“Kebebasan bukanlah hadiah yang kita terima, melainkan tugas yang harus kita capai. Ketakutan akan kebebasan adalah akar dari ketundukan kita kepada tiran dan konformitas kita kepada kerumunan.”
Erich Fromm, Escape from Freedom
Pendahuluan: Beban Kebebasan yang Tak Tertahankan dan Teror Isolasi
Saudara-saudariku, para pejuang jiwa yang terkasih,
Selamat datang kembali di ruang kuliah ini. Silakan menempati kursi kesadaran Anda dan siapkan batin untuk pembedahan yang mendalam. Jika pada sesi-sesi sebelumnya kita berbicara tentang “nutrisi” yang membuat jiwa bertumbuh (keterhubungan, transendensi, dll.), hari ini kita harus berani menatap sisi gelap dari psike manusia. Kita akan berbicara tentang racun yang kita telan secara sukarela, racun manis yang melumpuhkan potensi kemanusiaan kita.
Tema kita sesi ini adalah paradoks terbesar modernitas: Ketakutan akan Kebebasan (The Fear of Freedom).
Dalam narasi sejarah populer, kita sering diajarkan dogma bahwa kebebasan adalah tujuan akhir yang didambakan semua orang. “Merdeka atau mati!” teriak para pejuang revolusi dari masa ke masa. Kita berasumsi secara naif bahwa jika belenggu fisik (penjara, perbudakan, kolonialisme) dilepas, manusia akan otomatis bahagia. Namun, psikologi klinis dan tragedi sejarah abad ke-20—di mana jutaan orang secara demokratis dan antusias memilih diktator fasis—mengajarkan fakta yang lebih suram dan membingungkan. Bagi manusia modern yang terisolasi; cemas, dan kehilangan akar, kebebasan sering kali dirasakan bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai beban yang mengerikan.
Mengapa? Karena dalam masyarakat pra-modern (abad pertengahan), manusia memang tidak bebas (terikat pada tanah, kasta, dan gereja), tetapi mereka memiliki tempat yang pasti dan rasa aman. Mereka tahu siapa mereka. Sebaliknya, manusia modern telah memutus rantai-rantai itu. Dia memiliki “Kebebasan Dari” (Freedom From) otoritas lama, tetapi dia belum memiliki “Kebebasan Untuk” (Freedom To) merealisasikan dirinya. Dia terombang-ambing di ruang hampa.
Menjadi individu yang sepenuhnya bebas tanpa memiliki tujuan berarti menghadapi tiga teror. Pertama, isolasi moral yakni berdiri sendiri di tengah badai kosmis tanpa perlindungan klan, tradisi, atau otoritas absolut yang memberitahu apa yang benar dan salah. Kedua, beban tanggungj jawab yakni bertanggung jawab penuh atas setiap pilihan hidup, yang berarti menanggung risiko penyesalan yang tak berujung. Tidak ada lagi “takdir” atau “tradisi” untuk disalahkan jika kita gagal. Ketiga, kecemasan eksistensial yakni menanggung risiko kesepian yang mencekam; tidak ada lagi “kami”, hanya ada “aku” yang kecil dan fana.
Beban ini sering kali terlalu berat bagi struktur tulang punggung mental manusia yang rapuh.
Kebebasan negatif ini menciptakan kecemasan (anxiety) dan perasaan ketidakberdayaan (powerlessness). Dan ketika beban ini tak tertahankan, manusia mencari jalan pintas. Secara tidak sadar, mereka ingin “lari” dari kebebasan itu. Mereka ingin kembali ke rahim yang aman, mereka ingin menyerahkan ego mereka yang menyusahkan kepada sesuatu yang lebih besar.
Erich Fromm, dalam Escape from Freedom (1941), memetakan tiga jalan pelarian utama yang masih menghantui kita hingga hari ini. Mari kita bedah satu per satu secara mikroskopis, dan melihat bagaimana spiritualitas Sant’Egidio menawarkan jalan keluar yang sejati, bukan sekadar pelarian.
Otoritarianisme: Hasrat untuk Melebur (Symbiosis)
Mekanisme pelarian pertama dan yang paling berbahaya secara politik adalah otoritarianisme. Ini bukan sekadar sistem politik, melainkan struktur karakter. Ini adalah kecenderungan untuk menyerahkan kemerdekaan diri sendiri dan meleburkan diri dengan seseorang atau sesuatu di luar dirinya untuk mendapatkan kekuatan yang tidak dimilikinya sendiri.
Dalam biologi, ini disebut simbiosis—seperti janin dalam rahim ibu atau parasit pada inangnya. Dalam psikologi dewasa, simbiosis ini adalah patologi karena mencegah pertumbuhan dan kemandirian. Otoritarianisme memiliki dua wajah yang tampak berlawanan tapi berasal dari akar yang sama: ketidakmampuan untuk berdiri sendiri.
a. Masokisme (Hasrat untuk Tunduk)
Ini adalah perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, dan ketidakartian yang kronis. Individu ini mencari “magic helper” (penolong ajaib), “pemimpin kuat”, atau “institusi besar” untuk tempat bergantung. Ia tidak tahan menjadi dirinya sendiri dan membuat keputusan sendiri, maka ia mencoba menjadi bagian dari sesuatu yang lain.
Logika bawah sadarnya“Aku kecil, lemah, dan penuh keraguan. Aku hanyalah debu. Tapi jika aku melebur ke dalam partai besar, negara kuat, korporasi raksasa, atau pemimpin karismatik ini, aku menjadi bagian dari kekuatan itu. Aku menjadi besar melalui mereka. Aku selamat.”
Manifestasi modernnya ini tidak hanya terjadi dalam politik fasis. Ini terjadi dalam hubungan percintaan yang toksik (“aku tidak bisa hidup tanpamu“), dalam fanatisme terhadap influencer atau selebritas di mana penggemar kehilangan identitas dirinya, hingga fundamentalisme agama yang mematikan nalar kritis demi kepastian dogmatis. Mereka menukar kebebasan dengan rasa aman. Rasa sakit akibat ketundukan itu lebih bisa ditanggung daripada rasa sakit akibat kesepian.
b. Sadisme (Hasrat untuk Menguasai)
Ini adalah kebalikannya, namun pasangannya yakni keinginan untuk menelan orang lain, mengontrol mereka, dan membuat mereka bergantung pada kita. Sadisme dalam pengertian Fromm bukan sekadar menyakiti fisik, tapi hasrat untuk menguasai mutlak makhluk lain.
Logika bawah sadarnya“Aku sendirian dan takut akan kekosongan. Tapi jika aku bisa menguasai orang lain, membuat mereka menderita atau mematuhi perintahku, aku membuktikan bahwa aku nyata. Aku memiliki dampak. Aku adalah Tuhan kecil.”
Si sadis sebenarnya sama lemahnya dengan si masokis. Dia butuh korbannya. Tanpa orang untuk dikuasai, dia hancur dan merasa tidak berdaya. Birokrat yang mempersulit urusan orang kecil hanya untuk merasakan kekuasaan, atau orang tua yang mendominasi anak sepenuhnya, adalah contoh sadisme halus ini.
Sant’Egidio menawarkan antitesis radikal: Persahabatan Sejajar. Dalam komunitas ini, struktur hierarki diminimalkan demi persaudaraan. Tidak ada “Guru Besar” yang maksum yang harus dipatuhi secara buta (anti-masokisme). Hubungan antara anggota, dan terutama hubungan dengan orang miskin, didasarkan pada kesetaraan anak-anak Allah.
Melawan Sadisme adalah dengan tidak menguasai orang miskin melalui bantuan yang kita berikan. Kita menolak “sadisme filantropis” yang sering terjadi di dunia amal, di mana si pemberi merasa berhak mengatur hidup si penerima (“Saya beri kamu uang, jadi kamu harus rajin ke gereja”). Di Sant’Egidio, bantuan diberikan dengan gratis dan hormat, tanpa syarat yang mengikat kebebasan orang miskin.
Melawan Masokisme dengan cara kita tidak menyembah pemimpin komunitas. Otoritas di Sant’Egidio bersifat pelayanan, bukan dominasi. Setiap anggota diajak untuk berpikir dan bertanggung jawab.
Praktik konkretnya kita berjalan bersama. Ketika seorang profesor universitas duduk makan bersama seorang gelandangan di Mensa, struktur otoritarian runtuh. Keduanya saling membutuhkan, keduanya saling memberi. Ini adalah terapi untuk menyembuhkan kecenderungan simbiosis patologis dalam jiwa kita.
Destruktifitas: Melenyapkan Ancaman
Jika otoritarianisme mencoba mengatasi kecemasan dengan menyatu (secara sakit), destruktifitas mencoba mengatasinya dengan melenyapkan.
