08. Dikotomi Eksistensial Vs. Historis: Memahami Batas-Batas Kebebasan Manusia

08. Dikotomi Eksistensial Vs. Historis: Memahami Batas-Batas Kebebasan Manusia

We are determined by the fact that we have been born, and by the fact that we shall die; but within these limits we are free to give our life a meaning

Erich Fromm, The Heart of Man

Pendahuluan: Di Antara Takdir dan Pilihan — Diagnosis Neurosis Peradaban

Saudara saudariku, para mahasiswa kehidupan yang saya banggakan.

Silakan duduk dan tenangkan batin Anda. Tarik napas dalam-dalam, lepaskan beban ekspektasi dunia sejenak. Seri ini, kita tidak hanya akan belajar teori psikologi; kita akan melakukan pembedahan neuro-psikologis terhadap cara pandang (worldview) kita yang paling mendasar. Kita akan memegang pisau bedah intelektual yang paling tajam dalam tradisi psikologi humanistik untuk melakukan operasi pemisahan terhadap dua “kembar siam” yang sering membingungkan umat manusia selama berabad-abad. Kebingungan inilah yang sering membuat kita lumpuh dalam keputusasaan (paralysis of despair) atau, sebaliknya, sombong dalam delusi kemahakuasaan (delusion of grandeur).

Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata dengan nada pasrah dan bijak—yang sebenarnya adalah topeng dari kemalasan moral yang berbahaya—tentang perang: “Ah, sudahlah. Perang itu sudah kodrat manusia sejak zaman Kain dan Habel. Itu ada dalam gen kita. Selama ada dua manusia di bumi, pasti ada konflik. Perang tidak akan pernah hilang sampai kiamat.”

Atau ketika melihat seorang anak jalanan yang kurus kering di perempatan lampu merah, seseorang berkata sambil menghela napas: “Orang miskin akan selalu ada, itu hukum alam. Roda nasib memang begitu; ada yang di atas, ada yang di bawah. Tuhan yang mengatur rezeki. Kita tidak bisa melawan takdir.”

Jika Anda pernah mengangguk setuju pada pernyataan-pernyataan di atas, maka—maafkan ketegasan saya sebagai sesama saudara Anda—Anda sedang menderita sebuah penyakit logika yang fatal yang disebut Kekeliruan Kategori (Category Error). Anda sedang mencampuradukkan apa yang bisa diubah dengan apa yang tidak bisa diubah. Anda sedang menuduh Tuhan atau “alam” atas kejahatan yang sebenarnya dilakukan oleh struktur buatan manusia.

Ini adalah bentuk bad faith (iktikad buruk) di mana manusia lari dari tanggung jawab sejarahnya dengan bersembunyi di balik jubah takdir.

Erich Fromm, dalam karya seminalnya Man for Himself (1947), mengajarkan kita untuk membedakan dua jenis kontradiksi tragis yang menyiksa hidup kita. Kegagalan membedakan keduanya adalah resep utama menuju neurosis pribadi (kegilaan individual di mana kita cemas akan hal yang tak terelakkan) dan pasifisme sosial (kelumpuhan kolektif di mana kita mendiamkan ketidakadilan).

Mari kita bedah kedua dikotomi ini satu per satu dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, agar kita bisa hidup dengan kewarasan yang utuh.

Dikotomi Eksistensial; Tragika yang Harus Diterima dengan Keberanian

Dikotomi eksistensial adalah kontradiksi yang melekat pada kondisi kemanusiaan itu sendiri (kondisi ontologis). Ini adalah “takdir” dalam arti sebenarnya. Tidak ada kemajuan teknologi, tidak ada revolusi politik Marxis atau Kapitalis, tidak ada kecerdasan buatan (AI), dan bahkan doa yang paling khusyuk pun tidak akan bisa menghilangkannya. Ini adalah “data terberi” (the given) dari keberadaan kita sebagai makhluk yang sadar namun fana. Ini adalah harga yang harus dibayar karena menjadi manusia, bukan binatang dan bukan malaikat. Apa saja komponen utama dari dikotomi ini yang sering menjadi sumber kecemasan kita?

Pertama, Hidup vs. Mati (Keterbatasan Biologis vs. Ketidakterbatasan Mental).

Ini adalah paradoks terbesar dan paling menyakitkan. Kita memiliki kesadaran yang mampu melintasi waktu; kita bisa membayangkan masa lalu ribuan tahun lalu dan masa depan jutaan tahun lagi. Pikiran kita adalah “dewa” yang menembus galaksi, menciptakan simfoni, dan merumuskan teori relativitas. Namun, tubuh kita adalah “binatang” yang rapuh; terikat pada gravitasi, rentan terhadap virus mikroskopis, menua, keriput, dan akhirnya membusuk menjadi tanah. Tragedi eksistensial manusia adalah: memiliki pikiran yang merindukan keabadian dan kesempurnaan, namun terperangkap dalam tubuh yang menuju kematian dan kerusakan. Konflik ini tidak bisa dipecahkan; ia hanya bisa ditanggung.

Kedua, Keterbatasan Potensi vs. Keterbatasan Waktu.

Setiap bayi manusia lahir dengan ribuan potensi. Secara teoretis, dalam satu kehidupan, Anda bisa menjadi pianis virtuos, astronaut, petani, penyair, atau ahli matematika. Namun, durasi hidup kita yang singkat (70-80 tahun) memaksa kita untuk memilih satu atau dua saja. Untuk menjadi pianis yang hebat, Anda harus mematikan potensi menjadi astronaut. Anda tidak punya waktu untuk keduanya. Ini adalah tragika yang menyakitkan: realisasi satu hal adalah kematian bagi seribu kemungkinan hal lain. Kita tidak bisa menjadi segalanya. Kita harus berdamai dengan fakta bahwa kita akan mati dengan banyak “musik yang belum dimainkan” dan banyak “lukisan yang belum dilukis” di dalam diri kita. Penyesalan adalah bayang-bayang dari pilihan.

Ketiga, Keterasingan Fundamental (Fundamental Isolation).

Seintim apapun kita dengan orang lain—bahkan dalam pelukan kekasih yang paling bergairah atau ikatan ibu dan anak yang paling suci—kita tetaplah individu yang terpisah secara fisik. Kita tidak bisa benar-benar masuk ke dalam sistem saraf orang lain atau merasakan sakit gigi mereka. Kita tidak bisa membagi kematian kita dengan orang lain. Setiap kita lahir sendiri, merasakan nyeri sendiri, dan pada akhirnya, kita menghadapi misteri kematian sendiri. Ada tembok kulit dan tulang yang memisahkan “Aku” dan “Kamu” yang tak bisa ditembus secara fisik. Ini adalah kesepian ontologis yang tidak bisa dihapus oleh media sosial.

Reaksi neurotik manusia modern terhadap hal ini adalah penyangkalan (denial). Kita melihat industri kosmetik anti-penuaan yang bernilai miliaran dolar yang menjanjikan “kulit abadi”. Melihat obsesi pada kesehatan (health-holic) seolah-olah jus sayur dan gym bisa membatalkan kematian. Kita menyembunyikan orang mati dari ruang publik; kematian dianggap tabu, kegagalan medis, atau hal yang tidak sopan untuk dibicarakan. Orang modern berpesta pora seolah-olah mereka akan hidup selamanya, mencoba menulikan telinga dari detak jam yang terus berjalan menuju kematian. Ini adalah hidup dalam ilusi. Inilah yang dinamakan Patologi Penyangkalan (The Pathology of Denial).

Namun, reaksi yang sehat—yang diajarkan oleh spiritualitas Sant’Egidio—adalah penerimaan yang berani.

Kita tidak lari dari pemakaman. Di Sant’Egidio, ketika seorang tunawisma meninggal di jalanan—orang yang biasanya dianggap sampah dan dikubur tanpa nama oleh negara—kita mengadakan liturgi pemakaman yang layak dan agung. Kita menyebut namanya keras-keras, kita menyalakan lilin, dan kita meratapi kepergiannya.

Mengapa? Karena mengakui kematian adalah satu-satunya cara untuk menghargai kehidupan. Justru karena hidup ini singkat dan rapuh (eksistensial), maka setiap momen perjumpaan menjadi sakral. Kita menerima bahwa kita fana, dan penerimaan itu melahirkan kerendahan hati yang mendalam, bukan keputusasaan. Kita sadar bahwa kita semua—kaya atau miskin, profesor atau pengemis—berada di perahu yang sama menuju akhir yang sama. Solidaritas lahir dari kesadaran akan kerapuhan bersama ini.

“Manusia adalah satu-satunya hewan yang menganggap keberadaannya sendiri sebagai masalah yang harus dipecahkan.” — Erich Fromm[1]

Dikotomi Historis: Tragika yang Harus Dilawan dengan Revolusi Damai

Di sinilah letak perbedaannya yang krusial, titik di mana banyak orang tersesat dalam fatalisme. Dikotomi historis adalah kontradiksi dan penderitaan yang bukan berasal dari kodrat alamiah manusia, melainkan diciptakan oleh manusia dalam proses sejarah. Karena ia dibuat oleh tangan manusia (sistem, kebijakan, ideologi, keserakahan), maka ia bisa diselesaikan, diubah, dan dihapus oleh tangan manusia. Ini bukan takdir; ini adalah pilihan kolektif yang buruk.

Contoh konkret dari dikotomi historis meliputi:

 Pertama, Kelaparan di Dunia yang Melimpah; fakta bahwa jutaan orang mati kelaparan sementara kita membuang 30-40% produksi pangan dunia bukanlah takdir Tuhan. Itu bukan masalah “kurangnya makanan” (eksistensial seperti gagal panen purba), itu adalah masalah distribusi dan keserakahan (historis). Itu adalah masalah logistik dan hati nurani, bukan hukum biologi. Kelaparan di abad ke-21 adalah kejahatan buatan manusia yang bisa dihentikan besok pagi jika ada kemauan politik.

Kedua, Perang dan Konflik; dimana perang bukanlah insting biologis yang tak terelakkan (seperti yang sering disalahpahami dari teori Darwinisme Sosial atau pandangan Hobbesian). Perang adalah keputusan politik. Perang membutuhkan perencanaan, pendanaan, pabrik senjata, dan propaganda kebencian. Itu adalah “institusi” sejarah, sama seperti perbudakan atau duel gladiator. Jika perbudakan bisa dihapuskan (padahal dulu dianggap takdir ekonomi), perang pun bisa dihapuskan.

Ketiga, Ketidaksetaraan Akses Kesehatan; bahwa orang kaya bisa hidup lebih lama daripada orang miskin karena akses obat, ventilator, dan nutrisi adalah ketidakadilan struktural. Virus mungkin alami (eksistensial), tetapi siapa yang mati dan siapa yang selamat sering kali ditentukan oleh dompet dan kebijakan negara (historis). Kematian akibat kemiskinan adalah pembunuhan struktural.

Dosa apatis dan delusi jika kita memperlakukan masalah historis (seperti kemiskinan atau perang) seolah-olah itu masalah eksistensial (kodrat alam).

Kita jatuh ke dalam Apatisme Sinis. Kita berkata, “Ya sudahlah, biarkan saja. Siapa kita yang bisa melawan takdir?” Ini adalah dosa intelektual dan spiritual terbesar, karena kita menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam atas ketidakpedulian kita. Kita “mencuci tangan” seperti Pilatus, menggunakan takdir sebagai sabunnya.

Sebaliknya, jika kita mencoba menyelesaikan masalah eksistensial (seperti kematian atau kebutuhan akan makna) dengan solusi historis (teknologi atau uang), kita menjadi Delusional dan Materialistis. Kita mencoba membeli keabadian dengan uang (cryogenics), atau mencoba mengisi kekosongan jiwa dengan gadget terbaru, yang berakhir pada kehampaan yang lebih dalam karena jiwa tidak bisa dikenyangkan oleh benda.

Sant’Egidio: Mendobrak Batas Historis dengan “Senjata” Persahabatan.

Komunitas Sant’Egidio berdiri tepat di garis demarkasi ini. Spiritualitas komunitas ini menolak untuk menerima “kemustahilan historis”. Mereka adalah kaum realis yang percaya pada mukjizat sejarah—bukan mukjizat sulap, tapi mukjizat kerja keras, kesabaran, dan diplomasi persahabatan.

Studi Kasus Mendalam: Perdamaian Mozambik (1990-1992)

Mari kita lihat bukti empirisnya agar ini tidak menjadi sekadar retorika kosong. Pada awal 1990-an, perang saudara di Mozambik antara pemerintah Marxis (FRELIMO) dan pemberontak anti-komunis (RENAMO) telah berlangsung selama 16 tahun, menewaskan satu juta orang, dan menghancurkan infrastruktur negara itu hingga ke titik nol. Dunia internasional, PBB, AS, dan diplomat besar telah menyerah. Mereka melabeli konflik ini sebagai “konflik etnis yang mendarah daging”, “balas dendam kesukuan”, dan “tak terpecahkan” (seolah-olah itu adalah takdir eksistensial benua Afrika).

Namun, Komunitas Sant’Egidio, yang berbasis di sebuah biara tua di Trastevere, Roma, menolak pandangan fatalistik itu. Bagi Andrea Riccardi dan Don Matteo Zuppi (imam Sant’Egidio yang kini menjadi Kardinal dan utusan damai Paus), perang adalah produk sejarah—dibuat oleh keputusan manusia yang takut, marah, dan terputus komunikasinya. Maka, ia bisa dihentikan oleh keputusan manusia yang baru, yang berani dan percaya.

Mereka tidak memiliki tentara. Mereka tidak memiliki sanksi ekonomi. Mereka tidak memiliki dana bantuan raksasa. Apa yang mereka miliki? Persahabatan, keramahan, dan rumah. Mereka mengundang kedua belah pihak yang saling membunuh itu ke Roma. Bukan ke ruang konferensi hotel mewah yang dingin dan formal (di mana ego diplomat sering bertabrakan), tetapi ke biara Sant’Egidio yang sederhana, dengan taman yang asri dan ruang makan yang hangat.

Selama 27 bulan negosiasi yang melelahkan, Sant’Egidio menggunakan “Metode Sinergi” yang unik.

Pertama dengan keramahan (hospitality), yakni memperlakukan musuh sebagai tamu, bukan terdakwa. Makan bersama memecahkan es ketegangan. Lalu mendengarkan (listening), yakni membiarkan mereka menumpahkan ketakutan, paranoia, dan keluhan sejarah mereka tanpa dihakimi. Ketiga dengan mencari kesamaan, yakni fokus pada apa yang menyatukan (“kita sama-sama orang Mozambik”, “kita sama-sama lelah perang”) daripada yang memisahkan (“ideologi”).

Mereka tidak menekan; mereka memfasilitasi “humanisasi musuh”. Di meja perundingan Sant’Egidio, musuh perlahan melihat wajah manusia di seberang meja, bukan wajah monster. Apa yang dianggap mustahil oleh para ahli politik “realis” menjadi mungkin: Perjanjian Perdamaian Umum ditandatangani di Roma pada 4 Oktober 1992. Perang berhenti. Generasi baru Mozambik lahir dalam damai.[2]

Kasus ini adalah monumen abadi yang membuktikan bahwa “damai” bukanlah utopia mimpi di siang bolong, melainkan kemungkinan historis yang harus diperjuangkan dengan kreativitas, ketekunan, dan cinta. Perang adalah pilihan, bukan takdir.

