenangan (Pleasure) sebagai Pemuasan Fisiologis/Psikologis yang Pasif
Kesenangan bersifat sesaat, eksternal, dan pasif. Ia adalah pemuasan dari sebuah ketegangan atau kekurangan. Mekanismenya bekerja seperti pendulum: awalnya adalah fase ketegangan; saya lapar, saya bosan, saya merasa insecure, saya kesepian. Setelahnya adalah fase pemuasan; saya makan enak, saya scroll TikTok, saya beli baju baru, saya nonton pornografi. Dan akhirnya adalah fase kelegaan sesaat; saya merasa “senang” karena ketegangan hilang.
Masalahnya, kesenangan bekerja dengan prinsip The Hedonic Treadmill (Roda Hedonistik) dan Hukum Hasil yang Semakin Berkurang (Law of Diminishing Returns). Segera setelah keinginan itu terpuaskan, kita kembali ke titik nol, atau bahkan minus (karena kelelahan fisik atau penyesalan finansial/moral). Baju baru itu membosankan setelah dua kali dipakai. Video viral itu basi setelah 5 menit. Makanan enak itu hilang rasanya setelah ditelan. Akibatnya? Kita butuh dosis yang lebih tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama dan kita menjadi pecandu sensasi. Kita “memiliki” momen-momen kesenangan, tapi tidak “menjadi” orang yang bahagia. Mungkin kita kenyang secara fisik, tapi busung lapar secara spiritual.
Sukacita (Joy) sebagai Konsekuensi Kehidupan Produktif yang Aktif
Berbeda dengan kesenangan yang pasif (menelan dunia), sukacita (joy/gioia) adalah kondisi aktif. Sukacita bukanlah tentang memuaskan nafsu konsumtif, melainkan tentang menghidupkan potensi manusiawi, ia adalah efek samping atau penyerta dari aktivitas produktif yang bermakna. Sukacita tidak bisa dibeli di toko; ia harus dilahirkan dari dalam batin.
Sukacita lahir saat kita mencintai seseorang tanpa menuntut balasan (cinta ibu, persahabatan sejati, pengorbanan). Ia lahir saat kita berjuang menyelesaikan karya seni, menulis buku, memahami ide yang sulit, atau menolong orang lain yang menderita. Sukacita tidak membuat kita “kenyang dan mengantuk” (seperti kesenangan hedonistik), tetapi membuat kita “hidup, terjaga, dan bersemangat”. Sukacita adalah api yang menghangatkan rumah batin kita secara konstan; bukan kembang api yang meledak indah lalu padam menyisakan asap hitam.
Fromm menulis dengan tajam: “Orang yang ‘memiliki’ (hedonis) bergantung pada hal-hal di luar dirinya untuk memberinya sensasi. Jika barang itu hilang, ia hancur. Orang yang ‘menjadi’ (produktif) memiliki sumber mata air di dalam dirinya sendiri yang tidak bisa dicuri.”[1]
Mekanisme Ilusi: Mengapa Lubang di Jiwa Semakin Besar?
Mengapa hedonisme gagal secara sistemik? Karena ia mencoba menyembuhkan masalah eksistensial dengan solusi material. Ini seperti mencoba mengobati patah hati dengan menempelkan plester di lutut, atau mencoba memadamkan api dengan menyiramkan bensin.
Bayangkan Anda memiliki lubang besar di dada Anda. Lubang itu bernama “Keterpisahan” (Separateness)—rasa cemas mendalam karena kita sendirian di alam semesta yang luas, rasa takut akan kematian yang tak terelakkan, dan kerinduan akan makna hidup yang transenden. Ini adalah kondisi dasar manusia. Budaya populer memberi kita resep instan: “Jangan pikirkan lubang itu! Itu terlalu menyakitkan. Isilah dengan barang, dengan pengalaman mewah, likes dan validasi orang lain! Lupakan kematian dengan berpesta!”
Kita pun menuruti resep itu dan melempar barang-barang ke dalam lubang di dada kita. Membeli gadget terbaru, yang membuat lubang tertutup sebentar oleh rasa bangga. Kita pergi ke kelab malam untuk mabuk, yang membuat lubang tertutup musik keras dan alkohol yang menumpulkan kesadaran. Makan di restoran all-you-can-eat, yang membuat lubang tertutup lemak dan gula.
Namun, lubang eksistensial itu tidak memiliki dasar (bottomless pit). Barang-barang itu jatuh begitu saja ke dalam kehampaan, dan lubang itu menganga lagi, kali ini lebih lapar dan lebih lebar karena kita telah melebarkannya dengan nafsu. Inilah yang disebut Fromm sebagai Homo Consumens: manusia yang mulutnya terbuka lebar, ingin menelan seluruh dunia (minuman, film, rokok, pemandangan, orang lain), namun tetap menjadi bayi abadi yang menangis kelaparan, tidak pernah dewasa secara psikis.
Dalam neurosains modern, tragedi ini dijelaskan sebagai perang antara Dopamin dan Serotonin/Oksitosin.
Dopamin adalah hormon “pengejaran” (seeking) dan “antisipasi”. Ia memberikan rasa senang yang intens tapi singkat (thrill) dan bersifat adiktif. Budaya kita adalah “Budaya Dopamin”. Setiap notifikasi, setiap diskon belanja, setiap level game memicu ini. Serotonin dan oksitosin adalah hormon “kepuasan” (contentment) dan “koneksi”. Ia memberikan rasa tenang, damai, terhubung dan tidak adiktif. Hedonisme membanjiri otak kita dengan dopamin, yang justru menekan produksi serotonin. Kita menjadi “terstimulasi” (overstimulated) tapi “kurang gizi” secara spiritual. Kita merasa “high”, tapi tidak pernah merasa “home” (pulang); gembira, tapi tidak damai.
Sant’Egidio: Membongkar Mitos Kesenangan Egois
Komunitas Sant’Egidio, melalui spiritualitas yang berakar kuat pada Injil dan kehidupan nyata di jalanan bersama orang miskin, menawarkan kritik tajam dan profetik terhadap ilusi ini. Mereka tidak anti-kebahagiaan. Justru sebaliknya, mereka menawarkan jalan menuju Sukacita Injili (Evangelical Joy) yang melampaui hedonisme dangkal.
Kritik terhadap “Konsentrasi pada Diri Sendiri” (Self-Referentiality)
Renungan Adven 2023 (3 Desember 2023) memberikan diagnosis yang sangat akurat tentang mengapa kita tidak bahagia meski dikelilingi hiburan yang tanpa henti:
“Kita begitu berkonsentrasi pada diri kita sendiri dan hal-hal yang berkaitan dengan diri kita sehingga kita berisiko tidak memperhatikan Natal. Tanpa Natal kita tetap saja dalam keadaan begitu, kita terus berputar di sekitar diri kita sendiri.”[2]
Perhatikan frasa ‘berputar di sekitar diri sendiri’. Ini adalah deskripsi spiritual yang presisi untuk hedonic treadmill. Kita berlari kencang mengejar kesenangan, tetapi secara batiniah kita tidak bergerak ke mana-mana; kita hanya mengorbit ego kita sendiri.
Hedonisme, pada intinya, adalah aktivitas yang berpusat pada diri sendiri (self-referential). Pertanyaannya selalu: “Apa yang aku rasakan? Apa yang aku dapatkan? Apakah aku terhibur? Apakah aku terlihat sukses?” Sant’Egidio mengingatkan bahwa “berputar di sekitar diri sendiri” adalah resep pasti untuk ketidakbahagiaan. Itu adalah orbit kematian. Itu adalah penjara cermin, bukan kebebasan. Kebahagiaan sejati (Natal/Inkarnasi) hanya datang dari “perjumpaan” dengan yang lain. Selama kita sibuk memuaskan ego, kita tidak akan pernah bertemu “Yang Lain” (Tuhan dan sesama), dan karena itu, kita tetap kosong, terasing di pulau ego kita sendiri yang semakin mengecil.
Ketakutan yang Memicu Konsumsi (Manic Defense)
Renungan Adven 2024 (1 Desember 2024) mengaitkan ketakutan global dengan hilangnya harapan:
“Jumlah ‘Orang akan mati ketakutan’ dan menutup diri semakin bertambah. Mudah untuk menyerah dan membiarkan harapan… memudar.”[3]
Orang yang takut akan masa depan—takut perang, takut krisis ekonomi, takut kesepian, takut menjadi tidak relevan—sering kali lari ke hedonisme sebagai Pertahanan Manik (Manic Defense). “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Hedonisme dalam konteks ini sering kali bukan ekspresi sukacita yang tulus, melainkan topeng keputusasaan. Kita berpesta dengan keras supaya kita tidak perlu berpikir tentang kekosongan hidup kita. Kita berteriak di konser supaya kita tidak mendengar jeritan batin kita yang meminta makna. Sant’Egidio mengajak kita untuk berhenti lari, berhenti menutup diri dalam benteng konsumsi, dan mulai membangun harapan lewat solidaritas nyata. Kebahagiaan bukan pelarian, tapi konfrontasi dengan realitas melalui cinta.
Bangun dari “Mimpi Konsumerisme” (Spiritual Awakening)
Renungan Adven 2022 (27 November 2022) menyerukan dengan lantang:
“Adven adalah saat yang tepat bagi kita untuk mulai lagi mendengarkan Firman Tuhan… Saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur.”[4]
“Tidur” di sini bisa dimaknai sebagai hipnotis massal konsumerisme. Kita hidup seperti somnambulis (orang yang berjalan dalam tidur), digerakkan oleh algoritma iklan dan tren pasar. Membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk mengesankan orang yang tidak kita sukai. Kita “tertidur” terhadap realitas penderitaan sesama. “Bangun” berarti sadar kembali (mindfulness) akan kebutuhan jiwa yang sejati: kebutuhan akan relasi yang autentik, bukan transaksi yang artifisial. Bangun berarti menyadari bahwa barang tidak memiliki jiwa, dan karena itu tidak bisa mencintai kita balik.
Jalan Keluar: Dari Kesenangan (Fun) Menuju Sukacita (Joy)
Bagaimana kita memutus rantai ini? Bagaimana kita keluar dari jebakan tikus hedonistik yang melelahkan ini? Sant’Egidio menawarkan jalan alternatif yang disebut gratuitas dan persahabatan.
Paradoks Gratuitas: Memberi untuk Menerima Kebahagiaan
Logika hedonisme dan pasar adalah “Aku mengambil untuk diriku.” Logika Sant’Egidio (dan Injil) adalah “Aku memberi tanpa mengharap kembali.” Ajaibnya, secara psikologis, kebahagiaan justru ditemukan dalam logika kedua. Ini adalah misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh ekonomi klasik. Ketika Anda memberikan waktu Anda untuk menemani seorang lansia yang kesepian di panti jompo (tanpa dibayar, tanpa dipuji, mungkin ruangannya bau dan membosankan), Anda mungkin tidak merasakan “kesenangan” fisik—Anda mungkin merasa lelah atau bosan di awal (karena tidak ada dopamin instan). Tetapi, saat Anda melihat senyum merekah di wajah keriput itu, saat tangan Anda digenggam erat, saat ia berkata “terima kasih sudah datang”; ada sesuatu yang hangat mengalir di dada Anda. Itu bukan dopamine; itu adalah Sukacita. Itu adalah rasa “berguna”, rasa “terhubung”, rasa “manusiawi”. Lubang di jiwa itu mulai tertutup, bukan oleh barang, tapi oleh kasih yang mengalir melalui Anda.
Pesta yang Berbeda: Christmas Lunch sebagai Liturgi Kebahagiaan
Lihatlah tradisi Makan Siang Natal Sant’Egidio di seluruh dunia. Ini adalah antitesis dari pesta duniawi. Pesta hedon yang begitu mewah, eksklusif, tiket mahal, tamu terseleksi berdasarkan status/kecantikan, fokus pada makanan gourmet dan pamer busana. Hasilnya: kenyang tapi sering kali ada persaingan sosial, rasa iri, dan kekosongan setelahnya. Namun, di pesta Sant’Egidio itu gratis, inklusif (tamu utamanya adalah orang miskin, tuna wisma, pengungsi, lansia), fokus pada relasi, nama panggilan, dan pelayanan meja. Di Makan Siang Natal, kebahagiaan tidak datang dari menu makanan semata, tetapi dari fakta revolusioner bahwa tidak ada yang dikucilkan. Kebahagiaan muncul karena sekat-sekat sosial runtuh; profesor duduk makan bersama pemulung. Di sini, kebahagiaan tidak dipicu oleh ‘eksklusivitas’ (saya masuk, Anda tidak), melainkan oleh ‘inklusivitas’ (kita semua ada di sini). Perjamuan ini menyembuhkan luka keterpisahan yang gagal disembuhkan oleh pesta-pesta duniawi. Ini adalah perayaan kehidupan bersama (conviviality). Ini adalah liturgi perlawanan terhadap kesedihan individualisme. Di sinilah eutopia (tempat yang baik) terwujud.
Asketisme Aktif (Active Asceticism): Seni Menikmati Kualitas
Ini bukan berarti kita harus hidup menderita atau menolak dunia. Fromm dan Sant’Egidio mengajarkan kita untuk menikmati hal-hal sederhana secara mendalam, bukan mengonsumsi hal-hal mewah secara dangkal. Menikmati percakapan mendalam dengan teman selama 2 jam lebih memuaskan jiwa daripada scrolling media sosial selama 3 jam. Mencoba menikmati keheningan doa (liturgi senja) yang damai lebih menyegarkan otak daripada kebisingan kelab malam. Menikmati tindakan berbagi roti dengan orang lapar lebih membahagiakan daripada tindakan menimbun harta di gudang. Ini adalah seni hidup (the art of living); memilih yang esensial dan membuang yang superfisial.
Kesimpulan: Berhenti Minum Air Laut
Saudara-saudariku, mengejar kebahagiaan lewat hedonisme itu seperti meminum air laut saat haus. Semakin Anda minum, semakin Anda haus, karena garamnya (nafsu) mengeringkan sel-sel Anda, hingga akhirnya Anda mati dehidrasi secara spiritual.
Ilusi itu kuat. Lampu-lampu neon dunia ini menyilaukan. Iklan-iklan di smartphone Anda akan terus berteriak bahwa Anda akan bahagia jika Anda membeli produk ini, jika Anda pergi ke tempat itu, jika Anda memiliki tubuh seperti model itu. Itu adalah kebohongan yang dirancang untuk mengambil uang dan waktu Anda.
Tantangan minggu ini: Puasa Hedonisme.
Saya menantang Anda untuk melakukan eksperimen kecil untuk merebut kembali kendali atas jiwa Anda. Puasa Belanja dengan mencoba untuk tidak membeli apa pun yang tidak esensial (kebutuhan pokok) selama satu minggu. Tahan impuls itu dan amati perasaan apa yang muncul. Puasa layar dengan mencoba untuk tidak mencari hiburan pasif (Netflix/medsos) selama satu malam penuh. Matikan layar. Hadapi keheningan. Aksi produktif dengan mengganti waktu kosong itu untuk “aktivitas produktif jiwa”; mengunjungi seseorang yang sakit atau kesepian. Tulis jurnal reflektif atau surat fisik untuk teman lama. Berdoa dalam hening, mendengarkan nafas dan Tuhan. Melayani seseorang yang membutuhkan bantuan fisik Anda.
Rasakan perbedaannya. Mungkin di awal terasa sepi dan gelisah (karena level dopamin turun), tetapi perlahan Anda akan merasakan ketenangan yang stabil (serotonin dan makna naik). Anda akan berhenti menjadi budak kesenangan yang tidak pernah puas, dan mulai menjadi Tuan atas kebahagiaan Anda sendiri. Anda akan menemukan bahwa mata air itu ada di dalam, bukan di luar.
====== Salam dari tigakecoa; salam dari Borong ======
[1]Erich Fromm, To Have or To Be?, (New York: Harper & Row, 1976), Bab 1 & 2. Fromm membedakan secara tajam antara kesenangan (pleasure) yang bersifat fisiologis/pemuasan nafsu, dengan kebahagiaan (joy) yang merupakan penyerta dari aktivitas produktif dan pertumbuhan diri. Ia mengkritik “Radical Hedonism” sebagai mitos gagal era industri yang mereduksi manusia menjadi mesin pencerna.
[2]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 03 Desember 2023: Hari Minggu Adven Pertama”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2023-2024.pdf). Teks ini mengkritik “konsentrasi pada diri sendiri” (self-referentiality) yang menghalangi perjumpaan sejati (Natal). Hedonisme adalah bentuk tertinggi dari pemujaan diri sendiri yang berujung pada isolasi spiritual, membuat manusia tuli terhadap panggilan orang lain.
[3]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 01 Desember 2024: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2024-2025.pdf). Menghubungkan fenomena “mati ketakutan” dengan hilangnya harapan. Dalam psikologi klinis, keputusasaan sering dikompensasi dengan pencarian kesenangan sesaat (manic defense) untuk melupakan kecemasan masa depan yang tidak pasti.
[4]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 27 November 2022: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1 (File: renungan sant’egidio 2022-2023.pdf). Metafora “bangun dari tidur” adalah panggilan untuk kesadaran penuh (mindfulness/wakefulness), lawan dari keadaan “terhipnotis” oleh konsumerisme, rutinitas otomatis, dan ilusi kebahagiaan semu.