Logika Psikologisnya“Dunia di luar sana menakutkan, asing, dan mengancam saya. Saya tidak bisa bersatu dengannya (karena saya gagal mencintai). Maka, jika saya menghancurkan dunia itu, saya tidak perlu lagi merasa takut. Jika tidak ada ‘orang lain’, maka ‘aku’ aman dalam kesendirianku yang absolut.”
Destruktifitas bukanlah insting bawaan (seperti yang diyakini Freud dalam konsep Thanatos), melainkan hasil dari kehidupan yang terblokir. Seperti air sungai yang dibendung; jika alirannya ditutup, air itu tidak berhenti mengalir, melainkan akan meluap menghancurkan desa atau membusuk menjadi rawa penyakit.
“Destruktifitas adalah hasil dari kehidupan yang tidak dijalani (unlived life).” — Erich Fromm[1]
Jika energi manusia tidak bisa disalurkan untuk menciptakan (cinta, seni, kerja yang bermakna, seksualitas yang sehat), energi itu tidak hilang. Ia akan berbalik arah dan bermutasi menjadi penghancuran. Dalam level mikro seperti vandalisme remaja, cyberbullying yang kejam, penyalahgunaan narkoba (penghancuran diri sendiri), dan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam Level Makro seperti terorisme, perang genosida, dan perusakan lingkungan. Orang yang bahagia dan produktif tidak punya alasan untuk menghancurkan. Hanya orang yang putus asa yang ingin melihat dunia terbakar.
Sant’Egidio melawan destruktifitas bukan dengan hukuman atau penjara, melainkan dengan membuka saluran kreativitas damai (sublimasi energi). Program Schools of Peace (Sekolah Damai) untuk anak-anak di daerah kumuh (slums) dan wilayah rawan konflik adalah contoh konkret dari “eksorsisme destruktifitas”.
Anak-anak di lingkungan ghetto sering kali energinya terblokir oleh kemiskinan, diskriminasi, dan ketiadaan masa depan. Sekolah formal sering membuang mereka. Secara alami, energi frustrasi ini bisa meledak menjadi kekerasan geng atau kriminalitas. Sant’Egidio datang dan berkata: “Kamu bukan sampah. Kamu bisa menciptakan sesuatu.” Mereka diajari melukis, bermusik, dan belajar bahasa. Seni adalah antitesis kekerasan. Mereka diajari membantu lansia. Energi agresif diubah menjadi energi protektif (kasih sayang).Energi yang tadinya potensial menjadi “anggota geng motor” disublimasikan menjadi “duta perdamaian”. Sant’Egidio membuka bendungan yang macet itu sehingga air kehidupan bisa mengalir menyuburkan bumi, bukan menghancurkannya.
Konformitas Otomat (Automaton Conformity): Hilangnya Diri
Inilah mekanisme pelarian yang paling umum, paling halus, dan paling sulit dideteksi di masyarakat demokrasi modern. Tidak ada diktator berseragam militer yang memaksa kita, tapi kita memaksa diri kita sendiri dengan tirani opini publik yang tak terlihat.
Individu berhenti menjadi dirinya sendiri. Ia mengadopsi sepenuhnya kepribadian yang ditawarkan oleh pola budaya. Ia menjadi seperti hewan yang memiliki mimikri protektif (seperti bunglon): berubah warna sesuai lingkungan demi keamanan agar tidak dimangsa oleh kritik sosial.
Gejala Klinis yang tampak. Pertama, pada pikiran; kita berpikir apa yang “seharusnya” kita pikirkan. Opini kita hanyalah reproduksi dari apa yang kita baca di koran atau trending topic di media sosial. Kita merasa itu pendapat kita, padahal itu pendapat algoritma. Kedua, pada perasaan; kita merasakan apa yang “seharusnya” kita rasakan (wajib bahagia dan tersenyum saat liburan, wajib marah saat ada isu viral). Spontanitas mati. Ketiga, pada kehendak; kita membeli apa yang iklan suruh kita beli untuk membuktikan eksistensi kita. Pilihan kita hanyalah ilusi; kita memilih antara merek sabun A atau B, tapi kita tidak bebas untuk tidak memilih.
Hasilnya tragis; yaitu hilangnya diri (Loss of Self). Manusia menjadi robot (otomat). Dia tidak lagi merasa cemas atau kesepian karena dia sudah sama persis dengan jutaan orang lain. Telah menjadi atom yang seragam. Tapi harga yang dibayar adalah nyawanya sendiri. Dia sudah mati di dalam; tersenyum, tapi matanya kosong. Hidup, tapi tidak ada “siapa-siapa” di rumah tubuhnya.
“Individu tersebut hidup dalam ilusi bahwa ia bertindak menurut kehendaknya sendiri, padahal sebenarnya ia hanya melakukan apa yang diharapkan darinya…”[2]
Sant’Egidio mengajarkan Non-Konformitas Injili (The Courage to be Different).
Menjadi Kristen, dalam visi ini, berarti berani menjadi “ikan yang berenang melawan arus”, bukan ikan mati yang hanyut terbawa arus sungai.
Dunia (arus konformitas) bilang,“Waktu adalah uang. Efisiensi adalah tuhan. Orang tua yang tidak produktif, lambat, dan sakit-sakitan adalah beban ekonomi. Buang mereka ke panti jompo atau biarkan mereka mati sendirian di apartemen mereka.” SedangkanSant’Egidio (Non-Konformitas) bilang, “Tidak! Waktu adalah relasi. Kunjungi mereka. Habiskan waktumu secara cuma-cuma. Jadikan mereka sahabat, bukan beban. Nilai manusia bukan pada produktivitasnya, tapi pada keberadaannya.”
Dunia (arus konformitas) bilang, “Orang asing adalah ancaman. Kunci pintumu. Bangun tembok! Tolak pengungsi demi keamanan nasional!” sedangkan Sant’Egidio (non-konformitas) bilang,“Buka pintu. Buat koridor kemanusiaan. Mereka adalah saudaramu yang terluka. Keamanan sejati datang dari persaudaraan, bukan tembok.”
Dengan berani melawan arus budaya dominan (apa yang disebut Paus Fransiskus sebagai “budaya pembuangan”), anggota komunitas mendapatkan kembali “diri” mereka yang otentik. Mereka berhenti menjadi robot pasar yang diprogram untuk konsumsi, dan mulai menjadi manusia yang memiliki hati nurani, keberanian moral, dan kehendak bebas yang sejati.
Penutup: Keberanian Menjadi Diri Sendiri di Tengah Arus
Saudara-saudariku,
Setiap hari, di setiap keputusan kecil, kita dihadapkan pada persimpangan jalan: Lari atau Tumbuh?
Apakah kita akan lari ke dalam pelukan otoritas yang menindas demi rasa aman semu? Apakah kita akan meledakkan kecemasan kita dengan menghancurkan orang lain di kolom komentar internet? Atau apakah kita akan menghapus wajah unik kita dan menjadi topeng masal yang setuju pada segala hal?
Dalam Renungan Harian Komunitas, kita sering mendengar kisah tentang nabi-nabi yang berani berdiri sendiri melawan arus. Seperti Daniel yang menolak menyembah patung raja meski diancam singa, atau seperti Yesus yang menolak menjadi raja duniawi meski ditawari kekuasaan seluruh dunia. Mereka adalah model manusia yang tidak lari.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2)[3]
Ayat ini adalah manifesto anti-konformitas otomat. “Dunia” di sini bukan bumi yang indah, melainkan sistem pelarian yang sakit.
Metode Sant’Egidio adalah sekolah keberanian. Keberanian untuk tidak lari dari kenyataan yang menyakitkan. Keberanian untuk memikul beban kebebasan dengan sukacita. Mengapa sukacita? Karena kita tahu kita tidak memikul beban itu sendirian dalam isolasi, melainkan bersama Sahabat Sejati kita, Yesus Kristus, dan dalam persekutuan solidaritas dengan orang-orang miskin. Di sana, kebebasan bukan lagi beban, melainkan tarian cinta.
Jangan jadi robot. Jangan jadi tiran. Jangan jadi perusak. Jadilah Manusia.
=============== Salam dari tigakecoa di Borong ===============
[1]Fromm, Erich. (1941). Escape from Freedom. New York: Farrar & Rinehart. Halaman 184. Tesis utama Fromm bahwa destruktifitas bukanlah insting biologis primer, melainkan produk psikologis sekunder dari pertumbuhan yang terhambat. Ketika Eros (daya hidup) digagalkan, Thanatos (daya mati) mengambil alih.
[2]: Ibid. Halaman 208-209. Analisis tentang konformitas otomat sebagai cara manusia modern menghilangkan perbedaan antara “aku” dan dunia untuk menghilangkan kecemasan, namun dengan harga kehilangan integritas diri. Ini disebut Fromm sebagai “pseudo-self”.
[3]Komunitas Sant’Egidio. (2022). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf). Kutipan Roma 12:2 sering menjadi dasar refleksi untuk melawan konformitas duniawi dan mempertahankan kebaruan Injil yang sering kali berlawanan dengan logika pasar dan kekuasaan.