Seperti yang tertulis dalam Renungan Harian Komunitas, visi Nabi Daniel mengajarkan kita bahwa sejarah tidak statis dan kerajaan-kerajaan dunia yang tampak perkasa (seperti patung raksasa dalam mimpi Nebukadnezar) bisa runtuh:

“Tuhan mempercayakan kuasa untuk mengubah dan menyelamatkan bumi… kepada mereka yang tetap setia.”[3]

Kata kuncinya adalah mengubah. Kita tidak bisa mengubah fakta bahwa kita akan mati (eksistensial), tapi kita bisa mengubah cara kita hidup dan mati—apakah mati konyol dalam kelaparan akibat perang, atau mati terhormat dalam damai yang produktif (historis).

Mendefinisikan Ulang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Pemahaman yang jernih tentang pembedaan ini mendefinisikan ulang arti Kebebasan Manusia di abad ke-21.

Kebebasan bukanlah kemampuan anarkis untuk melakukan apa saja. Kita tidak bebas untuk terbang tanpa alat, kita tidak bebas untuk tidak makan, kita tidak bebas untuk tidak mati. Itu adalah batasan eksistensial. Kebebasan sejati, dalam perspektif Frommian-Sant’Egidio, adalah kemampuan ganda yang dialektis. Pertama, kebebasan batin (Freedom of Attitude),yakni kemampuan untuk memilih sikap mental yang benar terhadap yang eksistensial. Kita memilih untuk menerima kematian dengan iman, bukan dengan ketakutan histeris. Memilih untuk berserah, bukan menyerah. Kita memilih untuk menemukan makna di tengah penderitaan yang tak terelakkan (seperti yang diajarkan Viktor Frankl). Yang kedua Kebebasan Aksi (Freedom of Action), yakni kemampuan untuk memilih aksi nyata terhadap yang historis. Kita memilih untuk melawan kemiskinan, bukan menerimanya. Memilih untuk membangun jembatan damai, bukan tembok pemisah dan kita menggunakan energi untuk mengubah struktur yang tidak adil.

Banyak orang modern merasa cemas (anxiety) dan depresi karena mereka terbalik dalam menerapkan energi mereka.Mereka membenturkan kepala ke tembok eksistensial yang keras (misalnya: stres berlebihan karena kerutan di wajah, takut tua, atau obsesi mengontrol masa depan yang tak pasti). Ini sia-sia dan melelahkan.Sementara itu, mereka duduk diam dengan tangan terlipat di depan pintu historis yang sebenarnya tidak terkunci (misalnya: diam saja melihat ketidakadilan di kantor, membiarkan korupsi, atau mengabaikan tetangga yang kelaparan karena “malas ikut campur”). Ini adalah pemborosan energi psikis yang tragis. Kita berjuang melawan Tuhan (kodrat), tapi menyerah pada tirani manusia (sejarah).

Rumus Kesehatan Mental Sant’Egidio:

Hidup yang waras (The Sane Life) adalah tarian keseimbangan antara damai dengan yang Eksistensial (Transendensi) yakni Melalui doa kontemplatif dan penyerahan diri. Kita berkata pada Tuhan: “Tuhan, jadilah kehendak-Mu atas hidup dan matiku. Aku hanyalah debu yang Kau kasihi.” Ini memberi ketenangan batin. Dan Perang terhadap yang Historis (Solidaritas) yakni Melalui aksi sosial, pelayanan pada orang miskin, dan advokasi perdamaian. Kita berkata pada ketidakadilan: “Ini tidak benar! Ini tidak boleh terjadi! Aku akan bekerja mengubahnya karena ini melukai saudaraku.” Ini memberi semangat juang.

Dalam liturgi dan pelayanan Sant’Egidio, kedua hal ini menyatu secara indah. Saat kita membagikan makanan kepada tunawisma di malam hari. Secara Historis, kita sedang melawan kelaparan mereka (masalah teknis distribusi yang bisa diselesaikan). Kita memberi makan tubuh agar tidak mati kelaparan.Secara Eksistensial, kita sedang menyembuhkan keterpisahan jiwa kita sendiri dengan mencintai sesama, mengakui bahwa kita dan si miskin adalah sama-sama peziarah yang fana, sama-sama butuh kehangatan di tengah dinginnya alam semesta.

Penutup: Menjadi Realis yang Berpengharapan (Realistic Hope)

Saudara-saudariku, Jangan biarkan dunia menipu Anda dengan sinisme yang menyamar sebagai “realisme”. Jangan biarkan orang berkata bahwa “dunia memang kejam dari sananya”. Kekejaman seringkali adalah pilihan historis yang telah membatu menjadi sistem, bukan hukum fisika yang tak terelakkan.

Dalam Renungan Adven, kita diingatkan untuk menolak “bahasa khas akhir zaman” yang pesimistis, seolah-olah kehancuran, bencana iklim, dan perang dunia ketiga adalah satu-satunya skenario masa depan yang tersisa. Yesus datang untuk menawarkan “harapan akan masa depan yang baru”.[4]

Harapan ini bukan optimisme buta (“tenang, semua akan baik-baik saja dengan sendirinya”), melainkan harapan aktif: keyakinan bahwa jika kita bergerak, sejarah bisa dibelokkan ke arah keadilan. Bahwa masa depan belum tertulis, dan kitalah penulisnya bersama Tuhan. Harapan adalah “tidur yang terjaga”; mimpi yang dihidupi dengan aksi.

Tugas Anda sebagai mahasiswa di “Universitas Kehidupan” ini adalah melatih mata batin Anda setiap hari. Saat melihat penderitaan di berita atau di jalanan, ajukanlah pertanyaan diagnostik ini. Apakah ini luka yang tak terelakkan (seperti kematian orang terkasih karena usia tua atau bencana alam murni)?Atau, apakah ini luka yang diciptakan oleh ketidakadilan manusia (seperti anak kurang gizi, pengungsi perang, atau lansia yang dibuang keluarga)?

Jika yang pertama, berikanlah kehadiran, doa, dan air mata solidaritas. Jadilah teman dalam duka. Jika yang kedua, berikanlah perjuangan, suara protes, dan tangan yang bekerja. Jadilah pembawa perubahan.

Hanya dengan membedakan dan merespons dengan tepat pada kedua dikotomi inilah, kita menjadi manusia yang merdeka, produktif, dan waras sepenuhnya. Kita berhenti menjadi korban takdir, dan mulai menjadi mitra penciptaan.

============ Salam dari tigakecoa di Borong ============


[1]Fromm, Erich. (1947). Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics. New York: Rinehart and Co. Halaman 40-50. Di bagian ini, Fromm meletakkan dasar filosofis tentang dikotomi eksistensial (hidup/mati) vs historis (kaya/miskin), yang menjadi landasan etika humanistiknya. Ia berargumen bahwa etika yang sehat harus berbasis pada realitas kondisi manusia, bukan otoritas irasional.

[2]Morozzo della Rocca, Roberto. (2003). Sant’Egidio, Rome and the World. London: Saint Pauls. Lihat Bab tentang “The Mozambican Peace Process”. Buku ini adalah referensi primer yang mendetailkan kronologi negosiasi damai tersebut, menunjukkan bagaimana konflik yang dianggap “takdir” ternyata bisa diselesaikan secara historis lewat dialog persahabatan. Informasi valid juga dapat diverifikasi di https://www.santegidio.org/pageID/30056/langID/en/War-and-Peace.html.

[3]Komunitas Sant’Egidio. (2022). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 693). Tafsir Kitab Daniel tentang “Orang Kudus Milik Yang Mahatinggi” yang diberi kuasa untuk mengubah jalannya sejarah kerajaan-kerajaan dunia. Ini adalah landasan teologis untuk aktivisme sejarah Sant’Egidio.

[4]Ibid. Halaman 1. Refleksi Minggu Adven I tentang menolak fatalisme apokaliptik dan menyambut masa depan baru dengan kewaspadaan aktif. Adven bukan sekadar menungu, tapi mempersiapkan jalan.

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *