09.    Lima Dasar Kebutuhan Jiwa; Keterhubungan, Transendensi, Keberakaran, Identitas, dan Kerangka Orientasi

09.    Lima Dasar Kebutuhan Jiwa; Keterhubungan, Transendensi, Keberakaran, Identitas, dan Kerangka Orientasi

“Manusia tidak hidup dari roti saja. Ini bukan ajaran moral, melainkan pernyataan fakta tentang kodrat manusia. Jika ia tidak memiliki tujuan lain selain makan dan minum, ia akan mati karena kebosanan dan kehampaan.”

Erich Fromm, The Revolution of Hope

Pendahuluan: Melampaui Roti dan Sirkus— Kritik Radikal terhadap Kebahagiaan Materialistis

Selamat pagi, para pencari kebenaran. Silakan duduk, ambil napas dalam-dalam, dan siapkan hati serta pikiran Anda untuk menyelam ke kedalaman samudra jiwa.

Hari ini kita akan membedah anatomi jiwa manusia yang paling fundamental, sebuah wilayah yang sering kali terabaikan, tertimbun oleh hiruk-pikuk kehidupan modern yang superfisial dan bising.

Selama berabad-abad, terutama sejak revolusi industri yang mengagungkan mesin; para ekonom, politisi, dan sayangnya banyak psikolog behavioris, mencoba meyakinkan kita dengan sebuah dogma yang sangat sederhana namun menyesatkan. Manusia hanyalah “mesin biologis yang butuh bahan bakar” kata mereka. Teorinya berbunyi: beri mereka makan yang cukup, beri mereka kepuasan seksual yang teratur, beri mereka keamanan fisik dari predator, dan beri mereka hiburan yang melenakan (panem et circenses—roti dan sirkus, resep kuno Kaisar Romawi untuk meredam gejolak rakyat), maka mereka akan bahagia, diam, dan produktif.

Itu adalah kebohongan terbesar dan paling berbahaya dari peradaban materialistis kita, sebuah reduksi manusia menjadi ternak yang bahagia.

Jika teori itu benar, kita dihadapkan pada sebuah anomali sosiologis yang tak terjelaskan: mengapa masyarakat paling makmur di dunia—seperti negara-negara Skandinavia atau kelas atas Amerika Serikat— dengan jaminan sosial terbaik, gizi berlimpah, dan akses hiburan tanpa batas 24 jam, justru mencatat tingkat konsumsi antidepresan, kecemasan (anxiety), dan bunuh diri yang mengkhawatirkan? Mengapa orang-orang yang memiliki kelimpahan secara materi sering kali menderita kelaparan ontologis yang membuat mereka merasa “kosong”, hampa, dan mati rasa (boredom)?

Erich Fromm, dalam The Sane Society (1955), membongkar ilusi ini dengan pisau analisis yang tajam. Ia berargumen bahwa manusia tidak bisa disamakan dengan simpanse di kebun binatang yang cukup diberi pisang. Karena manusia telah mengalami “evolusi kesadaran”—terpisah dari alam namun tetap menjadi bagian darinya (seperti yang kita bahas di seri 07 dan 08)—ia memiliki kebutuhan-kebutuhan baru yang bersifat eksistensial, bukan sekadar fisiologis.

Kebutuhan-kebutuhan ini bersifat imperatif. Mereka menuntut pemenuhan demi kewarasan mental (sanity).

Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi secara positif (kreatif), manusia tidak akan mati kelaparan secara fisik, tetapi ia akan memenuhinya secara negatif (destruktif). Pilihan kita bukan antara “memenuhi atau tidak memenuhi”, melainkan antara “memenuhi dengan cara yang sehat atau cara yang sakit”.

Sant’Egidio, dalam pandangan saya, adalah sebuah laboratorium sosial yang secara jenius merancang ekosistem di mana kelima kebutuhan dasar ini dipenuhi secara sehat, holistik, dan membebaskan. Mari kita bedah satu per satu dengan detail mikroskopis.

Kebutuhan akan Keterhubungan (The Need for Relatedness)

Manusia, yang sadar akan kesendiriannya di tengah alam semesta yang dingin dan tak terbatas, menghadapi teror isolasi mental. Jika ia tetap terisolasi sepenuhnya, ia akan menjadi gila (insane). Untuk menjaga kewarasannya, ia harus membangun jembatan dengan dunia di luarnya. Fromm memetakan dua jalan utama untuk mencapai keterhubungan ini:

a. Jalan Regresif (Mundur ke Rahim Simbiosis)

Ini adalah upaya putus asa dan patologis untuk kembali ke rasa aman semu dengan cara menghilangkan kemerdekaan diri. Melalui masokisme (ketundukan), individu menyerahkan dirinya untuk ditelan oleh kekuatan yang lebih besar (partai, negara, diktator, atau institusi agama yang otoriter). Ia merasa terhubung karena menjadi “bagian” dari sesuatu yang besar, tetapi ia kehilangan integritas dirinya. Ia aman, tapi ia bukan lagi individu; ia menjadi debu. Melalui sadisme (dominasi); individu mencoba menelan orang lain dan membuat orang lain bergantung padanya. Manusia merasa terhubung dengan “korbannya”, tetapi hubungan ini parasitik. Ia butuh korbannya sama besarnya dengan korban butuh dia. Ia tidak bisa hidup sendiri; ia butuh seseorang untuk disiksa atau dikuasai. Dalam kedua kasus ini, keterhubungan tercapai, tetapi kebebasan hancur. Ini adalah persatuan tanpa integritas.

b. Jalan Progresif (Maju menuju Kebebasan)

Hanya ada satu cara untuk bersatu dengan dunia tanpa kehilangan integritas diri yakni melaui cinta. Dalam cinta yang matang, sebuah paradoks indah terjadi; dua makhluk menjadi satu, namun tetap dua. “I am you, yet I remain myself.” Cinta menghancurkan tembok pemisah tanpa meruntuhkan individualitas.

Dunia modern menawarkan keterhubungan palsu lewat “konektivitas digital”, dimana kita terhubung dengan ribuan akun tapi tidak mengenal satu jiwa pun secara mendalam. Dan “konformitas massa”; kita merasa terhubung karena memakai merek baju yang sama atau menyukai artis yang sama). Sant’Egidio menawarkan antitesis radikal yakni gratuitous friendship (persahabatan tanpa pamrih).

Bayangkan seorang profesional muda yang sibuk di Jakarta atau Roma.

Sepulang kerja, alih-alih pergi ke kafe untuk membius diri dengan alkohol atau scrolling media sosial, ia pergi ke panti jompo pinggiran kota yang sepi dan bau obat. Ia duduk di samping seorang lansia yang pikun, memegang tangannya yang keriput, dan mendengarkan cerita masa lalu yang sama berulang-ulang dengan kesabaran seorang ibu. Apakah dia dibayar? Tidak, karena ini bukan hubungan transaksional pasar. Apakah dia terpaksa karena aturan agama? Tidak, karena ini bukan hubungan legalistik masokistik. Dia datang karena dia melihat lansia itu sebagai sahabat.

Inilah pemenuhan kebutuhan keterhubungan tingkat tertinggi. Seperti yang ditekankan dalam Renungan Harian Komunitas, kita sering diingatkan tentang bahaya “narsisme rohani”—berdoa hanya untuk kesalehan diri sendiri di menara gading. Spiritualitas Sant’Egidio memecahkan cangkang narsisme itu dengan memaksa kita menatap wajah “Yang Lain” (The Other), terutama wajah orang miskin yang tidak bisa membalas budi kita. Di sanalah, dalam perjumpaan yang setara, jiwa kita sembuh dari isolasi tanpa kehilangan kebebasan.

“Keterhubungan yang sehat hanya mungkin jika ‘aku’ tetaplah ‘aku’, dan ‘kamu’ tetaplah ‘kamu’, namun kita bertemu dalam ‘kita’. Cinta adalah anak dari kebebasan, bukan hasil dari dominasi.”[1]

Kebutuhan akan Transendensi (The Need for Transcendence)

Jangan salah artikan ini dengan konsep teologis tentang surga semata. Transendensi bagi Fromm memiliki arti antropologis: kebutuhan mendesak untuk melampaui peran pasif sebagai “makhluk ciptaan” (creature) yang dilemparkan ke dunia tanpa diminta.

Manusia tidak puas hanya menjadi dadu yang dikocok nasib atau daun yang ditiup angin. Ia memiliki kesadaran diri dan imajinasi, sehingga ia ingin menjadi pencipta (creator) atas hidupnya sendiri. Ia ingin meninggalkan jejak bahwa ia pernah ada; ia ingin merasa efektif.

Ada dua cara ekstrem untuk melampaui kepasifan ini. Pertama, menciptakan (creativity) yakni menanam benih, melahirkan anak, menulis puisi, membangun perdamaian, melukis, atau mencintai. Ini adalah transendensi positif; kita naik di atas kepasifan dengan memberi kehidupan. Kita menjadi serupa dengan Tuhan sang Pencipta. Kedua, menghancurkan (destructiveness); Jika seseorang gagal atau tidak mampu menciptakan kehidupan (karena kemiskinan struktural, penindasan, atau kekosongan jiwa), ia akan membalas dendam pada kehidupan dengan menghancurkannya.

Mengapa seorang pemuda bergabung dengan geng motor anarkis atau kelompok teroris? Karena saat ia memegang senjata dan menebar teror, ia merasakan lonjakan “kuasa ilahi” yang palsu. Ia merasa melampaui kehidupan dengan cara mencabut nyawa orang lain. Menghancurkan memberinya ilusi transendensi yang instan dan mudah. Ini adalah “kreativitas yang terbalik”: jika aku tidak bisa menciptakan kehidupan, setidaknya aku bisa menghancurkannya. “Aku menghancurkan, maka aku ada” (I destroy, therefore I am).

Memahami hal ini mengubah cara kita melihat kekerasan remaja atau kriminalitas. Tawuran dan vandalisme sering kali adalah jeritan keputusasaan dari jiwa yang terblokir potensi kreatifnya.

Sant’Egidio memberikan saluran keluar yang sehat melalui program Schools of Peace (Sekolah Damai). Di daerah kumuh (slums) di mana anak-anak biasanya hanya punya pilihan menjadi korban atau pelaku kekerasan, Sant’Egidio datang dan berkata: “Kamu bukan sampah. Kamu bisa menjadi pembangun damai.”Anak-anak diajak belajar membaca (membuka dunia ide), bermain musik, menggambar, dan melayani lansia. Energi psikis yang tadinya mengarah pada destruksi (karena frustrasi) dialihkan (sublimated) menjadi aksi kreatif yang membangun.

Mereka diajak menciptakan masa depan yang berbeda dari lingkungan ghetto mereka. Bertransendensi bukan dengan membakar ban di jalan, tapi dengan menyalakan lilin harapan bagi orang lain. Mereka menjadi subjek sejarah, bukan objek penderitaan.

“Manusia bisa menghancurkan kehidupan… atau dia bisa mencintai kehidupan. Pilihan kedua adalah jalan menuju kewarasan, sedangkan pilihan pertama adalah jalan menuju kegilaan kolektif dan nekrofilia.”[2]

Kebutuhan akan Keberakaran (The Need for Rootedness)

Kelahiran manusia adalah trauma perpisahan dari “akar” biologis (rahim ibu). Sepanjang hidup, kita merasa seperti pohon yang dicabut dari tanah. Kita merindukan “rahim pengganti” untuk merasa aman dan tidak sendirian di alam semesta yang luas.

Pertama, Akar Sumbang (Incestuous Ties). Ini adalah cara yang patologis, atau apa yang Fromm sebut sebagai “Fiksasi Inses” (Incestuous Fixation). Seseorang terikat secara fanatik pada klan, suku, bangsa, atau rasnya. “Benar atau salah, ini negaraku/sukuku”. Ia merasa aman hanya di dalam “rahim kelompok” yang familiar. Ia takut pada orang asing karena perbedaan mengancam rasa amannya. Inilah akar psikologis dari nasionalisme sempit, rasisme, xenofobia, dan fundamentalisme agama. Ini adalah upaya kembali ke rahim yang hangat namun mematikan kedewasaan dan kemandirian. Orang seperti ini tidak pernah benar-benar “lahir” menjadi warga dunia.

Kedua, Akar Universal. Ini adalah keberakaran orang dewasa. Seseorang menemukan akarnya dalam Persaudaraan Manusia (Human Brotherhood). Ia menyadari: “Bumi adalah rumahku, dan setiap manusia—apa pun warna kulit, agama, atau bahasanya—adalah saudaraku.” Ia tidak butuh tembok pemisah untuk merasa aman. Keamanannya datang dari imannya pada kemanusiaan dan Tuhan.

Sant’Egidio melakukan operasi bedah budaya untuk memotong “akar sumbang” ini. Komunitas ini mendefinisikan dirinya sebagai Keluarga Universal.

Di meja makan Sant’Egidio saat Natal atau dalam pertemuan doa, Anda akan melihat pemandangan yang membingungkan logika sektarian: seorang imigran Muslim dari Afrika, seorang pengungsi Ortodoks dari Suriah, seorang mahasiswa Katolik dari Eropa, dan seorang ateis pencari kebenaran; duduk bersama memecahkan roti. Mereka tidak disatukan oleh darah (genetik).Mereka tidak disatukan oleh bendera (nasionalisme).Mereka disatukan oleh Roh Persaudaraan dan kasih persahabatan yang melampaui batas.

Renungan tentang “Keluarga Allah” dalam file Renungan KSE sering menekankan bahwa ikatan roh lebih kuat dan lebih abadi daripada ikatan darah. Sant’Egidio mengajarkan anggotanya untuk berakar pada Iman dan Kemanusiaan, bukan pada tanah air geografis yang sempit.

“Yesus… datang di antara umat manusia untuk membuat kehidupan dan harapan akan masa depan yang baru tumbuh kembali. Dia meruntuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.”[3]

Masa depan baru ini adalah dunia tanpa batas (borderless world) dalam hati manusia, di mana orang asing menjadi saudara, dan “yang lain” menjadi “kita”.

4. Kebutuhan akan Identitas (The Need for Sense of Identity)

Manusia, sebagai makhluk yang sadar diri, harus bisa menjawab pertanyaan:“Siapakah aku?” Ia harus bisa berkata “Aku adalah Aku” sebagai subjek yang unik, bukan sekadar cerminan orang lain.

Pertama, Identitas Kawanan (Herd Identity). Karena takut menjadi berbeda dan dikucilkan, kebanyakan orang modern melepaskan identitas aslinya. “Aku adalah seperti yang kalian inginkan.” Identitas didapat dari atribut luar: “Saya manajer”, “Saya orang kaya”, “Saya influencer”, “Saya anggota Partai X”. Identitas ini rapuh; jika jabatannya hilang, dia hancur. Ini adalah konformitas otomat; ia menjadi “Bukan siapa-siapa” (nobody).

Kedua, Identitas Individualitas (Ego-Identity). Merasakan diri sebagai subjek aktif, pusat dari kekuatan, perasaan, dan pikirannya sendiri. “Saya adalah saya, bukan karena apa yang saya miliki, tapi karena apa yang saya rasakan, pikirkan, dan perbuat.”

Dalam masyarakat kapitalis, orang miskin mengalami penghapusan identitas yang sistematis. Mereka menjadi “statistik kemiskinan”, “gelandangan”, “pengemis”, atau “masalah sosial”. Mereka tidak punya nama, tidak punya wajah, tidak punya sejarah.

Di Sant’Egidio, revolusi dimulai dengan sebuah sapaan sederhana namun ontologis: memanggil nama. Ketika relawan membagikan makanan di jalanan, mereka tidak melemparkannya dari mobil seperti memberi makan hewan. Mereka turun, menatap mata, menjabat tangan, dan bertanya, “Siapa nama Bapak?””Halo, Pak Antonio.””Apa kabar, Bu Maria?”

Momen itu magis dan transformatif. Penyebutan nama adalah Restorasi Ontologis. Si miskin merasa, “Aku bukan sampah, aku Antonio. Aku ada karena ada yang memanggil namaku dan mengingatku.” Sebaliknya, bagi relawan, identitas mereka juga dipulihkan dari kepalsuan peran sosial. Di jalanan itu, topeng “direktur”, “mahasiswa”, atau “orang penting” jatuh. Yang tersisa adalah “teman bagi Antonio”. Mereka menemukan identitas sejati mereka bukan di depan cermin atau di kartu nama, tetapi di mata saudara yang mereka layani. Ini adalah identitas yang membebaskan, yang tak tergoyahkan oleh fluktuasi pasar atau karier.

Kebutuhan akan Kerangka Orientasi dan Devosi (The Need for a Frame of Orientation and Devotion)

Manusia butuh peta untuk memahami dunia yang kompleks (kerangka orientasi) dan tujuan untuk mengarahkan seluruh energinya (objek devosi). Tanpa peta, kita tersesat dalam kebingungan. Tanpa tujuan, kita lumpuh dalam kelesuan.

Pertama, Peta Irasional yakni Ideologi totaliter, takhayul, rasisme, atau teori konspirasi. Ini memberi peta yang sederhana tapi salah. “Semua masalahmu disebabkan oleh ras X.” Peta ini menenangkan kecemasan tapi menyesatkan tindakan dan memicu kebencian.

Kedua, Peta Rasional/Objektif yakni melihat dunia sebagaimana adanya, diterangi oleh akal budi dan iman yang sehat. Mampu melihat realitas tanpa distorsi keserakahan atau ketakutan.

Sant’Egidio menawarkan Injil (Gospel) sebagai peta orientasi, dan orang miskin sebagai objek devosi dalam arti pelayanan. Karena melayani orang miskin adalah melayani Kristus, sebuah devosi yang menyatukan sakramen altar dan sakramen saudara.

Kerangka orientasi Sant’Egidio sangat unik karena bersifat realis-spiritual. Komunitas ini tidak lari dari kenyataan pahit dunia ke dalam mistisisme yang terisolasi. Mereka melihat perang maka mereka melakukan mediasi damai (seperti di Mozambik, Aljazair).Mereka melihat AIDS maka mereka membuat program DREAM. Mereka melihat kelaparan maka mereka membuat Mensa.

Program DREAM (Drug Resource Enhancement Against Aids and Malnutrition) untuk penderita HIV/AIDS di Afrika adalah contoh sempurna sintesis ini. Sant’Egidio menggunakan sains medis terbaik (diagnostik molekuler, obat antiretroviral standar Eropa) dan menggabungkannya dengan cinta kasih (pendampingan pasien, nutrisi, martabat). Mereka membuktikan bahwa iman dan akal budi bukanlah musuh, melainkan sayap yang dibutuhkan untuk terbang menuju kebenaran.[4]

Peta ini mencegah kita tersesat dalam dua jurang: jurang sinisme (“dunia tidak bisa diubah, percuma berusaha”) dan jurang fanatisme (“hanya doa saja cukup, tidak perlu ilmu pengetahuan”). Sant’Egidio mengajarkan “Iman yang Berpikir” dan “Pikiran yang Beriman”.

Penutup: Diagnosis Menuju Kesehatan Mental Paripurna

Saudara-saudariku,

Mari kita lakukan pemeriksaan batin (self-checkup) yang jujur di akhir sesi ini. Jika hari ini Anda merasa cemas, depresi, kehilangan arah, atau hampa, jangan buru-buru menyalahkan kimia otak Anda atau keadaan ekonomi global. Cek dulu “asupan gizi” eksistensial jiwa Anda. Tanyakanlah dengan berani: Apakah saya punya hubungan cinta yang tulus dan tanpa pamrih, atau semua hubungan saya bersifat transaksional “jual-beli”? (keterhubungan). Apakah saya menciptakan sesuatu yang baik bagi orang lain hari ini, atau saya hanya mengonsumsi dan menghancurkan? (transendensi). Apakah saya merasa bersaudara dengan semua manusia, atau saya masih membangun tembok pemisah ras, agama, dan kelas sosial di hati saya? (keberakaran). Apakah saya menjadi diri saya sendiri yang otentik, atau saya hanya topeng sosial yang berusaha menyenangkan orang lain? (Identitas). Apakah hidup saya punya arah yang jelas melampaui sekadar mencari uang dan kenyamanan? Apa yang menjadi kompas moral saya?(Orientasi).

Metode Sant’Egidio, dalam analisis terakhir, bukanlah sekadar organisasi sosial atau klub amal. Itu adalah Sekolah Kemanusiaan; sebuah Resep Kesehatan Jiwa yang teruji waktu.

Dengan melayani orang miskin, Anda terhubung kembali dengan realitas (keterhubungan).Ketika mendamaikan konflik, Anda bertransendensi melampaui ego (transendensi).Dengan berdoa bersama dalam komunitas, Anda berakar dalam keluarga universal (keberakaran).Dan ketika menjadi sahabat bagi yang tersingkir, Anda menemukan identitas sejati (Identitas). Membaca Injil setiap hari maka Anda menemukan orientasi di tengah badai zaman (Orientasi).

Inilah jalan menuju The Sane Society (Masyarakat yang Waras). Inilah Revolusi Harapan yang dimulai bukan dari istana presiden, tetapi dari dalam hati manusia yang telah pulih dan berani mencintai.

========== Salam dari penulis:tigakecoa ==========


[1]Fromm, Erich. (1955). The Sane Society. New York: Rinehart & Co. Halaman 30-35. Fromm menguraikan secara rinci kelima kebutuhan ini sebagai pengembangan dari teori keterpisahan di The Art of Loving. Ia menekankan bahwa kegagalan memenuhi kebutuhan ini adalah akar dari penyakit mental masyarakat (social neurosis).

[2]Ibid. Halaman 37. Diskusi mendalam tentang kreativitas versus destruktivitas sebagai dua sisi mata uang transendensi. Fromm berargumen bahwa destruktivitas adalah hasil dari “kehidupan yang tidak dijalani” (unlived life).

[3]Komunitas Sant’Egidio. (2022). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 1). Refleksi Minggu Adven I tentang harapan baru yang dibawa oleh Kristus. Kristus digambarkan sebagai fondasi baru bagi umat manusia untuk membangun “rumah bersama” yang melampaui batas-batas lama.

[4]Sant’Egidio Website. “The DREAM Program”. Diakses darihttps://www.santegidio.org/pageID/4/langID/en/DREAM.html. Program ini menjadi studi kasus bagaimana komunitas menggunakan kerangka orientasi ilmiah (medis) dan nilai kemanusiaan (kasih) secara sinergis untuk menangani pandemi HIV di Afrika, menolak fatalisme bahwa “AIDS adalah hukuman mati bagi orang miskin”.

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *