01. Epidemiologi Kesepian: Paradoks Keterasingan di Era Hiperkonektivitas Digital

01. Epidemiologi Kesepian: Paradoks Keterasingan di Era Hiperkonektivitas Digital

“The deepest need of man, then, is the need to overcome his separateness, to leave the prison of his loneliness.”
(“Kebutuhan manusia yang paling mendalam, dengan demikian, adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya, untuk meninggalkan penjara kesepiannya.”)

Erich Fromm, The Art of Loving

Pendahuluan: Sebuah Wabah Tanpa Virus

Saudara-saudariku, para peziarah kemanusiaan yang terkasih,

Mari kita memulai kuliah kehidupan ini dengan sebuah kejujuran yang radikal, sebuah keberanian untuk menatap cermin peradaban kita tanpa berkedip. Kita sedang berdiri di tengah puing-puing sebuah paradoks peradaban yang paling membingungkan dan ironis dalam sejarah panjang evolusi Homo Sapiens. Kita menghuni sebuah era yang memiliki infrastruktur komunikasi paling canggih; serat optik yang membelah dasar samudra yang gelap, satelit yang memeluk bumi dalam orbit sunyi, dan sinyal nirkabel yang menembus dinding-dinding kamar tidur kita. Namun, data klinis, statistik kesehatan mental, dan realitas eksistensial sehari-hari menunjukkan grafik yang berbanding terbalik secara tragis. Kita sedang sekarat karena Global Loneliness (kesepian global).

Saya menyebut fenomena ini sebagai Epidemiologi Kesepian.

Mengapa saya menggunakan terminologi medis “epidemiologi”? Karena seperti wabah kolera di abad ke-19 atau influenza di abad ke-20, kesepian di abad ke-21 telah bermutasi dari sekadar suasana hati melankolis (state of mind) atau pengalaman puitis yang privat, menjadi patologi kesehatan masyarakat yang sistemik dan mematikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai studi neuropsikologi mutakhir telah membunyikan alarm: kesepian kronis memiliki dampak mortalitas yang setara dengan merokok 15 batang sehari, dan lebih berbahaya daripada obesitas.[1] Namun, berbeda dengan virus biologis yang menular melalui sentuhan fisik atau droplet, wabah ini menular justru melalui absennya sentuhan, melalui ketiadaan kehadiran yang nyata, dan melalui ilusi kedekatan yang ditawarkan oleh layar kaca. Kerusakan yang paling fatal bukanlah pada paru-paru fisik kita, melainkan pada “paru-paru ontologis” kita—kemampuan kita untuk bernapas sebagai manusia yang utuh dalam relasi timbal balik dengan yang lain (The Other).

Dalam seri pembuka ini, kita akan membedah anatomi kesepian ini menggunakan pisau bedah Psikologi Humanistik Erich Fromm, disandingkan dengan kebijaksanaan spiritual yang membumi dari “laboratorium persahabatan” Komunitas Sant’Egidio.

Halusinasi Koneksi: Fenomena “Alone Together”

Kita hidup dalam ilusi optik sosial yang memukau namun menipu. Di kafe-kafe Jakarta yang trendi, di dalam gerbong metro Paris yang padat, atau di apartemen-apartemen New York yang menjulang, kita melihat manusia yang terus-menerus “terhubung”. Jari-jari menari di atas layar, mata terpaku pada cahaya biru, notifikasi berbunyi tanpa henti. Namun, sosiolog dan psikolog dari MIT, Sherry Turkle, mendefinisikan kondisi sosiologis ini dengan istilah yang mengerikan namun akurat: Alone Together (Bersama tapi Sendirian).[2]

Teknologi digital menjanjikan kita jembatan untuk menyeberangi jarak, tetapi sering kali ia hanya membangun dinding kaca yang transparan namun tak tertembus. Kita menginginkan kedekatan, tetapi secara paradoksal kita takut pada keintiman. Mengapa? Karena keintiman yang nyata itu messy (berantakan), menuntut kesabaran, penuh risiko penolakan, dan yang paling menakutkan bagi manusia modern: tidak bisa dikontrol.

Dalam dunia digital, kita menderita apa yang saya sebut “Efek Goldilocks” dalam relasi manusia. Seperti Goldilocks yang mencari bubur yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, kita menginginkan orang lain dalam jarak yang “pas”. Tidak terlalu dekat; karena kedekatan yang nyata menuntut kita mencium bau keringat sesama, melihat kerutan kelelahan di wajah mereka, dan merasakan emosi yang tidak terfilter. Itu terlalu “panas” dan melelahkan bagi ego kita yang rapuh. Tidak terlalu jauh; karena kita takut sendirian dan membutuhkan validasi terus-menerus. Itu terlalu “dingin”. Tapi “pas”; cukup dekat untuk merasa terhubung secara digital, tapi cukup jauh untuk bisa dikendalikan dengan tombol block, mute, atau delete.

Erich Fromm, jika ia masih hidup hari ini, akan melihat media sosial sebagai manifestasi puncak dari Alienasi.

Kita telah melakukan barter yang merugikan: kita menukar emas murni berupa percakapan tatap muka—yang melibatkan risiko, tatapan mata, feromon, dan kehadiran tubuh yang sakramental—dengan uang receh berupa koneksi digital yang dangkal. Kita mengirim pesan teks (chat) karena kita bisa menyuntingnya (edit) agar terdengar lebih pintar atau lebih baik dari diri kita yang sebenarnya. berbagai studi neuropsikologi mutakhir telah membunyikan alarm: kesepian kronis memiliki dampak mortalitas yang setara dengan merokok 15 batang sehari, dan lebih berbahaya daripada obesitas. Voice note yang kita kirimlakan, karena kita bisa mengontrol nadanya tanpa harus menghadapi reaksi langsung lawan bicara. Kita memposting foto karena kita bisa memfilter realitasnya, menyembunyikan kesedihan di balik filter kecantikan.

Kita telah menciptakan “Avatar Diri” yang sempurna namun mati, dan kita bersembunyi di belakangnya. Akibatnya, kita mengalami malnutrisi jiwa yang parah. Kita kenyang dengan informasi (information overload), tapi mati kelaparan akan kehadiran (presence).

Neurosis “Karakter Pemasaran” di Ruang Digital

Akar dari epidemi ini lebih dalam dari sekadar kecanduan gawai atau algoritma media sosial. Ini adalah masalah struktur karakter dasar manusia modern. Erich Fromm memperkenalkan konsep Karakter Pemasaran (The Marketing Character) untuk menggambarkan manusia modern yang mengalami dirinya bukan sebagai subjek yang aktif mencintai, melainkan sebagai komoditas yang harus dijual di pasar kepribadian.[3]

Di era Instagram, TikTok, dan LinkedIn, patologi ini mencapai metastatisnya. Nilai diri (self-worth) seseorang tidak lagi bersifat intrinsik dan ontologis (“Aku berharga karena aku ada, karena aku manusia, karena aku dicintai Allah”). Saat ini seseorang menjadi ekstrinsik dan fluktuatif, bergantung sepenuhnya pada opini pasar (“Aku berharga jika aku di-like, jika aku viral, jika aku memiliki followers, jika aku ditonton”).

Rumus eksistensial Cogito, ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) atau Amo, ergo sum (aku mencintai, maka aku ada) telah digantikan secara tragis oleh Vendeo, ergo sum (aku laku dijual, maka aku ada).

Ketika nilai diri Anda bergantung pada algoritma yang tidak memiliki hati nurani, Anda akan hidup dalam kecemasan kronis dan ketidakamanan batin. “Apakah postingan saya cukup menarik?”, “Mengapa dia tidak membalas pesan saya?”, “Mengapa hidup orang lain tampak lebih bahagia dari saya?”.

Kesepian di era digital bukan hanya perasaan “tidak ada orang”, melainkan perasaan “tidak laku” di pasar sosial. Ini adalah Narsisme Maligna yang mengisolasi. Kita terkurung dalam Echo Chamber (ruang gema) ego kita sendiri, tidak mampu mendengar suara “Yang Lain”, hanya mendengar pantulan suara kita sendiri yang mendambakan pengakuan. Kita menjadi, meminjam istilah Fromm, “narsisis yang terasing”, yang menggunakan orang lain hanya sebagai cermin untuk mengagumi diri sendiri.

Jeritan dari Kolam Betesda: “Hominem Non Habeo”

Di sinilah Spiritualitas Sant’Egidio masuk dengan kekuatan profetiknya, menawarkan diagnosis yang menembus lapisan sosiologis menuju inti teologis. Dalam tradisi renungan komunitas, kisah penyembuhan di kolam Betesda (Yohanes 5:1-15) sering diangkat sebagai arketipe kondisi manusia urban modern yang paling akurat.

Bayangkan adegan itu: Yerusalem yang ramai, sebuah kota suci, pusat keramaian religius. Di sana ada sebuah kolam yang dikelilingi oleh lima serambi, penuh sesak dengan orang sakit, buta, timpang, dan lumpuh. Di tengah kerumunan penderitaan itu, berbaring seorang lumpuh yang telah sakit selama 38 tahun. Tiga puluh delapan tahun! Sebuah angka yang melambangkan satu masa kehidupan yang hilang.

Ketika Yesus, Sang Tabib Agung, datang dan bertanya apakah ia ingin sembuh, jawabannya bukanlah “Ya” yang penuh harap. Jawabannya adalah sebuah keluhan, sebuah diagnosis paling menyayat hati tentang epidemi kesepian di tengah kota yang padat:

Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam…” (Yohanes 5:7).

Dalam bahasa Latin Vulgata: Hominem non habeo (Aku tidak punya manusia/orang).

Kalimat “Aku tidak punya orang” adalah jeritan diam-diam yang bergema di balik pintu-pintu apartemen di kota-kota besar kita. Ini adalah jeritan dari jutaan lansia yang mati sendirian di panti jompo, dari anak-anak muda yang hikikomori (menarik diri) di kamar mereka karena takut akan dunia, dari para pengungsi yang tidak diinginkan oleh negara manapun, dan bahkan dari para eksekutif sukses yang menangis dalam kesunyian mobil mewahnya.

Kita memiliki followers, kita memiliki kontak, kita memiliki koneksi, kita memiliki network, tetapi kita tidak memiliki manusia—seseorang yang bersedia “menurunkan kita ke air”. Seseorang yang hadir secara fisik saat kita lumpuh, seseorang yang tidak meminta bayaran untuk persahabatannya.

Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio mengingatkan kita tentang realitas “gurun” ini di tengah kota:

“Padang gurun bagi kita adalah hati, kota-kota seperti gurun cinta, kehidupan, dan martabat, dan karena itu menjadi mangsa kekerasan, perang, pengabaian, dan kesepian… Kota yang membiarkan jarak antara si kaya dan si miskin bertambah adalah kota yang akan digulingkan Tuhan.”[4]

Tuhan tidak menjawab kesepian ini dengan mengirimkan sebuah file digital atau pesan dari awan. Dia menjawabnya dengan In-karnasi (menjadi daging). Dia datang menjadi manusia, menjadi “orang itu” bagi si lumpuh.

Terapi Kehadiran: Melawan Dis-inkarnasi

Oleh karena itu, solusi untuk epidemi kesepian bukanlah sekadar “detoks digital” atau mematikan ponsel. Solusinya jauh lebih radikal: kita memerlukan Revolusi Kehadiran. Kita perlu memulihkan tubuh ke dalam relasi kita.

Metode Sant’Egidio mengajarkan bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan narsisme digital dan kesepian eksistensial adalah dengan memulihkan dimensi fisik dari kasih. Kita harus kembali kepada “sakramen perjumpaan”.

Kita harus Menatap Wajah (The Face), dimana filsuf Emmanuel Levinas mengatakan bahwa etika dimulai dari wajah. Wajah “Yang Lain” adalah perintah yang berkata “Jangan bunuh aku”. Di Sant’Egidio, persahabatan dengan orang miskin dimulai dengan menatap mata, bukan memberi koin sambil membuang muka. Mata adalah jendela di mana kita melihat jiwa yang setara, bukan objek derma.

Kita harus Menyentuh Luka (The Touch), seperti Yesus yang menyentuh orang kusta, kita harus berani menyentuh. Menyalam tangan lansia yang keriput, memeluk sahabat jalanan yang bau, merangkul mereka yang “tak tersentuh” (untouchables) di masyarakat kita. Sentuhan fisik memecahkan gelembung isolasi digital dan mengirimkan sinyal neurobiologis yang tak tergantikan: “Kamu nyata. Kamu ada. Kamu tidak sendirian.”

Kita harus Setia akan Waktu (Fidelity), dimana algoritma bergerak cepat dan instan, tetapi persahabatan membutuhkan waktu yang lambat dan setia. Kesetiaan mengunjungi orang yang sama, di tempat yang sama, selama bertahun-tahun (seperti yang dilakukan komunitas di panti jompo atau jalanan) adalah terapi untuk melawan budaya instan yang membuang manusia.

Kesimpulan: Menjadi “Manusia” bagi yang Lain

Saudara-saudaraku, tantangan terbesar kita di abad ke-21 bukanlah menciptakan teknologi yang lebih canggih untuk menghubungkan kabel atau mempercepat data. Tantangan kita adalah menciptakan hati yang lebih luas untuk menampung kehadiran, untuk menjadi “manusia” bagi sesama kita.

Epidemiologi kesepian hanya bisa dihentikan jika kita masing-masing memutuskan untuk keluar dari penjara ego kita dan menjadi jawaban atas jeritan “Hominem non habeo”. Kita dipanggil untuk menjadi orang yang menurunkan sesama ke dalam kolam kehidupan.

Seperti yang ditulis Erich Fromm dalam kesimpulan The Art of Loving:

“Cinta adalah satu-satunya jawaban yang waras dan memuaskan terhadap masalah eksistensi manusia.”[5]

Dan cinta itu, seperti yang diajarkan dan dihidupi di Sant’Egidio, bukanlah perasaan sentimental di dunia maya, melainkan tangan yang terulur, pintu yang terbuka, nama yang diingat, dan meja yang disiapkan untuk makan bersama. Kita mulai dari sini: dari kesadaran bahwa kita sakit karena terpisah, dan kita sembuh hanya ketika kita bersatu kembali. Bukan sebagai profil data, melainkan sebagai saudara dan saudari.

=========== Salam dari Borong ===========


[1]Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., & Layton, J. B. (2010). “Social relationships and mortality risk: a meta-analytic review”. PLoS Medicine. Penelitian meta-analisis ini menjadi landasan ilmiah global yang menegaskan bahwa isolasi sosial memiliki risiko kematian yang sebanding dengan faktor risiko klinis utama lainnya.

[2]Turkle, Sherry. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. New York: Basic Books. Turkle, melalui studi etnografisnya, menganalisis bagaimana teknologi menawarkan ilusi persahabatan tanpa tuntutan persahabatan, menciptakan kedekatan semu.

[3]Fromm, Erich. (1947). Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics. New York: Rinehart. Bab tentang “Marketing Orientation” sangat relevan untuk menjelaskan komodifikasi diri di era media sosial, di mana kepribadian dijual sebagai paket.

[4]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Selasa, 06 Desember 2022” (Yesaya 40:1-11) tentang padang gurun hati (hlm. 6) dan renungan “Kamis, 01 Desember 2022” (Yesaya 26:1-6) tentang kota yang membiarkan jarak antara kaya dan miskin (hlm. 3).

[5]Fromm, Erich. (1956). The Art of Loving. New York: Harper & Row. Hlm. 112. Tesis utama Fromm bahwa kesehatan mental tidak dapat dicapai dalam isolasi, melainkan bergantung pada kemampuan untuk mencintai secara produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *