Opa Nanu; Emad Jeany

Opa Nanu; Emad Jeany

Sudah lama pengen menulis tentang bapa, begitu kami memanggilnya sebelum kami menikah dan mengubah panggilan menjadi opa Nanu. Beliau adalah emad Jeany kata orang Manggarai; bapanya Jeany. Walaupun dia punya dua anak lain yang juga menyandang namanya; Shanty Wajong dan Ari Wajong. Tetapi karena identitas biasanya melekat berdasarkan hak kesulungan, maka nama Marianus Bea Wajong itu kemudian menjadi popular dengan emad Jeany setelah beliau menikah. Tentu saja identitas sebagai putra Pocoleok yang tinggal di Wae Koe adalah identitas utamanya sebagai seorang pribadi.

Banyak sekali cerita tentang bapa yang rasanya memang harus ditulis. Bukan karena dia bapak saya atau karena dia emad Jeany dan si Jeany bisa menulis, tetapi karena memang banyak sekali hal yang bisa dibagi tentang seorang bapa; seorang opa Nanu.

Laki-laki yang sangat mencintai istri; almarhumah Maria Goreti dan keluarganya.

Bapa sangat mencintai mama, itu terlihat nyata dan jelas sekali. Saya masih bisa mengingat dengan baik kenangan bapa yang dengan setia setiap hari mengantar dan menjemput mama ke- dan dari kantor. Bahkan kalaupun mereka bertengkar hebat, itu motor Yamaha pagi-pagi akan tetap dipanaskan, standby untuk kekasih hatinya. Beberapa kesempatan mama akan memilih jalan kaki saja dengan cemberut, tetapi bapa akan diam-diam mengikuti atau pura-pura keluar rumah sekedar memastikan mama serius mau jalan kaki. Mereka sering bertengkar, atau mungkin tepatnya mama yang lebih sering berteriak dan marah-marah; bapa akan menanggapi semua itu dengan selow dan kadang dibawa becanda.

Setelah cukup dewasa saya berpikir bahwa mungkin kemarahan dan beban mama dari kantor atau dari tempat lain di luar rumah menemukan pelampiasannya pada seorang Nanu yang dengan penuh cinta juga menyadari itu semua. Kadang jawaban dan candaan bapa menambah panas suasana tetapi lebih sering buat mama akhirnya reda dan tersenyum. Mereka pernah bernostalgia di meja makan tentang cinta yang bapa pendam sejak lama. Bagaimana dalam waktu lama dia sering memandang mama dari kejauhan, mengikuti semua cerita hidupnya dan mengagumi kecantikan mama dari jarak aman. Butuh waktu sangat lama untuk mengumpulkan keberanian, meyakinkan mama sampai akhirnya mereka menikah.

Bapa juga sangat menyayangi anak-anaknya dan teman dari anak-anaknya.

Sejak TK bapa selalu setia mengantar kami dengan motor Yamaha merahnya yang ramah dan melekat dalam ingatan banyak orang. Hampir semua teman sekolah kami yang searah pernah naik motor itu, bahkan juga yang tidak searah jalan pulang. Beramai-ramai dan berdesak-desakan, seru. Asal tau rumahnya, kalau ada teman yang telat dijemput, bapa pasti akan dengan senang hati mengantarkan mereka dulu baru pulang. Sampai saya SMA yang jaraknya cuma “sejengkal” dari rumah juga kadang masih sering dijemput. Mau main ke rumah teman juga bapa akan dengan setia mengantar dan menjemput; bahkan sampai di Tulung, Lempe tau Leda. Tahun 1990-an, Lempe itu jauh sekali rasanya. Sepertinya ini bagian dari cara bapa menjaga anak gadisnya dan itu membekas indah. Untuk yang main ke rumah kami juga tidak usah khawatir, kalau kesorean maka bapa akan mengantar mereka pulang. Bapa itu perhatian dan baik hati sekali.

Si paling rapi jali tanpa cela.

Aihhh soal yang satu ini jangan ditanya lagi. Andai ikat pinggang bisa disetrika maka bapa akan melakukannya sebelum keluar rumah. Semua yang mengenal seorang Marianus Wajong akan bersaksi tentang sisir kecil yang selalu terselip dikaus kaki dan akan diambil langsung setelah turun dari motor dan membuka helm. Yup, bapa selalu bersepatu kalau keluar rumah, tidak ada sandal jalan-jalan hanya ada sepatu. Bapa alergi sekali dengan penampilan yang berantakan; rambut harus sempurna, baju dan celana apalagi, sepatu harus selalu disemir mengkilap. Jangan coba keluar rumah dengan pakaian seadanya apalagi celana robek atau baju kusut, akan panjang diskusinya. Akan berujung ceramah panjang tentang tidak menghargai diri dan orang lain, kondisi kesehatan jiwa raga dan banyak topik lainnya yang disangkutpautkan dengan penampilan rapi. Bapa bahkan mencuci dan menyetrika sendiri semua pakaiannya; jangan tanya baju-baju berwarna putih dalam rumah, bapa akan ambil alih mengurusnya atas dasar kebersihan paripurna.

Awal-awal jadi PNS, setiap 2 minggu  saya akan membawa seragam ke Ruteng untuk “dilicinkan” dan dibentuk kembali tulang benulangnya. Bapa sendiri yang akan menyetrika dan memastikan lipatannya sempurna. Tentu saja ada omelan yang mengikuti.

“Kamu ini perempuan tidak tau setrika, tulang kain bisa dobel banyak begini” atau

“Begini kalau jahit seragam pake kain murah, tulang lari kiri kanan susah kita kejar”. Hahaha.

Bahkan ketika di RSUD pun bapa pung  parlente tetap dipertahankan; infus di tangan kiri dan sisir di tangan kanan adalah pemandangan biasa setiap hari. Sebelum jadwal kontrol para suster, bapa akan memastikan rambut sudah rapi dan baju tidak kusut. Sungguh mati itu merepotkan yang jaga; belum lagi komentar pedas soal kusamnya kami yang jaga karena kurang tidur.

“Itu ada cermin, cuci muka dulu sedikit. Dokter mau datang cek, nanti dia pikir kamu yang sakit.”

Deeee ndeeeee aeh.

Opa di RSUD dengan Infus di tangan kiri, sisir di tangan kanan
Infus di tangan kiri, sisir di tangan kanan

Opa Nanu si emad Jeany ini sangat suka bercerita.

Bapa itu pengingat yang baik. Banyak tempat dan kejadian dia ingat dengan detail lalu dengan sukarela akan diceritakannya kembali. Walaupun kadang sering berulang untuk 1 cerita dan kita tidak punya pilihan selain mendengarkan. Jangan coba kasi judul, bapa akan cerita detail 5W1H. Tetapi emang begitu, opa Nanu ingat banyak sekali hal, orang dan kejadian; beliau punya koleksi cerita yang cukup untuk berapa lama pun waktu yang diberikan. Bahkan ada cerita tentang jembatan yang menjadi batas antara Kecamatan Kota Komba dan Elar yang dibangun tahun 1984 di Galong. Bapa masih ingat detail lokasi jembatan, cerita seru dan serem saat pelaksanaan pekerjaan, dan bahkan nama salah satu tukangnya setelah saya tunjukkan foto narsis saya di jembatan itu pas ke Wukir.

Hal yang jarang, bahkan hampir tidak pernah dia ceriterakan kembali hanyalah saat-saat terakhir bersama mama di RS dr. Soetomo. Bapa selalu mencoba menghindari detail bagian saat mama mencarinya disaat-saat akhir dan kemudian memilih untuk berdua saja di dalam ruangan itu sampai saatnya mama pergi. Mungkin bapa mau menyimpan bagian ini sendiri saja; itu yang akhirnya saya simpulkan. Untuk hal-hal yang sifatnya terlalu pribadi bapa tidak suka membahasnya; air mata bercerita banyak, lalu dia akan diam, duduk dan berdoa. Beberapa hal berat dalam kehidupan kami anak-anaknya selesai tanpa diskusi panjang. Hanya kenyamanan yang dalam karena dibolehkan tidur di kamarnya sambil melihat dia berdoa dan mendengar dia bilang, “Apapun yang terjadi, ini rumah. Pulang kalau butuh atau pun harus pulang”

Opa Nanu yang sangat terobsesi dengan Surbaya.

Saya bukannya typo, tapi memang demikian opa Nanu menyebut Surabaya; Surbaya. Entah kenapa bapa sangat mencintai Surbaya. Kiblat untuk apapun selalu kota pahlawan itu. Tentang makanan, bagaimana ramainya kota dan ramahnya orang-orang, apalagi soal kesehatan, Surbaya adalah yang terbaik.

Ketika ada berita Bupati Alor memarahi staf Kementerian Sosial, bapa jadi tidak suka dengan Bupati tersebut. Alasannya sederhana, karena Ibu Risma si Menteri Sosial kala itu adalah mantan Gubernur Jawa Timur. Lebih dari sebulan kami harus mendengar bapa mengomel soal Bapak Bupati yang menurutnya “tidak bisa begitu dengan tamu”; yang tamunya tentu saja adalah anak buah ibu Risma dan si ibu yang buat Taman Bungkul jadi cantik. Ndeeeeeee…

Sekali waktu bapa harus operasi lutut, bapa ngotot minta operasi di Surabaya. Jakarta bukan pilihan karena dokter-dokternya belum tentu sebaik di Surbaya. Oh my God. Bahkan ketika punya menantu perawat disalah satu RS terbaik di Jakarta, bapa tetap berkilah bahwa kalau di Surbaya akan begini dan begitu; kalau di Jakarta tidak begini dan begitu dan bapa mau seperti yang di Surbaya. Anak mantu tarik nafas dalam-dalam. Maka Jakarta hanya untuk kontrol dan urusan pengobatan  tetap di Surbaya. Baiklah….

Drama Surabaya belum berakhir.

Saat tulisan ini dibuat, bapa sedang di Surbaya untuk urusan gigi palsu. Kami bertiga sebagai anak, para menantu dan cucu bersepakat bahwa ini akan menjadi gigi palsu paling mahal dalam sejarah keluarga kami. Luthfi bahkan bilang, “Opa, kalau hanya mau buat gigi palsu kenapa jauh sekali ke Surabaya? Pergi di mama Epin saja di Kedutul, dekat dan bagus.” Hahaha.

Mana mempan omongan begitu. Berangkat ke Surabaya dengan cerita panjang lebar tentang soto Bengawan yang semakin enak, bebek Taman Bungkul yang selalu enak tapi belum bisa dicoba kali ini karena gigi belum terpasang. Surabaya yang panasnya minta ampun tetapi selalu buat opa Nanu kembali.

Saya bahkan sempat berpikir mungkin ada perempuan yang sangat menawan disana, yang belum bapa temui lagi sejak terakhir dia disana. Bukankah hanya perempuan dengan segala cerita dan atau kenangannya yang bisa membuat seorang laki-laki menjadi keras kepala dan tidak peduli dunia sekitar?

Tetapi sekelebat bayangan mama dan tatapan kosong bapa di RSU dr Soetomo bertahun silam mengikis prasangka tentang perempuan yang masih hidup. Surabaya adalah kotanya bersama mama. Tempat terakhir bapa memeluk seorang Maria Goreti yang masih bernafas kala itu.

Cerita Surbaya dan drama gigi mungkin masih akan panjang episodenya.

Yang jelas kami semua merindukan opa Nanu dengan semua opa punya cerita dan kenangan yang selalu seru, seperti kata Dania. Kami juga sedang menyiapkan energi dan waktu ekstra untuk mendengarkan cerita tentang klinik gigi, perkembangan alat dan para tenaga kesehatan di Surabaya, bagaimana kondisi Pasar Turi tahun 2025 ini dan banyak cerita lain tentang Surabaya. Rumah Tenda sepi tanpa omelan opa tentang Lando yang hobi jalan dan pulang malam, Rafa yang malas berkabar, Dania yang harus selalu dimarahi untuk ganti seragam, atau Luthfi yang selalu berantakan soal penampilan. Belum lagi drama tambahan seorang Marta. Tapi semua kesalahan akan termaafkan dengan kalimat, “Dokter di klinik gigi kemarin bukan yang tempo hari lagi ka bapa?”

Saya menulis ini sambil mendengarkan lagu-lagu Mus Mujiono dan kerocong Hetty Koes Endang. Ini adalah lagu pengantar tidur siang di rumah tenda bertahun lalu yang bisa diterima sama  semua, karena kalau Julio Iglesias dengan La Paloma bapa kurang suka. Hehe.

==== Salam dari Borong ====

2 Comments

Komentar