05. Sant’Egidio sebagai Antitesis: Sebuah Proposal Terapi Komunal bagi Manusia Modern

05. Sant’Egidio sebagai Antitesis: Sebuah Proposal Terapi Komunal bagi Manusia Modern

“Masyarakat yang sehat adalah masyarakat di mana tidak ada satu orang pun yang menjadi sarana bagi tujuan orang lain, melainkan selalu dan tanpa kecuali menjadi tujuan itu sendiri… di mana pendidikan tidak identik dengan pelatihan untuk konsumsi, melainkan pelatihan untuk kehidupan.”

Erich Fromm, The Sane Society

Pendahuluan: Kebutuhan akan “Lingkungan Terapeutik” Tandingan di Tengah Masyarakat yang Sakit

Saudara-saudariku, para peziarah makna yang terkasih,

Setelah kita melakukan perjalanan panjang menelusuri lorong-lorong gelap patologi zaman kita—mulai dari diagnosis Epidemiologi Kesepian yang mewabah (Seri 01), ilusi Kegilaan Normalitas yang membuat kita buta terhadap disfungsi sosial (Seri 02), hingga Kelaparan akan Makna di tengah pesta pora konsumsi (Seri 03) dan kerinduan arkaik akan Biofilia (Seri 04)—kita kini tiba di sebuah titik balik yang sangat krusial dalam penyelidikan kita.

Diagnosis klinis telah ditegakkan dengan tegas dan tanpa kompromi: manusia modern sedang sakit. Namun, patogennya bukanlah bakteri biologis atau virus yang dapat dilihat di bawah mikroskop. Kita sedang menderita penyakit jiwa kolektif yang berakar pada defisit cinta yang kronis dan hipertrofi ego yang ganas. Kita hidup dan bernapas dalam sebuah matriks sosial yang secara struktural bersifat nekrofilis—mencintai benda mati, kontrol mekanis, dan kekuasaan birokratis di atas kehidupan yang organik—serta narsistik, yang mengurung setiap individu dalam penjara cermin diri sendiri yang kedap suara.

Pertanyaan klinis yang paling mendesak sekarang adalah: apakah ada obatnya? Jika ada, di manakah kita dapat menemukannya?

Jika penyakitnya bersifat sistemik—artinya, struktur masyarakat itu sendiri yang sakit dan memproduksi individu-individu yang neurotik—maka penyembuhannya tidak bisa sekadar bersifat individual. Terapi “privat”, seperti meditasi soliter di kamar tertutup atau teknik self-help yang berfokus pada diri sendiri, sering kali tidak memadai karena ia gagal menyentuh akar masalahnya, yaitu keterputusan relasi.

Kita tidak bisa menyembuhkan orang yang keracunan air jika kita tetap membiarkannya berenang di kolam yang beracun; kita harus mengubah airnya. Kita membutuhkan sebuah ekosistem tandingan (counter-environment) yang radikal.

Dalam sejarah psikiatri sosial, kita mengenal istilah Therapeutic Milieu (lingkungan terapi).

Ini adalah konsep revolusioner di mana penyembuhan tidak hanya terjadi di ruang konsultasi dokter, melainkan melalui penciptaan sebuah komunitas total. Di mana seluruh struktur, aktivitas harian, dan interaksi sosial di dalamnya dirancang secara khusus untuk memulihkan kesehatan mental dan mengembalikan fungsi kemanusiaan.

Dalam seri ini, saya mengajukan sebuah tesis berani bahwa Komunitas Sant’Egidio bukanlah sekadar organisasi amal. Bukan juga sekadar Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang efisien, dan bukan pula sekadar kelompok doa yang saleh.

Dalam perspektif psikologi humanistik Erich Fromm, Sant’Egidio adalah sebuah antitesis yang hidup terhadap budaya kematian; sebuah Sanatorium bagi Jiwa yang berdiri tegak di tengah kota yang neurotik.

Ia menawarkan “terapi komunal” yang secara presisi menargetkan dan membongkar akar-akar penyakit modern melalui tiga pilar utamanya yang saling terkait: doa, orang miskin, dan damai.

Mari kita bedah mekanisme penyembuhan ini satu per satu. Melihat bagaimana setiap pilar bekerja sebagai obat penawar bagi racun zaman kita.

 Pilar Pertama: Doa sebagai Terapi “De-Sentralisasi Ego”

Penyakit pertama dan paling fundamental dari manusia modern adalah Narsisme Maligna. Ini adalah ketidakmampuan patologis untuk melihat keluar dari penjara ego sendiri. Si narsis tidak mengalami dunia luar sebagai realitas yang objektif; baginya, dunia hanyalah cermin yang memantulkan keinginannya sendiri. Kita hidup dalam gema suara kita sendiri, divalidasi oleh algoritma media sosial yang dirancang untuk hanya menampilkan apa yang kita sukai dan setujui. Kita menjadi tuhan kecil yang kesepian di semesta yang sempit dan menyesakkan.

Di laboratorium Sant’Egidio, doa (prayer) dipraktikkan bukan sekadar sebagai ritual kesalehan atau kewajiban agama,  melainkan sebagai sebuah terapi kejut bagi ego (shock therapy for the ego).

a. Mekanisme Mendengarkan (Deep Listening): Melawan Kebisingan Diri

Dalam banyak tradisi religius yang telah terdistorsi oleh narsisme, doa sering kali berubah menjadi daftar tuntutan: “Tuhan, beri aku ini, beri aku itu.” Namun, dalam tradisi komunitas ini, doa tidak dimulai dengan “meminta” atau “berbicara”, melainkan dengan tindakan yang jauh lebih sulit dan revolusioner: mendengarkan.

Dalam Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio (khususnya yang direnungkan pada masa Adven), kita menemukan resep terapeutik yang mendalam ini:

“Adven adalah saat yang tepat bagi kita untuk mulai lagi mendengarkan Firman Tuhan dan mengarahkan pandangan kita kepada Yesus… Dialah yang datang kepada kita dan bukan kita yang pergi kepada-Nya.”[1]

Secara psikologis, tindakan “duduk diam dan mendengarkan” adalah latihan radikal untuk turun takhta dari posisi “pusat semesta”.

Pertama, pengakuan keterbatasan (Epistemological Humility). Saat kita membuka Kitab Suci dan mendengarkan sabda, kita secara implisit mengakui bahwa pusat hikmat dan kebenaran bukan ada di kepala saya (“Aku”), melainkan di luar saya (“Dia/Tuhan”). Ini menghancurkan ilusi kemahatahuan ego.

Kedua, pembersihan bising batin: kebisingan narsistik yang terus-menerus berteriak (“Apa kataku?”, “Apa mauku?”, “Bagaimana citraku?”) diredam oleh suara The Wholly Other (Yang Ilahi). Dalam keheningan mendengarkan, kita belajar bahwa realitas tidak bergantung pada opini kita.

Ketiga, latihan reseptivitas: Fromm menekankan bahwa karakter produktif adalah karakter yang mampu menerima (receptive) tanpa menjadi pasif. Dalam doa, kita melatih otot reseptivitas ini: membiarkan firman Tuhan masuk, menegur, menghibur, dan membentuk ulang struktur batin kita yang telah membatu.

b. Dari Monolog ke Dialog: Memulihkan Relasi

Narsisme pada dasarnya adalah monolog abadi; si narsis berbicara kepada dirinya sendiri bahkan saat ia berpura-pura berbicara dengan orang lain. Doa di Sant’Egidio memulihkan kemampuan dasar manusia untuk berdialog.

Ketika komunitas berkumpul setiap malam setelah lelah bekerja untuk memazmurkan doa, mereka sedang melakukan latihan re-orientasi yang vital. Mereka menggeser pusat gravitasi psikis dari “Masalah Saya” yang sempit ke “Wajah Tuhan” yang luas dan “Penderitaan Dunia” yang nyata (melalui doa syafaat). Dalam doa syafaat, nama-nama orang sakit, negara yang berperang, dan orang miskin disebut satu per satu. Ini memaksa ego untuk melihat bahwa ada “yang lain” yang menderita, ada realitas di luar drama pribadi saya.

Ini adalah langkah pertama menuju kewarasan: menyadari bahwa kita bukan pusat semesta, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung dalam cinta Allah.

Pilar Kedua: Orang Miskin sebagai “Terapis Realitas”

Penyakit kedua yang menggerogoti kita adalah Alienasi—keterasingan yang mendalam dari realitas. Manusia modern hidup dalam gelembung kenyamanan artifisial, terpisah dari kebenaran hidup yang keras, kotor, dan otentik. Kita menjadi “Karakter Pemasaran” (Marketing Character) yang palsu, yang menilai segala sesuatu dan setiap orang berdasarkan nilai tukar (uang, status, popularitas), bukan nilai guna (kemanusiaan, martabat).

Di Sant’Egidio, orang miskin (the poor) tidak dipandang sebagai objek filantropi, melainkan berperan sebagai terapis realitas yang paling efektif.

a. Runtuhnya Topeng Sosial (The Collapse of Persona)

Dalam perjumpaan dengan orang miskin—baik itu gelandangan yang tidur di kardus di stasiun Termini Roma, anak jalanan di kolong jembatan Jakarta, atau lansia yang kesepian di panti jompo—topeng sosial (persona) yang kita pakai sehari-hari tidak lagi berguna.

Orang miskin, dalam kebutuhan mereka yang mendesak dan tatapan mereka yang jujur, tidak peduli dengan gelar akademik kita, jabatan CEO di kartu nama kita, atau merek pakaian mahal yang kita kenakan. Atribut-atribut pasar itu tidak memiliki nilai di mata mereka. Mereka hanya peduli pada satu hal fundamental: apakah Anda hadir sebagai manusia? Apakah Anda memiliki hati yang peduli?

Persahabatan dengan orang miskin memaksa kita untuk menanggalkan Persona (topeng) dan kembali ke Diri Inti (core self). Ini adalah momen kebenaran yang menyakitkan namun sangat menyembuhkan. Di depan orang miskin, kita tidak bisa bersandiwara; kita dipaksa untuk menjadi otentik. Alienasi runtuh saat kita bersentuhan dengan kemanusiaan yang telanjang.

 b. Guru Kehidupan (magister vitae): Menyentuh Kerapuhan

Dalam teologi Sant’Egidio, orang miskin diangkat posisinya: mereka bukan “objek” yang harus ditolong dari atas ke bawah, melainkan “saudara” dan “guru”. Mengapa guru? Karena mereka mengajarkan mata kuliah yang telah dilupakan oleh universitas dan pasar: kerapuhan.

“Kita menyentuh tubuh Yesus dengan menyentuh tubuh orang-orang miskin.” — Prinsip Spiritualitas Sant’Egidio.

Ketika kita menyentuh tangan lansia yang keriput dan gemetar, atau membalut luka borok orang kusta modern, kita disembuhkan dari ilusi omnipotensi (perasaan maha kuasa dan abadi). Kita sadar secara viseral bahwa kita juga rapuh, kita juga terbuat dari daging yang bisa sakit. Sadar kita juga akan menjadi tua, dan kita juga pada akhirnya membutuhkan cinta dan pertolongan orang lain.

Rasa jijik (disgust)—yang merupakan benteng pertahanan ego untuk memisahkan diri dari yang “tidak sempurna”—runtuh, digantikan oleh compassion (bela rasa). Ini adalah re-grounding (pengakaran kembali) ke dalam realitas tanah dan daging. Kita belajar bahwa menjadi manusia berarti menjadi rentan, dan dalam kerentanan itulah kita menemukan persaudaraan sejati.

 Pilar Ketiga: Damai sebagai Terapi “Sublimasi Agresi”

Penyakit ketiga adalah Destruktifitas atau Nekrofilia—hasrat patologis untuk mengontrol, memecah belah, dan menghancurkan kehidupan demi keamanan semu. Penyakit ini terlihat jelas dalam polarisasi politik yang tajam, ujaran kebencian di dunia maya, dan perang yang menghancurkan tubuh dan infrastruktur.

Di Sant’Egidio, kerja perdamaian (peace) adalah latihan biofilia (cinta akan kehidupan) harian.

a. Seni Menjahit (The Art of Sewing): Merekatkan Kembali Dunia

Andrea Riccardi, pendiri komunitas, sering menggunakan metafora “menjahit” untuk menggambarkan kerja perdamaian. Dunia ini robek oleh konflik, kesalahpahaman, dan kebencian. Tugas komunitas bukan untuk menjadi hakim yang memutuskan siapa yang salah (itu tugas pengadilan), tetapi menjadi penjahit yang dengan sabar menyatukan kembali kain yang robek itu dengan benang dialog dan persahabatan.

Secara psikologis, ini adalah mekanisme sublimasi. Energi agresif manusia—dorongan purba untuk menyerang musuh atau menghancurkan halangan—tidak ditekan (yang bisa meledak nantinya). Tetapi disalurkan menjadi energi kreatif untuk membangun jembatan. Alih-alih membangun tembok perbatasan, komunitas membangun Koridor Kemanusiaan untuk menyelamatkan pengungsi. Alih-alih menuntut hukuman mati bagi penjahat, komunitas mengampanyekan Cities for Life untuk membela kehidupan.

b. Kemenangan “Orang Kudus” atas “Binatang”

Dalam Renungan Harian (khususnya Tafsir Kitab Daniel yang dibaca di komunitas), Sant’Egidio menawarkan visi psikohistoris yang sangat kuat untuk melawan ketakutan akan kekerasan:

“Binatang keempat… yang mengerikan dan dahsyat… melambangkan kekuasaan duniawi yang memangsa dan menghancurkan… Tetapi kekuasaan akan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.”[2]

Visi ini adalah terapi kognitif bagi ketakutan dan paranoia kita terhadap kekuatan dunia yang tampak tak terkalahkan (seperti perang atau rezim diktator). Sant’Egidio mengajarkan bahwa kita tidak perlu menjadi “serigala” untuk bertahan hidup di tengah serigala. Kita bisa tetap menjadi “domba” (lemah lembut, setia pada kebenaran) namun pada akhirnya menang.

“Kekuatan yang lemah” (la forza debole) dari persahabatan, doa, dan dialog terbukti secara historis lebih tangguh daripada baja senjata. Perdamaian Mozambik (1992), yang dimediasi oleh komunitas tanpa kekuatan politik formal, adalah bukti empiris dari tesis ini: bahwa Biofilia (cinta damai) pada akhirnya lebih kuat daripada Nekrofilia (perang).

 Kesimpulan: Masuk ke dalam Laboratorium

Saudara-saudariku yang terkasih,

Sant’Egidio sebagai antitesis menawarkan sebuah proposal yang radikal dan kontra-kultural bagi kita semua: kesehatan mental yang sejati dan keselamatan jiwa tidak ditemukan dalam isolasi yang aman, melainkan dalam relasi yang berisiko.

Masyarakat modern berteriak kepada kita setiap hari: “Lindungi dirimu, kumpulkan hartamu, jauhi orang asing, bangun tembokmu!” Namun, Sant’Egidio, dengan suara Injil yang lembut namun tegas, berkata: “Berikan dirimu, bagikan waktumu, rangkul orang asing, dan kamu akan hidup.”

Ini adalah paradoks Injil yang juga merupakan kebenaran psikologis terdalam yang ditemukan oleh Fromm: siapa yang mau menyelamatkan nyawanya (egonya) dengan menimbunnya, ia akan kehilangannya (menjadi neurotik dan hampa). Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena kasih, ia akan memperolehnya (menjadi utuh dan bahagia).

Komunitas ini adalah laboratorium hidup di mana kita berlatih setiap hari untuk melakukan lompatan iman tersebut. Lompatan dari modus Having (Memiliki) ke modus Being (Menjadi). Lompatan dari Narsisme yang mengisolasi ke Solidaritas yang menyatukan. Lompatan dari Ketakutan akan masa depan ke Harapan yang aktif.

Undangannya sekarang ada di tangan Anda. Apakah Anda berani melangkah masuk ke dalam laboratorium ini? Bukan sebagai pengamat yang pasif, tetapi sebagai pasien yang siap disembuhkan oleh cinta. Juga sebagai pekerja yang siap membangun dunia baru?

=========== Salam dari Borong ===========


[1]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Minggu, 27 November 2022: Hari Minggu Adven-1”, hlm. 1 (File: renungan kse.pdf). Teks ini menekankan pentingnya sikap reseptif (mendengarkan) sebagai langkah awal pemulihan hubungan dengan yang Ilahi, melawan kecenderungan narsistik untuk selalu berbicara dan mengontrol.

[2]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, “Sabda Tuhan Sabtu, 29 November 2025: Daniel 7:15-27”, hlm. 693 (File: renungan kse.pdf). Tafsir tentang kemenangan “orang kudus” atas “binatang” memberikan landasan teologis bahwa kelembutan dan kesetiaan lebih kuat secara eskatologis daripada kekerasan struktural.

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *