02. Patologi Normalitas: Ketika Sakit Jiwa Dianggap Wajar oleh Masyarakat Sakit

02. Patologi Normalitas: Ketika Sakit Jiwa Dianggap Wajar oleh Masyarakat Sakit

“Fakta bahwa jutaan orang berbagi sifat buruk yang sama tidak menjadikan sifat buruk tersebut sebagai kebajikan, fakta bahwa mereka berbagi begitu banyak kesalahan tidak membuat kesalahan tersebut menjadi kebenaran, dan fakta bahwa jutaan orang berbagi bentuk patologi mental yang sama tidak membuat orang-orang tersebut sehat jiwanya.”

Erich Fromm, The Sane Society

Pendahuluan: Ilusi Kewarasan Statistik dan Cacat yang Diterima

Saudara-saudariku, para pembaca yang kritis dan peziarah kebenaran,

Selamat datang kembali di laboratorium kesadaran kita. Setelah pada seri sebelumnya kita melakukan autopsi terhadap “Epidemiologi Kesepian” yang menggerogoti tulang sumsum relasi kita, kini kita tiba pada lapisan kedua dari diagnosis klinis terhadap peradaban modern. Kita harus menghadapi sebuah konsep yang mungkin akan mengguncang fondasi kenyamanan intelektual kita, sebuah paradoks yang oleh Erich Fromm disebut sebagai: Patologi Normalitas (The Pathology of Normalcy).

Dalam kuliah psikologi dasar atau dalam percakapan sehari-hari, kita sering diajarkan sebuah definisi yang sederhana namun berbahaya tentang kesehatan mental. Kita diajarkan bahwa menjadi “sehat” (sane) berarti memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri (adjustment) dengan norma-norma masyarakat, berfungsi secara efisien dalam sistem ekonomi, dan tidak menimbulkan gangguan publik. Sebaliknya, “sakit” (insane) didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri (maladjustment) atau penyimpangan dari norma mayoritas.

Namun, Erich Fromm, mentor intelektual kita dalam perjalanan ini, mengajukan pertanyaan yang radikal, subversif, dan menakutkan:

Bagaimana jika masyarakat itu sendiri yang sakit?

Bagaimana jika standar “normal” yang kita gunakan untuk mengukur kewarasan sebenarnya adalah sebuah patologi yang telah melembaga? Fromm menyebut ini sebagai socially patterned defect (cacat yang terpola secara sosial).

Jika sebuah masyarakat didorong oleh keserakahan yang tak terpuaskan, narsisme kolektif, kekerasan struktural, dan ketidakpedulian yang sistematis terhadap penderitaan manusia, maka kemampuan untuk “menyesuaikan diri” dengan masyarakat tersebut bukanlah tanda kesehatan mental. Sebaliknya, itu adalah tanda patologi yang terbagi rata. Seseorang yang dapat berfungsi dengan sempurna dalam masyarakat yang gila—orang yang tidak merasa terganggu saat melangkahi tubuh gelandangan di trotoar, orang yang bisa tidur nyenyak saat negaranya membom warga sipil demi minyak, atau eksekutif yang merasa sukses setelah memecat ribuan buruh demi efisiensi saham—mungkin, secara klinis, adalah orang yang paling sakit. Dia telah kehilangan sebagian dari kemanusiaannya demi menjadi sekrup yang berfungsi dalam mesin sosial.

Kewarasan, dalam perspektif humanistik, tidak boleh didefinisikan secara statistik (apa yang dilakukan mayoritas), melainkan secara normatif humanis (apa yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan jiwa manusia).

Konsep “Folie à Millions” (Kegilaan Jutaan Orang): Konsensus Halusinasi

Dalam psikiatri klinis, kita mengenal istilah Folie à Deux (kegilaan berdua), sebuah fenomena langka di mana dua orang yang memiliki hubungan emosional sangat dekat berbagi delusi atau psikosis yang sama. Erich Fromm, dengan ketajaman sosiologisnya, memperluas konsep ini menjadi skala makro: Folie à Millions.[1]

Tesisnya mengerikan namun nyata: Kita hidup dalam sebuah konsensus halusinasi. Karena jutaan orang menderita cacat yang sama, kita tidak lagi menganggapnya sebagai cacat. Kita saling memvalidasi kegilaan kita sehingga ia tampak sebagai kewarasan. Kita menciptakan “perisai sosial” yang mencegah kita menyadari betapa sakitnya cara hidup kita.

Mari kita lihat contoh konkretnya dalam kehidupan sehari-hari. Jika saya berdiri di perempatan jalan Thamrin atau Times Square dan berbicara sendiri dengan suara keras, berteriak pada hantu yang tidak ada, Anda akan memanggil ambulans atau polisi, menganggap saya mengalami gangguan jiwa. Tetapi jika jutaan orang duduk di meja makan bersama keluarga, secara fisik hadir namun secara mental absen, mengabaikan pasangan dan anak-anak yang hidup di depan mereka, dan “berbicara sendiri” dengan layar gawai mereka—tertawa pada video TikTok, marah pada komentar Facebook, atau tenggelam dalam kecemasan berita—kita menyebutnya “konektivitas”, “multitasking”, atau sekadar “gaya hidup modern”.

Inilah Patologi Normalitas: Ketika perilaku yang secara objektif merusak struktur jiwa manusia (memutuskan hubungan primer, mematikan empati, menyembah benda mati) divalidasi secara sosial sebagai “normal”, bahkan “sukses”. Kita tidak merasa sakit karena semua orang di sekitar kita memiliki gejala yang sama. Rasa aman semu ini diperoleh dari konformitas kawanan (herd conformity). Kita lebih takut menjadi berbeda (terasing) daripada menjadi salah. Kita rela mengorbankan jiwa kita asalkan kita tidak dianggap “aneh” oleh tetangga kita.

Gejala Klinis Masyarakat Sakit: Tiga Wajah Normalitas Patologis

Untuk memahami seberapa dalam patologi ini telah merasuk ke dalam DNA budaya kita, mari kita bedah tiga gejala utama yang dianggap “wajar” di era kita. Kita juga akan melihat bagaimana spiritualitas Sant’Egidio menawarkan diagnosis tandingan yang menyembuhkan.

a. Skizofrenia Afektif: Pemisahan Antara Pengetahuan dan Perasaan

Manusia modern adalah raksasa dalam kognisi tetapi kerdil dalam afeksi. Kita tahu segalanya, tapi kita tidak merasakan apa-apa. Anda dan saya; kita memiliki akses data real-time tentang setiap tragedi di muka bumi. Kita melihat berita tentang anak-anak yang kelaparan di Yaman, pengungsi yang tenggelam di Laut Tengah, atau perang di Ukraina di layar 4K kita yang jernih, sambil menyantap makan malam yang lezat di ruang tamu yang ber-AC.

Otak kita mencatat data tersebut (kognisi: “Oh, ada 100 orang mati, menyedihkan”), tetapi hati kita tidak bergetar (afeksi: nol). Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan suci, tidak ada gerakan viseral untuk bertindak. Informasi hanya lewat sebagai “konten” untuk dikonsumsi, bukan sebagai panggilan untuk bertobat.

Ini adalah mekanisme disosiasi massal. Dalam psikologi individu, disosiasi adalah pertahanan diri terhadap trauma yang tak tertahankan. Namun, ketika disosiasi menjadi budaya, ia melahirkan apa yang disebut Paus Fransiskus dan Komunitas Sant’Egidio sebagai Globalisasi Ketidakpedulian (The Globalization of Indifference).[2]

Kita menganggap “normal” untuk mengetahui penderitaan tanpa melakukan apa-apa. Kita menyebutnya “realistis”, “profesional”, atau “menjaga kesehatan mental” (self-preservation). Padahal, itu adalah anestesi moral yang mematikan.

Dalam Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, terutama renungan tentang perumpamaan “Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin” (Lukas 16:19-31), penyakit ini didiagnosis dengan sangat tajam. Perhatikan dosa orang kaya itu. Dia tidak menyiksa Lazarus; dia tidak memukulnya; dia tidak mengusirnya dengan anjing. Dosanya bukanlah kebencian aktif. Dosanya adalah dia menganggap keberadaan Lazarus yang sekarat dan penuh borok di depan pintunya sebagai “pemandangan normal”. Dia melihat, tapi tidak melihat. Dia telah kehilangan kemampuan untuk merasa terganggu oleh penderitaan orang lain. Normalitas inilah yang membawanya ke neraka—bukan karena kejahatan aktif, tapi karena kebutaan pasif yang dianggap wajar. Dia telah kehilangan jembatan empati yang menghubungkan manusia dengan manusia.[3]

b. Narsisme yang Dilembagakan: “Aku” sebagai Pusat Gravitasi

Masyarakat kapitalis lanjut mendidik kita sejak dini bahwa “mengejar kepentingan sendiri” (self-interest) adalah hukum alam yang paling rasional dan satu-satunya motif yang valid. Egoisme, yang dalam tradisi spiritual dianggap sebagai akar dosa, telah dibaptis menjadi kebajikan ekonomi tertinggi.

Kita didorong untuk melakukan personal branding (memasarkan diri seolah kita produk), melakukan akumulasi (mengumpulkan untuk diri karena takut kekurangan), dan memprioritaskan security (keamanan diri di atas segalanya). Altruisme dicurigai sebagai kemunafikan, kebodohan, atau tanda kelemahan mental.

Jika Anda memutuskan untuk menghabiskan hidup melayani orang miskin tanpa dibayar, berjalan kaki di malam dingin untuk membagikan selimut, masyarakat akan bertanya dengan sinis: “Apa untungnya buat kamu? Apa agendanya? Kamu gila?”.

Lihatlah paradoks patologi normalitas ini; Orang yang menimbun miliaran dolar di rekening offshore sementara tetangganya kelaparan disebut “sukses”, “sintar”, dan “waras”. Majalah bisnis menaruh wajahnya di sampul sebagai teladan. Bandingkan dengan orang yang membagikan mantelnnya kepada orang miskin, seperti Santo Martinus atau relawan Sant’Egidio, sering kali disebut “naif”, “kurang perhitungan”, atau “idealistis yang tidak menapak tanah” (kurang waras).

Komunitas Sant’Egidio, melalui persahabatan radikal dengan orang miskin, menantang definisi kewarasan ini. Dalam renungan tentang Santo Fransiskus Assisi, komunitas sering merenungkan konsep “kegilaan suci” (holy madness). Fransiskus dianggap gila oleh ayahnya (Pietro di Bernardone) dan uskupnya karena dia menelanjangi dirinya, membuang harta warisan, dan mencium orang kusta. Namun, sejarah membuktikan bahwa Fransiskuslah yang paling waras di zamannya. Mengapa? Karena dia telah memulihkan kodrat manusia yang sejati: kodrat untuk mencintai tanpa syarat dan hidup dalam persaudaraan universal. Dialah yang “sembuh” dari penyakit keserakahan dan kekerasan yang melanda Asisi saat itu.[4]

c. Nekrofilia Terselubung: Cinta pada yang Mati dan Mekanis

Dalam analisis sosial-psikologisnya yang paling mendalam, The Anatomy of Human Destructiveness, Fromm mendiagnosis bahwa manusia modern perlahan-lahan menggeser orientasi cintanya dari Biophilia (cinta pada yang hidup, tumbuh, organik, dan tak terduga) ke Necrophilia (cinta pada yang mati, mekanis, artifisial, dan dapat dikontrol).[5]

Ini tidak berarti kita tertarik pada mayat secara seksual, tetapi kita tertarik pada segala sesuatu yang tidak memiliki kehidupan, yang dapat diprediksi dan dikuasai sepenuhnya.Kita lebih mencintai mobil kita yang mengkilap (benda mati) daripada tetangga kita yang berisik (makhluk hidup). Kita merawat mesin dengan penuh kasih sayang, sementara kita mengabaikan manusia yang rusak.Kita lebih peduli pada kebersihan “hukum dan ketertiban” (keteraturan mati) daripada keadilan yang hidup yang seringkali menuntut perubahan yang berantakan. Kita membangun kota-kota yang megah dengan beton, baja, dan kaca (nekrofilis), tetapi kita secara sistematis mengusir orang-orang miskin, pedagang kaki lima, dan gelandangan (biofilis/hidup) ke pinggiran karena mereka dianggap “kotor”, “kumuh”, dan “tidak teratur”.

Patologi normalitas membuat kita merasa nyaman dengan benda, tapi cemas dengan manusia.

Kita lebih suka berinteraksi dengan mesin ATM atau chatbot daripada dengan teller manusia, karena mesin tidak pernah lelah, tidak pernah marah, dan tidak pernah menuntut empati kita. Kita sedang membunuh kehidupan demi kenyamanan kontrol.

Sant’Egidio sebagai “Rumah Sakit Jiwa” Terbalik

Jika dunia ini adalah bangsal psikiatri raksasa di mana pasiennya (kita semua, masyarakat konsumeris) berpikir kita adalah dokter yang waras, maka Komunitas Sant’Egidio hadir sebagai semacam terapi kejut atau “Rumah Sakit Jiwa Terbalik”.

Mengapa saya katakan terbalik? Karena di dalam komunitas ini, perilaku-perilaku yang dianggap “aneh”, “buang-buang waktu”, atau “tidak produktif” oleh logika dunia, justru dipraktikkan sebagai standar normalitas baru yang menyembuhkan.

Terapi “Gratuitas” (cuma-cuma) untuk menyembuhkan komersialisasi, dimana melawan patologi transaksi; ada uang ada barang, tidak ada makan siang gratis, Sant’Egidio mengajarkan logika gratuitas. Dalam dokumen dan website resmi Sant’Egidio, ditekankan bahwa semua pelayanan kepada orang miskin, sekolah damai, dan mediasi konflik dilakukan secara sukarela, tanpa bayaran, di waktu luang setelah bekerja.[6]Secara psikologis, praktik ini memulihkan kesehatan mental karena membuktikan kepada diri kita sendiri bahwa nilai waktu dan tenaga kita tidak ditentukan oleh harga pasar. Kita mematahkan rantai perbudakan ekonomi. Kita menjadi “waras” kembali ketika kita bisa memberi tanpa menghitung, membuktikan bahwa kita adalah manusia yang bebas, bukan mesin penjual otomatis.

Terapi Perjumpaan Fisik untuk Menyembuhkan Disosiasi.

Terapi ini melawan patologi disosiasi digital dan ketakutan akan “yang kotor”, komunitas ini memaksa anggotanya untuk “menyentuh daging”. Tidak cukup berdoa dari jauh atau mengirim donasi online; Anda harus menyentuh tangan lansia yang keriput, membersihkan luka orang jalanan, makan semeja dengan pengungsi, dan mendengarkan bau napas mereka. Dalam Renungan Harian (Masa Prapaskah), sering dikutip kisah orang Samaria yang Baik Hati. Yesus membalikkan pertanyaan ahli Taurat dari “Siapakah sesamaku?” (pertanyaan teoritis/kategorisasi) menjadi “Siapakah yang menjadi sesama?” (pertanyaan praktis/tindakan). Dunia yang “sakit” (diwakili oleh Imam dan Lewi yang lewat) menganggap menghindar itu wajar demi keamanan, kebersihan ritual, atau efisiensi waktu. Itu adalah “normalitas” pada zamannya. Orang Samaria (yang dianggap sesat dan asing) justru adalah satu-satunya yang “waras” secara manusiawi karena dia berhenti, turun dari keledainya, dan menyentuh.

Sant’Egidio mengajarkan bahwa menyentuh luka orang miskin adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan mati rasa (numbness) kita sendiri. Sentuhan itu menghidupkan kembali saraf-saraf kemanusiaan yang telah mati dan menghubungkan kembali sirkuit empati yang putus.

Kesimpulan: Keberanian untuk Menjadi “Tidak Normal”

Saudara-saudariku, menjadi sehat di tengah masyarakat yang sakit menuntut keberanian yang luar biasa. Ini bukan jalan bagi pengecut. Erich Fromm menyebutnya The Courage to be Oneself (Keberanian untuk menjadi diri sendiri) atau keberanian untuk menjadi manusia sepenuhnya.

Untuk sembuh dari patologi normalitas, kita harus bersedia menjadi “orang asing” di negeri sendiri, menjadi “tanda bantahan” di tengah arus deras. Kita harus berani disebut “aneh” karena kita menyapa gelandangan dan tahu namanya, sementara orang lain melewatinya seolah mereka transparan.Kita harus berani disebut “tidak efisien” karena kita menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan cerita lansia yang berulang-ulang, padahal waktu itu bisa dipakai untuk menghasilkan uang atau mengejar karir.Kita harus berani disebut “pemimpi” karena kita percaya perang bisa diakhiri dengan doa, dialog, dan persahabatan, bukan dengan lebih banyak senjata dan dinding pemisah.

Undangan di bab ini adalah undangan untuk melakukan pemberontakan batin.

Jangan biarkan “normalitas” menidurkan hati nurani Anda. Jangan biarkan statistik membenarkan ketidakpedulian Anda.

Seperti yang tertulis dalam Renungan Sant’Egidio yang sangat relevan (Minggu Adven I, 27 November 2022): “Adven adalah saat yang tepat bagi kita untuk ‘bangun dari tidur’, untuk bangkit dari tempat tidur yang nyaman dari kebiasaan kita…”[7]

Tidur itu adalah patologi normalitas.

Kita hidup, kita makan, kita bekerja, kita belanja, tapi roh kita tertidur dalam kenyamanan yang membius. Ayolah, kita perlu bangun. Kita perlu membuka mata dan menyadari bahwa sakit jiwa yang sebenarnya bukanlah depresi atau kecemasan yang kita rasakan (itu mungkin sinyal bahwa jiwa kita masih hidup dan memberontak!), melainkan ketidakmampuan kolektif kita untuk mencintai saudara kita yang menderita.

Kesehatan mental yang sejati, dalam sintesis pemikiran Fromm dan spiritualitas Sant’Egidio, adalah kemampuan untuk melihat orang lain bukan sebagai objek, bukan sebagai ancaman, bukan sebagai alat, tetapi sebagai saudara. Dan jika pandangan itu dianggap gila oleh dunia, maka marilah kita menjadi gila—gila karena cinta, gila karena harapan, gila karena kemanusiaan yang utuh.

=========== Salam dari Borong ===========


[1]Fromm, Erich. (1955). The Sane Society. New York: Rinehart & Co. Hlm. 12-15. Di sini Fromm memperkenalkan konsep bahwa seluruh masyarakat bisa kekurangan kewarasan (socially patterned defect), dan bahwa konsensus mayoritas tidak menjamin kebenaran mental.

[2]Riccardi, Andrea. (2016). Peripheries: Crisis and Novelty for the Church. Buku ini, yang sering dikutip dalam literatur Sant’Egidio, menjelaskan secara mendalam bagaimana ketidakpedulian global adalah penyakit utama peradaban kota yang memisahkan pusat dari pinggiran.

[3]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Kamis, 16 November 2023” (Lukas 16:19-31) tentang Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin, hlm. 219. Kutipan kunci: “Orang kaya itu… tidak melihat Lazarus… dia telah kehilangan kemampuan untuk melihat”. Ini adalah diagnosis tentang kebutaan selektif yang dianggap normal.

[4]Fromm, Erich. (1964). The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil. New York: Harper & Row. Hlm. 37-40. Analisis Fromm tentang Santo Fransiskus sebagai contoh antitesis dari narsisme dan bagaimana cinta Fransiskus pada kemiskinan adalah bentuk kewarasan tertinggi.

[5]Fromm, Erich. (1973). The Anatomy of Human Destructiveness. New York: Holt, Rinehart and Winston. Bab tentang Nekrofilia menjelaskan ketertarikan pada yang mekanis, teratur, dan mati sebagai lawan dari kehidupan yang spontan.

[6]Website Sant’Egidio (https://www.santegidio.org/). Bagian “About Us” dan prinsip “Gratuity” yang menjelaskan bahwa kasih tidak boleh diperjualbelikan.

[7]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Renungan “Minggu, 27 November 2022: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1. Teks ini menggunakan metafora “tidur” untuk menggambarkan kondisi spiritual manusia modern yang terbius oleh rutinitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *