12.  Cinta Sebagai Jawaban Satu-Satunya: Membedah Anatomi The Art Of Loving

12.  Cinta Sebagai Jawaban Satu-Satunya: Membedah Anatomi The Art Of Loving

“Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence. Without love, humanity could not exist for a day.”

Erich Fromm, The Art of Loving

Pendahuluan: Runtuhnya Tembok Penjara dan Kegagalan Solusi Parsial

Selamat pagi, para mahasiswa kehidupan. Selamat datang di jantung perkuliahan kita.

Saudara-saudariku, kita telah berkelana jauh melalui lorong-lorong gelap jiwa manusia dalam seri-seri sebelumnya. Kita telah melihat diagnosis yang mengerikan: manusia adalah hewan yang “terluka” oleh kesadarannya sendiri. Kita menjerit dalam kesepian (Seri 01), kita mencoba membius rasa sakit itu dengan menelan barang-barang konsumsi (Seri 03), dan kita lari ketakutan mencari perlindungan pada diktator atau konformitas massal (Seri 10).

Semua itu—narkoba, kerja gila-gilaan, fanatisme politik, belanja kompulsif, hingga kecanduan layar kaca—sebenarnya adalah upaya putus asa dan gagal untuk menjawab satu pertanyaan purba yang menghantui setiap jiwa sejak Adam terusir dari Eden: “Bagaimana aku bisa mengatasi keterpisahanku yang menyakitkan ini tanpa kehilangan integritas diriku?”

Sejarah manusia adalah kuburan dari jawaban-jawaban yang gagal tersebut. Mari kita lihat mengapa solusi-solusi parsial itu tidak memadai:

Pertama, orgiastik (mabuk/seks tanpa cinta). Ini adalah upaya untuk menyatu dengan menghilangkan kesadaran. Gagal karena penyatuannya bersifat sementara, biologis, dan membius. Saat efek alkohol atau orgasme fisik hilang, individu terbangun dengan rasa terpisah yang kembali dengan intensitas ganda, sering kali disertai rasa malu dan rasa bersalah yang mendalam.

Kedua, konformitas (ikut arus). Ini adalah upaya menyatu dengan cara menghilangkan perbedaan. Gagal karena untuk bersatu dengan orang lain, seseorang harus membunuh diri-nya yang otentik dan menggantinya dengan diri semu (pseudo-self). Ini bukan persatuan (unity), ini adalah keseragaman (uniformity). Anda aman dalam kawanan, tapi jiwa Anda mati.

Ketiga, kerja kreatif. Seniman atau pekerja menyatu dengan materinya. Ini solusi yang mulia, namun tetap gagal secara sosial karena hanya menyatukan manusia dengan benda (lukisan, mesin, buku), bukan dengan subjek manusia lain yang hidup. Pelukis mungkin tidak kesepian saat melukis, tapi saat kuas diletakkan, dia tetap terasing secara interpersonal.

Di tengah puing-puing kegagalan ini, hanya ada satu jawaban yang memuaskan kebutuhan ganda manusia akan penyatuan (union) dan integritas (integrity) secara bersamaan. Jawaban itu adalah Cinta.

Namun, berhati-hatilah! Kata “cinta” di abad ke-21 ini telah menjadi pelacur bahasa yang paling lelah.

Kita menggunakannya untuk segala hal dengan sembrono: “Saya cinta Tuhan”, “Saya cinta bakso”, “Saya cinta mobil saya”, “Saya cinta pacar saya”. Kita mencampuradukkan nafsu, ketergantungan, dan kebiasaan dengan cinta.

Erich Fromm, dalam The Art of Loving (1956), membersihkan kata ini dari debu sentimentalisme Hollywood dan lagu pop cengeng. Bagi Fromm—dan bagi praksis Sant’Egidio—cinta bukanlah perasaan sentimental yang menimpa seseorang secara pasif (falling in love), melainkan sebuah seni; sebuah fakultas; sebuah kekuatan aktif yang harus dipelajari, didisiplinkan, dan dilatih (standing in love). Cinta adalah satu-satunya tindakan waras yang menjaga kewarasan manusia di tengah dunia yang gila.

Dinamika Memberi: Mengapa Orang Kikir Tidak Bisa Mencintai

Di pasar kapitalis tempat kita hidup, kata “memberi” memiliki konotasi negatif atau minimalis. Memberi berarti “melepaskan sesuatu”, “berkorban”, atau “menjadi lebih miskin”. Si pedagang (the marketing character) hanya mau memberi jika dia menerima imbalan yang setara (exchange). Jika tidak ada imbalan, dia merasa tertipu. Cinta baginya adalah barter: “Aku beri kamu perhatian, kamu beri aku seks/status.”

Namun, dalam psikologi humanis dan teologi Sant’Egidio, definisi ini dijungkirbalikkan secara radikal. Memberi adalah ekspresi tertinggi dari potensi (potency). Memberi bukan pengurangan, tapi perluasan.

“Dalam tindakan memberi, saya mengalami kekuatan saya, kekayaan saya, kuasa saya. Pengalaman vitalitas dan potensi yang memuncak ini mengisi saya dengan kegembiraan. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima, bukan karena itu adalah pencabutan (deprivation), tetapi karena dalam tindakan memberi terletak ekspresi dari kehidupanku.” — Erich Fromm[1]

Mari kita terapkan ini pada fenomena relawan Sant’Egidio. Bayangkan seorang relawan muda yang menghabiskan malam Minggunya—waktu emas untuk bersenang-senang—untuk membagikan sup panas dan selimut kepada tunawisma di stasiun kereta Roma atau kolong jembatan Jakarta. Menurut logika pasar, dia bodoh; dia rugi waktu, tenaga, uang dan bensin. Dia menjadi “miskin” dalam hal sumber daya. Sedangkan menurut logika cinta, dia pulang dengan wajah bersinar dan energi yang meluap, meskipun tubuhnya lelah.

Mengapa? Karena saat dia memberi, dia menegaskan kepada dirinya sendiri dan dunia: “Aku punya sesuatu untuk dibagikan. Jiwaku tidak kosong. Aku kaya secara manusiawi.” Si kikir tidak bisa mencintai bukan karena dia jahat, tapi karena dia impoten secara psikologis—dia hidup dalam teror kemiskinan batin, takut jika dia memberi sedikit saja, dia akan habis tak bersisa. Relawan Sant’Egidio membuktikan bahwa cinta adalah satu-satunya hal yang bertambah saat dibagikan, memecahkan hukum konservasi materi.

Empat Elemen Dasar Cinta (The Four Elements of Love)

Cinta sering dianggap sebagai misteri ilahi yang tak terlukiskan, sesuatu yang mistis dan kabur. Namun, sebagai ilmuwan jiwa, Fromm menegaskan bahwa cinta memiliki struktur anatomi yang bisa dipelajari. Cinta—baik itu cinta ibu, cinta erotis, cinta persaudaraan, atau cinta Tuhan—selalu berdiri di atas empat pilar atau elemen dasar yang tak terpisahkan.

Jika salah satu elemen ini hilang, maka itu bukan cinta. Itu mungkin ketergantungan, posesifitas, atau narsisme yang menyamar. Mari kita bedah keempat elemen ini dan melihat bagaimana Metode Sant’Egidio menerjemahkannya ke dalam aksi revolusioner di jalanan.

a. Kepedulian (care): melampaui simpati abstrak

Cinta adalah kepedulian aktif terhadap kehidupan dan pertumbuhan apa yang kita cintai. Fromm menggunakan contoh klasik yang tak terbantahkan: Jika seorang wanita berkata dia sangat mencintai bunga mawar di tamannya, tapi dia lupa menyiramnya sehingga bunga itu layu dan mati, kita tidak akan percaya cintanya. Cinta adalah tindakan menyiram. Cinta adalah labor (kerja). Simpati tanpa aksi hanyalah kemunafikan halus.

Praxisnya dalam Sant’Egidio; kepedulian tidak pernah bersifat abstrak. Kami tidak “mencintai kemiskinan” sebagai konsep sosiologis; kami mencintai orang miskin yang konkret, yang memiliki nama dan wajah. Kepedulian diterjemahkan menjadi kehadiran fisik dan detail.

Dalam program DREAM (untuk HIV/AIDS di Afrika) misalnya, kepedulian berarti tidak hanya memberi obat antiretroviral (tindakan medis). Sant’Egidio menyadari bahwa obat tidak bekerja jika perut kosong. Maka, kepedulian meluas menjadi pemberian paket sembako, air bersih, biaya transportasi ke klinik, bahkan mainan untuk anak-anak pasien.

Cinta tanpa kepedulian aktif hanyalah sentimen kosong. Tuhan tidak pernah mencintai dari jauh; Dia menjadi manusia (inkarnasi) untuk “menyiram” kehidupan kita secara langsung. Demikian pula relawan Sant’Egidio hadir secara fisik di jalanan, panti jompo, dan penjara, menyentuh luka yang nyata.

b. Tanggung Jawab (Responsibility): Kemampuan Menjawab

Di telinga modern, kata “tanggung jawab” terdengar berat, seperti beban tugas atau kewajiban moral yang dipaksakan dari luar (duty). Kita sering berkata, “Itu bukan tanggung jawab saya.” Namun, asal katanya adalah respondere (Latin): siap memberi jawaban atau kemampuan untuk merespons. Tanggung jawab adalah tindakan sukarela (voluntary act). Itu adalah respons saya terhadap kebutuhan orang lain, baik yang terucap maupun tidak.

Praxisnya dalam Sant’Egidio; ini adalah antitesis dari pertanyaan Kain dalam Alkitab: “Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9). Kain menolak tanggung jawab, dan itu adalah awal pembunuhan. Etika Sant’Egidio berkata: “Ya, aku adalah penjaga adikku. Hidupnya adalah urusanku.” Dalam Renungan Harian, kita diajak untuk memiliki kepekaan rohani (spiritual sensitivity) terhadap tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam wajah sesama[2].

Ketika saya berjalan dan melihat seorang lansia yang kesepian dan bingung menyeberang jalan, “tanggung jawab” saya bukanlah beban hukum. Itu adalah respons otomatis dari hati yang hidup: “Dia butuh teman, dan aku ada di sini. Siapa lagi yang akan merespons jika bukan aku?” Tanggung jawab adalah kesadaran bahwa kita semua terhubung dalam jaring kehidupan yang sama.

c. Rasa Hormat (Respect): Melawan Kolonialisme Amal

Tanpa elemen ketiga ini, cinta dan tanggung jawab bisa merosot menjadi dominasi dan posesifitas. Ibu yang terlalu “bertanggung jawab” bisa mengekang anaknya. Akar katanya adalah respice (Latin): melihat kembali atau melihat sebagaimana adanya. Rasa hormat bukanlah rasa takut atau kagum pada atasan (seperti hormat pada Jenderal). Rasa hormat adalah kemampuan melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik.

Hormat berarti: “Aku ingin orang yang kucintai tumbuh dan berkembang demi dirinya sendiri, dengan caranya sendiri, dan bukan demi melayaniku atau menjadi seperti aku.”

Praxisnya dalam Sant’Egidio; ini adalah kunci yang membedakan Sant’Egidio dari banyak lembaga amal lainnya yang sering jatuh dalam “Kolonialisme Filantropis”. Kami tidak mencoba “mengubah” orang miskin menjadi kelas menengah yang rapi agar layak dicintai.Kami tidak memaksa pengungsi Muslim untuk masuk Kristen sebagai syarat bantuan (itu bukan hormat, itu eksploitasi rohani).Kami menghormati martabat mereka dengan memanggil mereka menggunakan nama (Bapak, Ibu, Tuan), bukan nomor antrean atau label “gelandangan”. Dalam makan siang Natal, kami duduk makan bersama mereka di meja yang sama, menggunakan piring keramik dan gelas kaca (bukan piring plastik/kertas sekali pakai). Mengapa? Karena piring plastik adalah untuk piknik atau orang asing. Piring keramik adalah untuk keluarga dan tamu kehormatan. Rasa hormat menuntut kita memberikan keindahan, bukan hanya kalori; memberikan yang terbaik, bukan sisa. Tanpa rasa hormat, “bantuan” adalah penghinaan halus yang melukai jiwa si penerima. Inilah Simbolisme Piring Keramik.

d. Pengetahuan (Knowledge): Menembus Rahasia

Saya tidak bisa menghormati seseorang tanpa mengenalnya. Tapi pengetahuan di sini bukan pengetahuan data statistik (seperti birokrat mengetahui angka kemiskinan atau polisi mengetahui data kriminal). Fromm mengatakan bahwa kita semua punya rahasia. Ada kedalaman dalam setiap jiwa yang tak terselami. Jalan satu-satunya untuk mengetahui rahasia jiwa manusia lain bukanlah dengan membedahnya (sadisme), melainkan dengan menyatukan diri dengannya melalui cinta.

Praxisnya dDalam Sant’Egidio; ini disebut kesetiaan pada persahabatan. Coba bandingkan pengetahuan birokrat, “Subjek A; laki-laki, 65 tahun, miskin, alamat tidak ada, status kesehatan buruk.” (dingin dan objektif). Sedangkan, pengetahuan cinta (Sant’Egidio), “Ini Bapak Antonio. Dia suka musik opera Verdi dan dia takut sendirian saat hujan karena mengingatkannya pada masa kecilnya di panti asuhan. Bapak Antonio punya tawa yang khas yang berbunyi ‘kek-kek’ dan dia rindu pada ibunya.” Pengetahuan intim ini membebaskan kita dari prasangka dan proyeksi. Kita berhenti melihat mereka sebagai “ancaman sosial” atau “beban negara”, dan mulai melihat mereka sebagai Saudara. Hanya dengan mengenalnyalah, kita bisa mencintainya dengan tepat.

Cinta Persaudaraan: Ujian Terakhir Kewarasan

Fromm menegaskan bahwa jenis cinta yang paling fundamental—dasar dari cinta ibu, cinta erotis, dan cinta diri—adalah Brotherly Love (Cinta Persaudaraan). Ini adalah cinta kepada sesama manusia; cinta antara yang sama (equals). Cinta ini didasarkan pada pengalaman mistik namun nyata bahwa kita semua satu. Inti kemanusiaan di dalam diri saya sama dengan inti kemanusiaan di dalam diri pengemis itu.

“Cinta mulai bersemi hanya ketika kita mencintai mereka yang tidak bisa kita manfaatkan untuk tujuan apapun.”[3]

Inilah ujian sejati karakter produktif kita, ujian api bagi jiwa. Mencintai anak sendiri itu naluriah (insting biologis, hewan pun melakukannya dengan baik).Mencintai pasangan yang cantik/kaya itu mudah (ada unsur pertukaran ego, nafsu, dan keamanan).Tapi mencintai orang asing, pengungsi yang bahasanya aneh, lansia yang pikun dan lambat, atau orang miskin yang “tidak berguna” secara ekonomi dan tidak bisa membalas budi? Itulah cinta sejati. Itulah pencapaian rohani tertinggi.

Dalam dokumen Renungan KSE, kita diingatkan tentang visi Nabi Daniel mengenai “Orang-orang Kudus milik Yang Mahatinggi” yang mengubah dunia[4]. Siapakah orang kudus itu? Dalam tafsir Sant’Egidio, mereka bukanlah petapa yang lari ke gunung untuk menghindari dosa, melainkan orang-orang yang berani turun ke jalan dan mencintai mereka yang “tidak berguna” di mata dunia. Mereka menolak logika dunia (logika binatang buas dalam Daniel) yang membuang yang lemah. Merekalah revolusioner cinta yang sejati.

Penutup: Menjadi Seniman Kehidupan — Sebuah Praktik Disiplin

Saudara-saudariku, menjadi manusia yang utuh berarti menjadi seniman. Kanvasnya adalah waktu, kuasnya adalah tindakan harian, dan catnya adalah cinta. Namun, seperti seni lainnya (musik, lukis, kedokteran, arsitektur), cinta menuntut praktik yang serius. Tidak ada pianis yang jago hanya dengan membaca teori musik tanpa menyentuh piano; dia harus berlatih berjam-jam, melatih jari-jarinya hingga lincah.

Di Sant’Egidio, kita belajar bahwa seni mencintai ini harus didisiplinkan melalui empat syarat Frommian. Pertama; disiplin yakni cinta bukan suasana hati (mood) yang datang dan pergi. Kita melayani orang miskin bukan hanya saat “lagi pengen” atau “lagi tergerak”, tapi dengan setia setiap minggu, hujan atau panas, sedih atau senang. Kesetiaan adalah tulang punggung cinta.

Kedua; konsentrasi yakni Saat bersama orang miskin (atau siapa pun), matikan gadget Anda. Hadirlah sepenuhnya (Be Here Now).

Dengarkanlah mereka seolah-olah mereka adalah satu-satunya orang di dunia. Jangan biarkan pikiran Anda melayang ke pekerjaan besok. Ketiga; kesabaran yakni pertumbuhan butuh waktu. Jangan memaksa orang berubah instan. Jangan memaksa orang miskin menjadi “sukses” dalam semalam. Temani prosesnya. Kesabaran adalah bentuk hormat terhadap waktu orang lain. Keempat; kepedulian tertinggi (supreme concern) yakni menjadikan cinta sebagai prioritas utama dan tujuan akhir hidup, bukan sekadar hobi sampingan di sela-sela mengejar uang. Jika kita sukses dalam segalanya tapi gagal mencintai, kita telah gagal dalam hidup.

Jika Anda bertanya kepada saya sebagai sahabat yang menemani ziarah Anda ini,“Apa resep agar tidak menjadi gila di dunia yang sakit ini?” Jawabannya sederhana namun radikal: Keluarlah dari penjara egomu. Temukan seseorang yang tidak bisa membalas budimu. Dan mulailah mencintainya dengan peduli (hadir), bertanggung jawab (merespons), hormat (tidak mendominasi), dan mengenalnya (memahami).

Di sanalah, di titik pertemuan wajah dengan wajah itu, Anda akan menemukan Tuhan. Dan secara ajaib, Anda akan menemukan diri anda yang selama ini hilang dalam kesibukan semu.

Selamat mencintai.Selamat menjadi Manusia.

===== Salam dari TigaKecoa dari Borong =====


[1]Fromm, Erich. (1956). The Art of Loving. New York: Harper & Row. Halaman 23-24. Analisis fenomenologis tentang tindakan “memberi” sebagai ekspresi potensi tertinggi. Fromm membedakan ini dari karakter penimbun yang merasa memberi sebagai kehilangan, dan karakter pasar yang memberi sebagai pertukaran dagang.

[2]Komunitas Sant’Egidio. (2022). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 1-2). Dalam renungan Minggu Adven I, ditekankan bahwa Tuhan datang dalam kerendahan (kenosis). Kepekaan rohani diperlukan untuk melihat kehadiran-Nya yang tersembunyi. Ketidakpedulian terhadap sesama adalah bentuk kebutaan rohani yang fatal.

[3]Fromm, Erich. (1956). The Art of Loving. Halaman 47-49. Pembahasan mendalam mengenai “Brotherly Love” sebagai dasar dari semua jenis cinta. Cinta ini eksklusif dari preferensi; ia mencakup semua manusia karena esensi kemanusiaan yang sama. “If I truly love one person, I love all people, I love the world, I love life.”

[4]Komunitas Sant’Egidio. (2025). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 693). Tafsir Daniel 7 tentang kuasa “Orang-orang Kudus” untuk mengubah sejarah. Dalam konteks Sant’Egidio, kekudusan ini dimaknai sebagai kesetiaan dalam kasih (caritas) yang berani melawan arus kekerasan sejarah.

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *