Man is the only animal for whom his own existence is a problem which he has to solve.
Erich Fromm, Man for Himself
Pendahuluan: Trauma Kelahiran dan Luka Ontologis — Arkeologi Jiwa
Saudara-saudariku, mahasiswa kehidupan yang terkasih,
Selamat datang kembali di ruang kuliah batin ini. Silakan menempati kursi kesadaran Anda dan heningkan hiruk-pikuk pikiran sejenak. Hari ini, kita tidak akan membahas gejala permukaan yang sering menghiasi lini masa media sosial kita, seperti depresi karena FOMO (Fear of Missing Out), kelelahan kerja (burnout), atau kecemasan akan inflasi ekonomi. Itu semua hanyalah asap. Kita akan mencari apinya. Kita akan melakukan perjalanan arkeologis ke dasar sumur jiwa manusia, ke tempat di mana “luka purba” itu berada.
Topik kuliah kita hari ini adalah Keterpisahan (Separateness).
Mari kita bayangkan kembali momen pertama kehidupan—sebuah memori yang tidak terekam dalam hippocampus otak tetapi terukir dalam setiap sel tubuh kita. Saat janin berada dalam rahim, ia berada dalam kondisi nirwana biologis. Sigmund Freud menyebutnya sebagai “perasaan samudra” (oceanic feeling). Di sana, tidak ada konflik, tidak ada perbedaan antara “aku” dan “dunia”. Janin dan ibu adalah satu entitas simbiosis. Kebutuhan dipenuhi seketika; tidak ada jarak temporal antara rasa lapar dan kenyang, antara keinginan dan pemenuhan. Suhu tubuh terjaga, suara dunia luar teredam dalam kehangatan cairan amnion. Semesta adalah rahim, dan rahim adalah semesta.
Namun, momen kelahiran menghancurkan kesatuan paradisal itu secara brutal. Tali pusar dipotong. Bayi itu terlempar keluar dari surga air menuju dunia yang dingin, terang benderang, kering, dan asing. Ia menghirup udara yang membakar paru-parunya. Ia menangis.
Perhatikan tangisan itu. Tangisan pertama itu bukan sekadar refleks fisiologis paru-paru yang mencari oksigen.
Secara simbolis dan psikologis, itu adalah protes eksistensial pertama terhadap keterpisahan. Itu adalah jeritan ketakutan karena tiba-tiba menjadi “satu” yang terpisah dari “yang lain”. Bayi itu menyadari—dalam level pra-verbal—bahwa dia kecil, tak berdaya, dan sendirian di hadapan dunia yang raksasa.
Erich Fromm, mentor intelektual kita dalam perjalanan ini, memberikan tesis yang mengguncang dalam mahakaryanya, The Art of Loving. Ia berpendapat bahwa seluruh sejarah manusia—dari pembangunan piramida hingga penciptaan internet—adalah usaha sadar maupun tidak sadar untuk menjawab trauma perpisahan ini:
“Kesadaran akan keterpisahan manusia, tanpa penyatuan kembali melalui cinta—adalah sumber dari rasa malu. Dan pada saat yang sama, itu adalah sumber dari rasa bersalah dan kecemasan.”[1]
Mengapa rasa bersalah? Karena ketika kita terpisah, kita merasa tidak berdaya. Dalam ketidakberdayaan itu, kita merasa telah “gagal” mempertahankan kesatuan.
Keterpisahan membuat kita merasa telanjang dan rentan.
Dalam Metode Sant’Egidio, kita memahami bahwa “orang miskin” yang kita temui di jalanan bukan sekadar masalah ekonomi. Lansia yang meringkuk sendirian di panti jompo, pengungsi yang terdampar tanpa negara, dan bahkan kita sendiri yang sering merasa hampa di tengah pesta yang ramai, semuanya menderita penyakit yang sama: luka akibat keterpisahan. Kemiskinan materi hanyalah manifestasi luar dari kemiskinan hubungan yang lebih mendalam. Kita semua adalah bayi yang masih menangis mencari jalan pulang.
Manusia: “Si Bongkok” Alam Semesta (The Freak of The Universe)
Untuk memahami mengapa kita cemas, kita harus memahami posisi unik kita di alam semesta. Kita adalah anomali. Kita adalah freak of nature. Manusia adalah satu-satunya makhluk di mana kehidupan menjadi masalah bagi dirinya sendiri.
Binatang hidup dalam harmoni insting dengan alam. Seekor kucing tidak pernah mengalami krisis identitas. Ia tidak pernah bertanya, “Siapakah aku?” atau “Mengapa aku menjadi kucing, bukan burung?”. Ia tidak merenungkan kematiannya sendiri di masa depan dan binatang menyatu dengan alam (embedded in nature). Ketika lapar ia makan, ketika lelah ia tidur. Tidak ada jarak antara dorongan dan tindakan.
Namun, manusia telah “terlempar” keluar dari kesatuan insting tersebut. Kita adalah bagian dari alam; kita memiliki tubuh, kita butuh makan, kita memiliki hormon, kita akan mati dan membusuk. Tetapi berkat evolusi neokorteks dan kesadaran diri, kita melampaui alam.
Inilah apa yang saya sebut sebagai Dikotomi Eksistensial: Kita adalah dewa dengan anus; kita memiliki imajinasi tak terbatas yang terperangkap dalam tubuh yang fana.
Kutukan sekaligus anugerah kesadaran ini yang meliputi; Pertama, Kesadaran Diri dimana kita sadar akan diri kita sendiri sebagai entitas yang terpisah. “Aku ada di sini, dan dunia ada di sana.” Kedua, Kesadaran akan yang lain dimana kita sadar bahwa orang lain adalah misteri yang tidak bisa sepenuhnya kita masuki. Ketiga, Kesadaran Waktu dimana kita sadar akan masa lalu yang tak bisa diubah dan masa depan yang tak pasti. Keempat, Kesadaran Kematian dan ini yang paling mengerikan. Kita adalah satu-satunya spesies yang tahu bahwa kita akan mati, bahkan saat kita sedang sehat walafiat.
Keterpisahan ini tak tertahankan.
Jika seorang manusia menyadari keterpisahannya secara penuh—bahwa ia adalah partikel debu yang sendirian di alam semesta yang dingin, gelap, dan tak terbatas—tanpa menemukan cara untuk bersatu kembali, ia akan meledak secara mental. Ia akan menjadi gila (insane). Kegilaan, dalam arti tertentu, adalah upaya putus asa otak untuk menciptakan “dunia palsu” di mana keterpisahan itu tidak ada, karena dunia nyata terlalu menyakitkan untuk ditanggung sendirian.
Seperti yang sering kita renungkan dalam liturgi malam Sant’Egidio, kecemasan ini bukan tanda penyakit mental; itu adalah tanda kewarasan. Hanya orang yang mati rasa atau terbius total yang tidak merasakan kecemasan ini. Rasa sakit eksistensial adalah alarm yang menyuruh kita mencari “Rumah”.
Dalam Renungan Harian Komunitas, Adven digambarkan sebagai jawaban atas kondisi ini.
“Adven adalah saat yang tepat bagi kita untuk… mengarahkan pandangan kita kepada Yesus, yang datang di antara umat manusia untuk membuat kehidupan dan harapan akan masa depan yang baru tumbuh kembali.”[2]
Mengapa Inkarnasi (Tuhan menjadi manusia) begitu sentral dalam terapi Sant’Egidio? Karena itu adalah jawaban Ilahi atas keterpisahan manusia. Tuhan tidak menarik kita keluar dari dunia, tetapi Dia masuk ke dalam keterpisahan kita, menjembatani jurang yang tak terbrangi itu. Dia menjadi “terpisah” agar kita bisa “bersatu”.
Mitos Pengusiran dari Eden: Sebuah Analisis Psikodinamika
Mari kita buka Kitab Kejadian, bukan semata-mata sebagai teks teologi dogmatis tentang “dosa asal” dalam pengertian moralistik, melainkan sebagai naskah psikologi arkais yang brilian tentang evolusi kesadaran manusia. Kisah Adam dan Hawa bukan sekadar cerita tentang pelanggaran aturan makan buah, melainkan alegori tentang kelahiran kesadaran diri (The Birth of Self-Awareness).
Sebelum memakan buah, mereka hidup dalam “pra-kesadaran” (seperti bayi atau binatang). Mereka telanjang tetapi tidak malu, karena mereka belum menyadari perbedaan. Tidak ada “Aku” vs “Kamu”.
Namun, setelah memakan buah dari Pohon Pengetahuan (kesadaran), apa yang terjadi? “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang” (Kej 3:7).
Apakah mereka malu karena tubuh mereka jelek? Tidak. Apakah mereka malu karena alasan moral puritan? Tentu tidak. Dalam perspektif Frommian dan tafsir antropologis Sant’Egidio, “telanjang” di sini berarti menyadari perbedaan dan keterpisahan. Adam melihat Hawa dan menyadari, “Dia bukan aku. Aku bukan dia. Kami terpisah.” Hawa melihat Adam dan menyadari, “Dia asing. Dia berbeda. Bagaimana aku tahu dia tidak akan menyakitiku?”
Rasa malu (shame) adalah reaksi emosional terhadap keterpisahan yang belum dijembatani oleh cinta.
Ketika kita terpisah namun belum bisa mencintai, perbedaan itu menjadi ancaman. Keterasingan menimbulkan kecurigaan.
Inilah akar psikologis dari rasisme, nasionalisme sempit, sektarianisme, dan ketakutan terhadap orang asing (xenophobia). Mengapa kita membenci orang yang berbeda agama atau warna kulit? Bukan karena mereka jahat, tetapi karena keberlainan (otherness) mereka mengingatkan kita pada keterpisahan kita sendiri. Mereka adalah cermin yang memantulkan kesepian kita.
Melalui “Spirit Assisi”—pertemuan doa lintas agama yang dipromosikan Sant’Egidio—kita mencoba menyembuhkan “Luka Eden” ini. Kita duduk bersama yang “berbeda” tanpa rasa takut, membalikkan kutukan keterpisahan menjadi berkat keragaman.
Mekanisme Penanggulangan: Jembatan Palsu vs Jembatan Sejati
Manusia, yang tersiksa oleh “neraka kesepian” ini, tidak bisa diam. Sepanjang sejarah peradaban, manusia mencoba membangun jembatan untuk melarikan diri dari penjara egonya. Sebagai pengamat peradaban, saya mengamati ada tiga jembatan palsu (mekanisme pelarian) yang dominan, yang gagal menyembuhkan luka ini secara permanen:
a. Keadaan Orgiastik (Orgiastic States) — Bius Kesadara
Ini adalah upaya primitif namun persisten untuk menghilangkan keterpisahan dengan cara membius kesadaran. Jika “kesadaran diri” adalah sumber rasa sakit, maka solusinya adalah menghilangkan kesadaran itu. Dalam bentuk kuno seperti tarian trans suku primitif, ritual mabuk-mabukan dionisian, upacara pengorbanan berdarah untuk mencapai ekstase (berdiri di luar diri). Dalam bentuk modern seperti penggunaan narkoba, alkohol berlebihan, seks kompulsif tanpa keintiman (hanya gesekan badan tanpa pertemuan jiwa). Di era digital, ini bermutasi menjadi binge-watching Netflix atau doom-scrolling TikTok berjam-jam hingga otak mati rasa (numb). Kita mencari “trance” digital. Hasil yang kita dapatkan adalah keterpisahan hilang sesaat. Rasa cemas lenyap dalam ekstase atau kebas. Namun, ketika efek bius hilang, individu terbangun dengan perasaan terpisah yang lebih parah, disertai rasa bersalah. Ini mendorong siklus adiksi yang makin dalam dan merusak.
b. Konformitas dengan Kelompok (Conformity) — Hilangnya Diri
Ini adalah mekanisme pelarian yang paling umum di era demokrasi modern (tema utama buku Escape from Freedom). Seseorang mencoba mengatasi kesendiriannya dengan meleburkan dirinya ke dalam massa, menjadi persis sama dengan orang lain.Logikanya,“Aku adalah bagian dari kerumunan, aku sama dengan jutaan orang lain, maka aku aman. Jika aku tidak berbeda, aku tidak sendirian. Ini adalah hilangnya individualitas demi rasa aman semu. Orang rela menjual jiwanya, seleranya, dan pendapatnya hanya agar tidak dianggap aneh. Kita memakai baju yang sama, tertawa pada lelucon yang sama, dan membenci musuh politik yang sama (polarisasi). Dalam konteks Sant’Egidio, Kita menolak konformitas yang mematikan. Komunitas bukanlah tempat di mana semua orang “seragam” (seperti tentara), melainkan sebuah keluarga di mana perbedaan dirayakan. Profesor dan pemulung, uskup dan orang awam, kulit hitam dan kulit putih, bisa bersahabat tanpa harus menjadi sama status sosialnya. Persatuan dalam perbedaan, bukan keseragaman.
c. Aktivitas Kreatif (Creative Activity) — Penyatuan dengan Benda
Seniman, tukang kayu, kodinger, atau penulis menyatukan diri dengan objek karyanya. Dalam proses penciptaan (flow), manusia lupa akan dirinya dan menyatu dengan materi yang ia bentuk. Ini solusi yang jauh lebih sehat daripada dua sebelumnya.Keterbatasannya, Solusi ini bersifat parsial dan soliter. Seorang pelukis menyatu dengan lukisannya, tetapi ia tetap terpisah dari manusia lain. Ia mengatasi keterpisahan dengan benda mati atau ide, bukan dengan sesama subjek hidup. Ia tidak menyembuhkan kesepian interpersonal yang mendasar.
Persahabatan sebagai Sakramen Keterhubungan
Jika keterpisahan adalah penyakit ontologisnya, maka obatnya bukanlah obat bius (orgiastik) atau topeng (konformitas). Obatnya, menurut diagnosis Erich Fromm dan praktik Andrea Riccardi, adalah cinta yang matang (mature Love): Penyatuan di mana kondisi integritas dan individualitas seseorang tetap terpelihara. Cinta yang matang adalah paradoks suci: dua menjadi satu, namun tetap dua.
Di sinilah Metode Sant’Egidio masuk sebagai sebuah sistem terapi sosial-spiritual yang brilian dan komprehensif.
a. Melampaui Tembok Ego melalui “Makan Siang Natal”
Bayangkan peristiwa Makan Siang Natal di Basilika Santa Maria in Trastevere. Ruang sakral gereja diubah menjadi ruang makan raksasa. Lilin dinyalakan, taplak meja merah digelar, dan aroma lasagna memenuhi udara yang biasanya berbau dupa. Di sana, batasan sosiologis yang biasanya kokoh—tembok pemisah antara kaya dan miskin, suci dan kotor, tuan rumah dan tamu—runtuh seketika.
Analisis psikologisnya dalam perjamuan ini, “Keterpisahan Kelas” dihapus bukan dengan revolusi kekerasan Marxis, tetapi dengan pembagian roti Fransiskan. Simbolisme makan bersama adalah tindakan purba untuk mengatakan: “Kita satu tubuh. Kita memiliki kebutuhan biologis yang sama. Kita semua lapar, dan kita semua butuh dikenyangkan.”
Data menunjukkan ribuan orang miskin dilayani setiap tahun[3]. Namun, yang lebih penting dari kalori makanan adalah pemulihan martabat. Keterasingan si miskin (“aku sampah, aku tidak diinginkan”) disembuhkan oleh kehadiran si relawan (“aku ada untukmu, aku melayanimu”). Pada saat yang sama, keterasingan si kaya (“aku hidup dalam gelembung emas yang sepi”) dipecahkan oleh kontak nyata dengan penderitaan.
b. Doa Bersama: Mengatasi Keterpisahan Vertikal
Manusia tidak hanya terpisah dari sesama (horizontal), tapi juga dari Sumber Hidup/Tuhan (vertikal). Keterpisahan vertikal ini menciptakan kehampaan makna (meaninglessness). Dalam file Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, kita melihat pola yang konsisten: mendengarkan Firman Tuhan dalam persekutuan (koinonia).
“Ketika tradisi rohani Gereja memberi tahu kita bahwa seharusnya tidak sendirian dalam mendengarkan Kitab Suci, tetapi harus dalam komunitas… itu menekankan pentingnya mendengarkan bersama.”[4]
Doa malam di Sant’Egidio bukan ritual kosong, melainkan terapi kelompok. Ketika kita bernyanyi dan berdoa mazmur bersama, suara-suara yang berbeda, sumbang, dan rapuh menyatu dalam satu harmoni. “Aku” yang cemas melebur ke dalam “Kami” yang berdoa. Di sana, kecemasan eksistensial ditenangkan bukan oleh jawaban intelektual, tetapi oleh kehadiran Misteri Ilahi yang memeluk kerapuhan kita.
c. Solidaritas dengan “Lansia”: Menyentuh Kerapuhan Sendiri
Salah satu pilar utama Sant’Egidio adalah persahabatan dengan kaum lansia. Mengapa ini penting secara psikologis? Lansia merepresentasikan apa yang paling ditakuti dan dihindari oleh manusia modern: kelemahan, ketidakproduktifan, kesendirian, dan kematian. Masyarakat membuang lansia karena lansia adalah cermin masa depan yang menakutkan (Mekanisme Denial).
Dengan mendekati dan bersahabat dengan lansia, anggota Sant’Egidio melakukan terapi konfrontasi diri. Kita berhenti melarikan diri dari kenyataan keterbatasan kita. Kita memeluk “kondisi manusia” itu. Kita belajar pelajaran terpenting: bahwa kita bisa dicintai bahkan saat kita lemah, keriput, dan tidak berguna secara ekonomi. Ini menyembuhkan narsisme kita yang menuntut kesempurnaan abadi. Lansia menjadi guru kehidupan yang mengajarkan bahwa nilai manusia terletak pada keberadaannya (being), bukan fungsinya (having/doing).
Sintesis: Dari Homo Solus Menuju Homo Convivialis
Saudara-saudariku,
Sebagai kesimpulan dari bab yang berat dan mendalam ini, izinkan saya menawarkan sebuah resep kehidupan. Kecemasan eksistensial Anda—perasaan samar bahwa Anda terpisah, kecil, dan tak berdaya di alam semesta ini—tidak akan sembuh dengan membeli iPhone terbaru, mendapatkan lebih banyak likes di Instagram, atau bekerja 14 jam sehari untuk menumpuk aset. Itu semua hanyalah palliative care (perawatan sementara) untuk kanker kesepian. Itu hanya menunda rasa sakit, tidak menyembuhkannya.
Kesembuhan radikal hanya terjadi melalui union (penyatuan). Pertama, penyatuan interpersonal; mencintai sesama manusia secara konkret, bukan abstrak. Mencintai kemanusiaan itu mudah; mencintai tetangga yang menyebalkan itu sulit. Di Sant’Egidio, ini berarti mengetahui nama pengemis di depan kantor Anda, menatap matanya, dan menjabat tangannya. Sentuhan fisik memecahkan ilusi keterpisahan. Kedua, penyatuan transendental; menyerahkan ego yang cemas dan defensif kepada Tuhan dalam doa yang hening dan setia.
Seperti yang dituliskan dengan indah dalam renungan tentang tafsir Kitab Daniel:
“Tuhan mempercayakan kuasa untuk mengubah dan menyelamatkan bumi… kepada mereka yang tetap setia.”[5]
Setia kepada apa? Setia kepada hubungan. Setia untuk tidak membiarkan satu orang pun tinggal dalam penjara dingin keterpisahannya sendiri. Kekuatan untuk mengubah bumi tidak datang dari senjata atau uang, tetapi dari jaringan kesetiaan antar-manusia yang ditenun oleh cinta.
Tugas kita minggu ini sederhana namun radikal: Temukan satu orang di sekitar Anda yang sedang mengalami “neraka keterpisahan”—bisa jadi rekan kerja yang dikucilkan saat makan siang, lansia tetangga yang tak pernah dikunjungi anaknya, atau penjaga keamanan yang tak pernah disapa—dan jadilah jembatan bagi mereka. Runtuhkan tembok itu dengan sapaan tulus.
Saat Anda menyembuhkan kesepian mereka, saksikanlah keajaiban yang terjadi: secara otomatis, Anda sedang menyembuhkan kecemasan eksistensial Anda sendiri. Anda tidak lagi sendirian, karena Anda telah menjadi saudara.
Selamat menjadi Jembatan. Selamat menjadi Manusia yang utuh.
========== Salam dari tigakecoa dari Borong ==========
[1]Fromm, Erich. (1956). The Art of Loving. New York: Harper & Row. Halaman 9 (Edisi Perennial Classics 2000). Fromm menegaskan bahwa keterpisahan adalah sumber dari segala kecemasan. Tanpa cinta, manusia hanyalah fragmen yang gila.
[2] Komunitas Sant’Egidio. (2025). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 1). Refleksi Minggu Adven I tentang Tuhan yang datang untuk memulihkan hubungan dan harapan.
[3]Sant’Egidio Website. “The Christmas Lunch”. Diakses dari https://www.santegidio.org/pageID/3/langID/en/Christmas-Lunch.html. Data tentang partisipasi global dalam makan siang Natal sebagai antitesis kesepian dan simbol persaudaraan universal.
[4]Komunitas Sant’Egidio. (2025). Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (File: renungan kse.pdf, Halaman 692-693). Penjelasan tentang pentingnya mendengarkan Sabda dalam komunitas (tafsir Kitab Daniel), menegaskan bahwa iman adalah pengalaman komunal, bukan soliter.
[5]Ibid. Halaman 693. Sebuah visi eskatologis tentang “Orang-orang Kudus” yang mengubah dunia melalui kesetiaan pada perjanjian kasih Allah.