“Psikoanalisis membantu agama untuk memurnikan dirinya dari elemen-elemen pemujaan berhala, dan agama membantu psikoanalisis untuk melihat bahwa pemahaman tentang jiwa manusia tidaklah lengkap tanpa pemahaman tentang pencarian manusia akan makna.”
Erich Fromm, Psychoanalysis and Religion[1]
Pendahuluan: Menjembatani Athena dan Yerusalem di Trastevere
Saudara-saudariku, para pencari kebenaran yang budiman,
Kita telah tiba di ambang batas yang krusial dalam peziarahan intelektual dan spiritual ini. Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk membedah anatomi jiwa manusia modern yang terluka dan menawarkan resep penyembuhan dari “Laboratorium Sant’Egidio”, kita harus berhenti sejenak untuk menanyakan sebuah pertanyaan epistemologis yang mendasar. Kacamata apa yang kita gunakan untuk melihat luka-luka zaman ini? Alat navigasi apa yang valid untuk memetakan topografi batin manusia yang semakin kompleks di era digital ini?
Dalam lanskap dunia akademis dan diskursus modern, sering kali terjadi perceraian yang tragis dan menyakitkan antara Psikologi (ilmu tentang jiwa/pikiran) dan Spiritualitas (ilmu tentang roh/makna).
Kedua disiplin ini, yang seharusnya menjadi dua sayap yang mengangkat martabat manusia, justru sering berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling curiga.
Psikologi arus utama sering kali terjebak dalam reduksionisme materialistik yang dingin. Ia memandang manusia hanya sebagai kumpulan mekanisme saraf, dorongan biologis, atau respons perilaku terhadap stimulus lingkungan. Dalam pandangan ini, “jiwa” direduksi menjadi sekadar aktivitas otak, dan pencarian makna dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri belaka. Psikologi semacam ini mungkin mampu menjelaskan bagaimana mesin manusia bekerja, namun gagal menjawab mengapa manusia itu ada.
Di sisi lain, spiritualitas tanpa nalar sering kali melayang dalam abstraksi yang naif dan sentimentil. Ia menawarkan penghiburan tanpa diagnosis yang jujur, terlepas dari realitas sosial yang berdarah-darah, dan sering kali jatuh menjadi pelarian (eskapisme) dari tanggung jawab sejarah. Agama yang demikian berisiko menjadi “candu” yang meninabobokan kesadaran kritis, alih-alih menjadi api yang menyucikan dan membebaskan.
Metodologi penulisan buku ini secara sadar menolak dikotomi yang memiskinkan tersebut.
Kami mengajukan sebuah sintesis yang berani dan integratif: sebuah perkawinan suci antara Analisis Psikodinamika (warisan kritis dari Sigmund Freud dan Erich Fromm) dengan Hermeneutika Spiritual (warisan hikmat tradisi biblis dan praktik hidup Komunitas Sant’Egidio). Trastevere, tempat komunitas ini berakar, bagi kami bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol pertemuan antara “Athena” (nalar, filsafat, sains) dan “Yerusalem” (iman, wahyu, nubuat).
Mengapa sintesis ini mutlak diperlukan? Karena krisis yang kita hadapi hari ini—wabah kesepian, narsisme maligna, kekerasan struktural, dan alienasi pasar—bukanlah masalah yang murni klinis yang bisa diselesaikan dengan obat-obatan. Juga bukan masalah yang murni teologis yang bisa diselesaikan hanya dengan dogma. Ini adalah krisis kemanusiaan yang total; sebuah krisis antropologis. Untuk memahaminya, kita membutuhkan “penglihatan binokular”. Satu mata melihat melalui lensa tajam psikoanalisis untuk membongkar ilusi bawah sadar dan patologi sosial. Mata yang lain memandang melalui lensa Injil untuk menangkap cakrawala harapan dan tujuan akhir (telos) keberadaan manusia.
Analisis Psikodinamika: Pisau Bedah untuk Membongkar Ilusi
Pilar pertama dari metodologi kita adalah Analisis Psikodinamika, khususnya yang dikembangkan oleh Erich Fromm dalam tradisi Humanisme Dialektis. Pendekatan ini tidak berhenti pada gejala permukaan, melainkan menggali ke akar motivasi yang sering kali tidak disadari.
Tujuan utama dari penggunaan metode ini dalam buku kita bukanlah sekadar mendeskripsikan perilaku manusia secara statistik (behaviorisme), melainkan untuk melakukan tindakan membuka kedok (unmasking). Kita hidup dalam masyarakat yang ahli dalam penipuan diri (self-deception) dan dalam ilusi kolektif yang meninabobokan. Kita menyebut keserakahan yang merusak sebagai “ambisi” dan “pertumbuhan ekonomi”. Narsisme patologis kita sebut sebagai “personal branding” dan “ekspresi diri”; dan kita menutupi ketidakpedulian terhadap sesama dengan jubah “profesionalisme” dan “privasi“.
Menggunakan pisau bedah analisis Fromm, kita akan menembus permukaan “kewarasan sosial” yang menipu ini untuk menemukan patologi yang tersembunyi di bawahnya. Membedah nanah yang ada di balik kulit peradaban yang tampak mulus.
Pertama, Menelusuri Karakter Sosial (Social Character).
Fromm mengajarkan bahwa masyarakat bukan hanya kumpulan individu, tetapi memiliki struktur karakter kolektif. Kita akan menganalisis bagaimana struktur ekonomi pasar kapitalis membentuk jiwa kita menjadi apa yang disebut Fromm sebagai “Karakter Pemasaran” (Marketing Character). Dalam mode ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya sebagai subjek yang aktif dan mencintai, melainkan sebagai komoditas yang nilai dirinya bergantung pada seberapa “laku” ia di pasar kepribadian. Kita akan melihat bagaimana rasa hampa dan kecemasan adalah hasil langsung dari komodifikasi jiwa ini.[1]
Kedua, Mengidentifikasi Mekanisme Pelarian (Mechanisms of Escape).
Kebebasan adalah beban yang berat bagi jiwa yang rapuh. Kita akan menyelidiki secara mendalam bagaimana manusia modern, yang ketakutan akan isolasi dan tanggung jawab, melarikan diri dari beban kebebasan ini. Kita akan membedah dua mekanisme utama yang dijelaskan Fromm dalam Escape from Freedom. Yakni, konformitas robotik yaitu meleburkan diri ke dalam massa, menjadi sama persis seperti yang diharapkan orang lain, hingga kehilangan “diri” yang otentik. Dan destruktifitas yaitu keinginan untuk menghancurkan dunia atau orang lain sebagai kompensasi atas ketidakmampuan untuk menciptakan kehidupan.
Ketiga, Membedakan Biofilia dan Nekrofilia.
Metodologi ini akan menjadi kompas etis kita. Dalam setiap fenomena sosial—apakah itu penggunaan teknologi, sistem politik, atau gaya hidup—kita akan terus bertanya: Apakah praktik ini mendukung kehidupan, pertumbuhan, dan keorganikan (Biofilia)? Ataukah ia tertarik pada yang mati, mekanis, murni keteraturan, dan kontrol yang mematikan (Nekrofilia)? Pembedaan ini krusial untuk memahami mengapa budaya kita sering kali merayakan kekerasan dan mengabaikan kelembutan.
Analisis ini memberikan kita kejujuran klinis yang brutal namun perlu. Tanpa diagnosis yang jujur tentang mengapa kita sakit, agama hanya akan menjadi obat penenang (opiate) yang menyamarkan gejala, bukan kekuatan yang membebaskan dan menyembuhkan akar masalah.
Hermeneutika Spiritual: Membaca Tanda Zaman dengan Mata Hati
Namun, diagnosis saja tidak menyembuhkan; ia hanya langkah awal. Di sinilah pilar kedua masuk dengan kekuatan penuh: Hermeneutika Spiritual. Ini bukan sekadar eksegesis akademis atas teks-teks kuno yang terlepas dari kehidupan, melainkan sebuah cara membaca realitas (reading reality) dan sejarah dalam terang Sabda Allah yang hidup, sebagaimana dipraktikkan dalam liturgi dan kehidupan harian Komunitas Sant’Egidio.
Dalam tradisi Sant’Egidio, Injil tidak dibaca sebagai buku sejarah tentang masa lalu, melainkan sebagai cermin profetik bagi masa kini. Kitab Suci adalah “surat cinta Allah” yang ditujukan kepada kita hari ini, di sini, dalam situasi konkret kita.
Sebuah contoh yang sangat kuat ditemukan dalam renungan tanggal 30 November 2022, pada Pesta Santo Andreas Rasul:
“Iman timbul dari pendengaran… Tanpa mendengarkan, iman menjadi rapuh dan tidak efektif. Dunia mengering ketika orang akhirnya hanya mendengarkan diri mereka sendiri dan alasan mereka sendiri.”[2]
Hermeneutika spiritual ini bekerja sebagai metode penyembuhan dengan cara-cara berikut:
Pertama, Mendengarkan sebagai Metode Epistemologis (Anti-Narsisme).
Di tengah budaya visual yang narsis, di mana semua orang berteriak ingin dilihat dan divalidasi, Sant’Egidio menekankan keutamaan mendengarkan (audio). Kebenaran tidak ditemukan dengan memproyeksikan ego kita ke dunia (monolog), tetapi dengan membiarkan “yang lain”—baik itu Tuhan melalui sabda-nya maupun kaum miskin melalui jeritan mereka—berbicara kepada kita. Ini adalah metode anti-narsisme yang paling radikal: membungkam ego untuk memberi ruang bagi Liyan.
Kedua, Teologi Wajah (The Theology of the Face).
Dalam metode ini, “data” yang paling valid dan akurat tentang kondisi dunia bukanlah statistik ekonomi atau grafik saham, melainkan wajah manusia. Membaca Alkitab melatih mata batin kita untuk melihat wajah orang miskin, orang sakit, dan orang asing bukan sebagai masalah sosial atau angka statistik, melainkan sebagai “Sakramen”—tanda kehadiran Tuhan yang menuntut respons etis. Wajah adalah epifani; ia memanggil kita untuk bertanggung jawab.
Ketiga, Nubuat Harapan (Eskatologi yang Membumi).
Jika psikoanalisis cenderung melihat determinisme masa lalu (trauma masa kecil, sejarah sosial), hermeneutika spiritual membuka dimensi masa depan (eskatologi). Ia memiliki visi profetik yang melihat “tunas” kehidupan di batang yang tampaknya sudah kering dan mati (Yesaya 11:1). Hermeneutika ini memberikan kekuatan harapan yang melampaui data sosiologis yang suram, meyakinkan kita bahwa sejarah tidak tertutup, dan bahwa kasih Allah memiliki kata terakhir atas kematian.
Sintesis: “Living Documents” sebagai Sumber Data
Dalam penulisan buku ini, saya tidak hanya bersandar pada tumpukan buku yang berdebu di perpustakaan. Sesuai dengan metode Sant’Egidio yang menekankan perjumpaan nyata dan inkarnasi, data primer dari analisis ini adalah apa yang saya sebut sebagai Dokumen Hidup (Living Documents). Teori harus diuji dalam daging dan darah kehidupan.
Arsip Penderitaan dan Harapan (Renungan Harian).
Pertama, saya menggunakan Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio selama tiga tahun terakhir bukan sebagai teks devosional yang saleh semata, melainkan sebagai “rekam medis jiwa” sebuah komunitas yang bergulat secara real-time dengan isu-isu kontemporer. Dokumen ini merekam detak jantung komunitas yang merespons perang di Ukraina, krisis pengungsi, hingga kesepian lansia di panti jompo. Ini adalah teologi yang lahir dari jalanan, bukan dari meja tulis.
Praksis Persahabatan (Laboratorium Kasih). Bagian kedua; data empiris buku ini diambil dari pengalaman konkret dan program nyata seperti “Sekolah Damai” (Schools of Peace) bagi anak-anak kurang mampu, “Makan Siang Natal” bersama ribuan orang miskin di basilika, dan “Koridor Kemanusiaan” yang menyelamatkan pengungsi.[3]Di sinilah teori Fromm tentang Brotherly Love (Cinta Persaudaraan) diuji validitasnya secara ketat. Apakah cinta benar-benar bisa mengubah musuh menjadi teman? Apakah kelembutan bisa mengalahkan kekerasan? Sant’Egidio memberikan bukti sejarah yang tak terbantahkan, bukan sekadar hipotesis utopis.
Suara dari Pinggiran (Guru Kehidupan). Sumber kebenaran ketiga dalam buku ini juga berasal dari suara mereka yang tak terdengar dan sering diabaikan. Para lansia yang kesepian di panti jompo, pengungsi yang kehilangan tanah air dan identitas, serta anak-anak jalanan yang tidak memiliki masa depan. Dalam metodologi kami, mereka bukanlah objek penelitian, melainkan “Profesor Kehidupan”. Mereka mengajarkan kita tentang kerentanan, tentang esensi kemanusiaan, dan tentang ketahanan yang tidak diajarkan di universitas manapun.
Kesimpulan: Menuju Humanisme Teosentris
Dengan menggabungkan analisis tajam Erich Fromm dan kedalaman spiritualitas Komunitas Sant’Egidio, kita tiba pada sebuah pendekatan yang saya sebut Humanisme Teosentris.
Ini adalah sebuah Humanisme sejati karena ia sangat peduli pada pemenuhan potensi manusia. Pada kebebasan dari belenggu determinisme, kreativitas, dan kemampuan untuk mencintai. Ia menolak segala bentuk penindasan terhadap manusia atas nama apa pun.
Namun, ini adalah humanisme yang Teosentris karena ia mengakui secara rendah hati bahwa manusia hanya bisa menjadi manusia sepenuhnya jika ia terhubung dengan Sumber Hidup yang melampaui dirinya sendiri. Manusia menjadi utuh bukan dengan menjadi tuhan bagi dirinya sendiri (narsisme), melainkan dengan menjadi gambar Allah yang hidup.
Seperti yang ditulis dalam Renungan Sant’Egidio tentang kisah penyembuhan orang lumpuh (Markus 2), di mana Yesus menyembuhkan baik jiwa maupun raga:
“Dosamu sudah diampuni… Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”[4]
Metodologi penulisan ini bertujuan untuk melakukan kedua hal tersebut sekaligus dalam satu gerakan pembebasan. Mengampuni dosa (penyembuhan spiritual/batin/relasi dengan Allah) dan memampukan manusia untuk “bangun dan berjalan” (penyembuhan psikologis/kemandirian/kesehatan mental).
Inilah jalan yang akan kita tempuh bersama dalam seri-seri selanjutnya. Kita tidak akan berhenti pada diagnosis yang pesimis tentang kegelapan zaman, tetapi kita akan bergerak dengan mantap menuju prognosis yang penuh harapan: sebuah Revolusi Harapan yang lahir dari keberanian untuk menjadi manusia yang utuh, yang merdeka, produktif, dan damai di hadapan Tuhan dan sesama.
=========== Salam dari Borong ===========
[1]Fromm, Erich. (1947). Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics. New York: Rinehart. Bab tentang “Marketing Orientation” memberikan analisis mendalam tentang bagaimana nilai tukar menggantikan nilai guna dalam kepribadian manusia modern.
[2]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Rabu, 30 November 2022: Pesta Santo Andreas Rasul”, Hlm. 2-3.
[3]Website Komunitas Sant’Egidio (https://www.santegidio.org/). Data mengenai program-program sosial dan inisiatif perdamaian yang menjadi bukti empiris dari metodologi cinta kasih dan efektivitas “soft power” dalam resolusi konflik.
[4]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Jumat, 12 Januari 2024” (Markus 2:1-12), Hlm. 256. Renungan ini menyoroti bahwa Injil menyapa manusia seutuhnya, baik kebutuhan rohani maupun fisiknya.
[1]Fromm, Erich. (1950). Psychoanalysis and Religion. New Haven: Yale University Press. Hal. 95. Fromm menekankan bahwa alih-alih bertentangan, psikoanalisis dan agama humanistik memiliki tujuan yang sama: kebenaran, kemerdekaan, dan pembebasan manusia dari berhala.