“Biophilia is the passionate love of life and of all that is alive; it is the wish to further growth, whether in a person, a plant, an idea, or a social group. The biophilous person prefers to construct rather than to retain. He wants to be more, rather than to have more.”
Erich Fromm, The Anatomy of Human Destructiveness
Pendahuluan: Sebuah Kompas di Tengah Nekropolis Modern
Saudara-saudariku, para peziarah makna yang terkasih,
Setelah kita dengan berani menatap wajah-wajah retak peradaban kita—kesepian yang mewabah (Seri 01), kegilaan yang dianggap normal (Seri 02), dan kehampaan makna di tengah kelimpahan (Seri 03)—kini kita tiba di sebuah persimpangan ontologis yang paling krusial dalam sejarah evolusi kesadaran kita. Kita sedang berdiri di atas puing-puing “kematian jiwa” yang terjadi justru di puncak kemajuan teknologi. Pertanyaannya menjadi sangat mendesak dan eksistensial: “Apakah ada benih kesehatan yang masih tersisa di dalam labirin jiwa kita yang gelap?” Apakah kita ditakdirkan untuk menghancurkan diri sendiri dalam sebuah spiral agresi nekrofilis? Atau adakah sebuah kode purba—sebuah blueprint suci—yang tertanam dalam DNA psikologis kita yang mampu menyelamatkan kita dari kepunahan makna?
Saya mengajukan kepada Anda sebuah hipotesis yang bukan sekadar spekulasi akademis yang dingin, melainkan sebuah hukum gravitasi psikologis yang fundamental: Hipotesis Biofilia.
Istilah ini, yang saya pinjam dari mentor intelektual kita, Erich Fromm, dan yang kemudian diperluas secara biologis oleh Edward O. Wilson; bukanlah sekadar “suka pada alam” atau hobi rekreasi di akhir pekan. Biofilia adalah sebuah orientasi karakter total. Ia adalah kerinduan arkaik, purba, dan tak terhapuskan dalam inti terdalam jiwa manusia untuk tertarik pada segala sesuatu yang hidup, yang memiliki denyut, yang tumbuh, yang organik, dan yang mampu mekar. Ini adalah daya sentripetal yang menarik manusia keluar dari isolasi narsistiknya menuju persatuan dengan alam semesta yang bernapas. Ia adalah dorongan untuk membangun ketimbang mempertahankan, dorongan untuk menjadi (being) ketimbang memiliki (having).
Namun, kita harus jujur pada realitas yang pahit. Di abad ke-21 ini, insting Biofilia kita sedang terjepit dalam perang atrisi yang mematikan melawan antitesisnya yang gelap: Nekrofilia. Dalam terminologi Frommian, nekrofilia bukanlah sekadar patologi seksual yang mengerikan, melainkan kecenderungan karakterologis untuk mencintai segala sesuatu yang mati, yang mekanis, yang murni artifisial, yang kaku, dan yang dapat dikontrol sepenuhnya melalui kekuasaan teknokratis.[1]
Masyarakat modern sedang mengalami transisi yang mengerikan menuju Nekropolis—kota kematian yang berkilauan namun hampa.
Kita meruntuhkan pohon untuk menanam beton yang bisu; kita mengganti percakapan yang hangat dengan algoritma yang beku; kita menciptakan senjata pemusnah dengan kecerdasan jenius namun tanpa hati. Kita sedang membangun peradaban yang memuja “benda” di atas “manusia”. Namun, perhatikanlah: di tengah beton mati itu, selalu ada rumput liar yang menembus aspal keras. Ada kekuatan hidup yang keras kepala dan menolak untuk menyerah. Dalam bab ini, kita akan membedah pertarungan abadi ini dan melihat bagaimana Komunitas Sant’Egidio hadir sebagai “Laboratorium Biofilia” yang dengan sabar merawat kehidupan di tempat-tempat yang sudah dianggap “mati” oleh logika dunia yang dingin.
Anatomi Hati: Dialektika Antara Pertumbuhan dan Pembusukan
Sebagai seorang yang pernah belajar di kampus yang cerdas dan humanis (universitas Sanata Dharma), saya mengundang Anda untuk masuk ke dalam ruang bedah karakter manusia. Erich Fromm, dalam analisis klinisnya yang tajam dalam The Heart of Man, memetakan dua orientasi dasar yang menentukan arah moral, mental, dan spiritual seseorang. Pemahaman ini penting karena di sinilah letak akar kebebasan kita: memilih antara kehidupan atau pembusukan.[2]
Orientasi Nekrofilis: Pemujaan terhadap Kontrol dan Kekakuan
Manusia dengan orientasi nekrofilis sering kali tampil sebagai warga negara yang teladan. Mereka bisa menjadi individu yang sangat rapi, birokrat yang super efisien, atau pemimpin yang sangat mementingkan ketertiban. Namun, jika Anda melihat lebih dalam, ciri utamanya adalah obsesi terhadap Kontrol.
Mengapa mereka mencintai benda mati? Karena kehidupan (life) itu tidak terduga, spontan, cair, dan sering kali “berantakan” (messy). Sebaliknya, benda mati (death) itu pasti, diam, terukur, dan sepenuhnya patuh. Si nekrofilis merasa aman di tengah mesin dan angka, namun merasa terancam di hadapan spontanitas manusia. Baginya, keteraturan jauh lebih penting daripada keadilan. Inilah yangf dinamakan dengan Logika Kematian.
Mereka cenderung memecahkan masalah kemanusiaan dengan cara mekanis: memotong, membunuh, atau memenjarakan. Kekerasan dianggap sebagai jalan pintas yang efisien untuk mengubah manusia yang “liar” menjadi benda yang “tertib”. Ini adalah mentalitas yang melihat penghancuran sebagai satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian. Jadi kekerasan sebagai solusi mekanis.
Dalam budaya populer, nekrofilia mewujud dalam pemujaan berlebihan terhadap gadget dan kecerdasan buatan. Manusia lebih peduli pada keutuhan layar ponselnya daripada kesejahteraan batin saudaranya. Identitas mereka dibangun di atas “apa yang saya miliki” (benda mati) bukan “siapa saya” (subjek hidup). Inilah wujud Fetishisme Teknologi dan Akumulasi.
Orientasi Biofilis: Keberanian untuk Mencintai Yang Bertumbuh
Di kutub yang berlawanan, berdiri sang biofil. Ia bukan sekadar orang yang “baik”, melainkan seseorang yang memiliki vitalitas psikologis. Seorang biofil lebih suka melihat sebuah benih tumbuh perlahan dengan segala ketidakpastiannya daripada memiliki bunga plastik yang sempurna namun hampa. Ia menghargai proses menjadi (becoming) daripada hasil akhir yang statis. Ia memahami bahwa hidup adalah aliran, bukan genangan; inilah keindahan dalam proses menjadi.
Baginya, mencintai bukanlah tentang menguasai atau memiliki objek cintanya, melainkan tentang menyediakan lingkungan di mana objek tersebut dapat tumbuh sesuai kodratnya. Mencintai berarti memberi kehidupan. Ia menggunakan nalar bukan untuk membedah dan menghancurkan, melainkan untuk memahami, menyembuhkan, dan menyatukan kembali yang terpisah. Inilah wujud cinta sebagai tindakan produktif. Biofilia adalah bentuk kecerdasan yang mampu menangkap denyut kehidupan bahkan dalam diri mereka yang paling hancur, paling miskin, dan paling terlupakan sekalipun. Ia melihat potensi di balik luka. Memiliki kecerdasan hati yang transenden.
Tesis utama kita yakni krisis kesehatan mental global—depresi massal, kecemasan akut, dan ledakan agresi—sebenarnya adalah jeritan protes dari insting biofilia yang tertindas. Kita dipaksa hidup dalam struktur ekonomi yang bersifat nekrofilis, yang memperlakukan manusia sebagai “sumber daya” (benda) untuk diperas, bukan sebagai jiwa untuk dimekarkan. Depresi adalah kondisi di mana getah kehidupan dalam diri kita berhenti mengalir karena saluran-saluran ekspresinya tersumbat oleh materialisme yang dingin dan birokrasi yang mematikan.
Kerinduan Arkaik: Mengapa Jiwa Kita Membutuhkan “Yang Hidup”?
Mengapa biofilia disebut sebagai kerinduan “arkaik”? Karena ia bersumber dari memori seluler kita sebagai makhluk ciptaan yang berevolusi. Edward O. Wilson dalam karyanya Biophilia (1984) menjelaskan bahwa selama jutaan tahun, manusia berevolusi dalam ketergantungan yang intim dengan alam hayati. Hubungan ini tidak hanya bersifat fisik-biologis, tetapi juga emosional dan intelektual secara mendalam.
Ketika manusia modern dipisahkan dari alam dan dari sesamanya melalui proses alienasi pasar, terjadilah apa yang saya sebut sebagai “kelaparan eksistensial”. Kita mungkin memiliki kalori yang cukup di perut kita, tetapi jiwa kita menderita malnutrisi kronis karena kehilangan kontak dengan energi kehidupan yang otentik. Kita mencoba mengisi kelaparan ini dengan konsumsi barang-barang mati secara kompulsif, namun seperti meminum air laut, hal itu justru membuat kita semakin haus dan hampa.
Inilah sebabnya, tindakan sederhana yang tampak “tidak produktif” secara ekonomi—seperti menyentuh tanah, merawat tanaman, atau yang paling krusial: membangun persahabatan yang tulus tanpa motif transaksional—memiliki efek terapeutik yang luar biasa. Itu bukan sekadar hobi; itu adalah pemenuhan kebutuhan biologis dan spiritual yang paling mendasar. Jiwa kita rindu untuk “beresonansi” dengan kehidupan lain. Tanpa resonansi ini, kita membeku menjadi patung-patung konsumsi yang kesepian.
Sant’Egidio sebagai “Laboratorium Biofilia” yang Radikal
Jika teori Fromm memberikan kita diagnosa klinis, maka Komunitas Sant’Egidio memberikan kita “ruang perawatan” yang nyata. Komunitas ini tidak melawan narasi kematian dengan retorika kosong, melainkan dengan menciptakan ekosistem kehidupan yang menantang logika dunia yang nekrofilis. Mari kita bedah tiga dimensi praksis mereka secara mendalam:
Dimensi I: Restorasi Martabat Lansia (Melawan Budaya Pembuangan)
Masyarakat nekrofilis-kapitalistik memuja kemudaan, kecepatan, dan kekuatan fisik karena hal itu identik dengan produktivitas mesin. Lansia, yang secara fisik melambat dan tidak lagi “menghasilkan” secara ekonomi, dianggap sebagai barang yang sudah kedaluwarsa—”barang rongsokan” yang harus dipinggirkan ke panti jompo yang mungkin steril secara medis namun sunyi secara eksistensial. Ini adalah bentuk nekrofilia sosial yang halus namun mematikan: pembiaran terhadap kematian perlahan melalui isolasi.
Program Viva gli Anziani! (Panjang Umur Lansia!) adalah manifesto biofilis yang sangat kuat. Persahabatan sebagai oksigen jiwa. Relawan Sant’Egidio menyadari bahwa seorang kakek atau nenek tidak hanya butuh asupan vitamin dan roti, tapi mereka butuh kehadiran yang mengonfirmasi bahwa mereka masih hidup. Mengunjungi seorang lansia di apartemennya yang sunyi, memegang tangannya yang mulai keriput, dan mendengarkan memorinya adalah tindakan resusitasi jiwa.
Tindakan ini menyembuhkan dua arah secara simultan. Si lansia merasa “hidup kembali” karena keberadaannya diakui sebagai subjek, sementara si muda (relawan) belajar untuk mencintai kerapuhan dan menerima siklus alami kehidupan. Ini adalah obat penawar bagi ketakutan nekrofilis akan penuaan dan kematian yang sering kali memicu kecemasan neurotik di kalangan generasi muda.[3] Inilah yang disebut mekanisme penyembuhan dua arah.
Dimensi II: Penghapusan Hukuman Mati (Cities for Life)
Hukuman mati adalah puncak dari logika nekrofilis negara: “Untuk menciptakan keteraturan sosial, kita harus melenyapkan kehidupan manusia.” Dalam skenario ini, negara bertindak sebagai mesin yang mematikan, menutup pintu bagi kemungkinan pertumbuhan, pertobatan, dan perubahan karakter.
Melalui gerakan global Cities for Life, Sant’Egidio menegaskan: tidak ada manusia, sejahat apa pun tindakannya di masa lalu, yang kehilangan martabat intrinsiknya sebagai makhluk hidup. Kehidupan adalah sesuatu yang sakral yang tidak boleh dimanipulasi atau dihentikan oleh otoritas buatan manusia. Inilah yang disebut aksioma kesucian hidup.
Dengan menulis surat secara rutin kepada narapidana mati, komunitas ini membangun jembatan biofilis menembus tembok penjara yang dingin dan tebal. Surat-surat itu adalah bukti bahwa kehidupan masih berdenyut di balik jeruji besi, dan cinta mampu menembus isolasi yang paling gelap sekalipun. Ini adalah pengakuan bahwa “getah kehidupan” tidak pernah benar-benar kering selama ada seseorang yang masih percaya pada Anda.[4] Jadi korespondensi penjara sebagai jembatan vitalitas.
Dimensi III: Perjamuan Natal (Simbolisme Kelimpahan Hidup)
Makan siang Natal Sant’Egidio bukan sekadar acara amal tahunan. Ini adalah sebuah Liturgi Biofilia yang megah. Di meja yang sama, duduk berdampingan orang miskin, tunawisma, pengungsi, lansia, dan orang kaya.
Dalam masyarakat nekrofilis, orang miskin disuruh antre (seperti benda yang diproses). Dalam Sant’Egidio, mereka diundang ke meja makan (seperti tamu terhormat). Makan bersama adalah aktivitas biofilis yang paling purba; ia merayakan kelimpahan bumi dan persaudaraan manusia. Ini adalah momen di mana “aku” yang tertutup dan narsistik pecah dan menyatu dalam “kita” yang hidup dan inklusif. Perjamuan ini adalah “mikrokosmos” dari dunia yang dicita-citakan; dunia yang merayakan kehidupan bagi semua orang tanpa kecuali. Ini menjadi kemenangan atas narsisme kolektif.
Validasi Spiritual: Getah Kehidupan dalam Terang Firman
Kita tidak dapat memahami kedalaman Biofilia tanpa melihat akar spiritualnya dalam Kitab Suci, yang menjadi nafas harian Komunitas Sant’Egidio. Mari kita telaah dua poin krusial dari renungan harian yang saya kumpulkan (file renungan kse.pdf).
a. Dari Mata yang Menghakimi ke Mata yang Memberkati
Dalam renungan Senin, 12 Desember 2022, mengenai kisah Bileam (Bilangan 24), kita menemukan sebuah transformasi psikodinamika yang luar biasa. Bileam awalnya datang dengan niat nekrofilis: untuk mengutuk dan mematikan harapan bangsa Israel. Ia melihat bangsa itu sebagai objek yang harus dihancurkan demi upah. Namun, renungan itu mencatat perubahan radikal:
“Firman Tuhan membuat ‘terbuka mata’ kita, dan membantu kita melihat kenyataan dengan jelas… Nabi malapetaka di hadapan Tuhan diubah menjadi nabi harapan.”[5]
Ini adalah inti dari perpindahan karakter dari nekrofilia ke biofilia. Orang yang nekrofilis selalu mencari kesalahan, cacat, dan alasan untuk “mengutuk” atau menghancurkan. Namun, ketika roh kehidupan masuk, matanya terbuka untuk melihat keindahan dan potensi hidup (tunas-tunas di tenda Israel). Biofilia adalah kemampuan untuk memberkati kehidupan di saat dunia sedang sibuk mengutuk dan meratapinya.
b. Kekuatan Tunas di Atas Tunggul yang Tampak Mati
Renungan Selasa, 29 November 2022 tentang “Tunas Isai” (Yesaya 11:1-10) memberikan metafora biofilis yang paling sempurna bagi kita semua:
“Dari batang kering tumbuh tunas… Tunas itu tidak memiliki penampilan yang hebat menurut standar manusia, tetapi getahnya kuat karena Roh Allah sendiri yang memberinya kehidupan.”[6]
Masyarakat nekrofilis kita sering melihat orang miskin, lansia yang pikun, atau orang sakit parah sebagai “batang kering” yang tidak berguna dan layak dibuang. Namun, mata Sant’Egidio yang biofilis mampu melihat “tunas” yang sedang tumbuh di sana. Mereka percaya pada kekuatan getah kehidupan (Grace/Rahmat) yang bekerja secara diam-diam namun tak terhentikan. Inilah yang saya sebut sebagai optimisme produktif: sebuah keyakinan bahwa kehidupan selalu memiliki cara untuk bangkit kembali selama ada cinta yang menyiraminya dengan sabar.
Mekanisme Psikodinamika: Bagaimana Biofilia Menyembuhkan Jiwa?
Mungkin anda bertanya dengan skeptis: “Loys, bagaimana mungkin sekadar mencintai kehidupan bisa menyembuhkan depresi klinis yang berat atau konflik sosial yang berdarah?” Jawabannya terletak pada tiga mekanisme psikologis fundamental:
Pertama, aktivitas otentik vs reaktivitas neurotik. Orang nekrofilis bersifat reaktif; mereka bereaksi terhadap rasa takut dengan kontrol dan agresi. Orang biofilis bersifat aktif; mereka menciptakan sesuatu yang baru dari dalam diri. Aktivitas menciptakan kehidupan (kreativitas) adalah obat antipasifitas yang paling kuat bagi jiwa yang sedang lesu dan hampa.
Kedua, integrasi identitas vs fragmentasi ego. Nekrofilia memecah-mecah realitas menjadi bagian-bagian kecil yang mati (fragmentasi). Biofilia menyatukan kembali kepingan-kepingan itu (integrasi). Dengan melayani orang miskin, kita menyatukan kembali bagian-bagian diri kita yang terpisah—empati kita yang selama ini terpendam dan kemanusiaan kita yang selama ini membeku. Kita menjadi utuh kembali sebagai manusia.
Ketiga, transendensi narsisme melalui wajah sesama. Kematian jiwa dimulai ketika seseorang hanya terobsesi pada dirinya sendiri (isolasi narsistik). Biofilia menarik kita keluar menuju “yang lain”. Dalam pertemuan yang tulus dengan “wajah” orang lain yang menderita, penjara narsisme kita hancur, dan di sanalah kesehatan mental yang sejati dimulai. Kesembuhan batin terjadi ketika kita berhenti bertanya “apa yang saya dapatkan?” dan mulai bertanya “siapa yang bisa saya hidupkan?”.
Kesimpulan: Memilih Menjadi Nabi Kehidupan di Tengah Gurun
Saudara-saudariku yang terkasih,
Kita hidup di zaman yang sering kali tampak seperti lembah tulang-tulang kering yang diceritakan nabi Yehezkiel. Nekrofilia sistemik merayu kita setiap hari untuk menjadi dingin, acuh tak acuh, skeptis, dan terobsesi pada keamanan material belaka. Namun, dengarkanlah: di dalam dada Anda, ada kerinduan arkaik yang tidak bisa dibungkam oleh beton mana pun atau oleh algoritma tercanggih sekalipun. Itu adalah kerinduan untuk mencintai dan dicintai oleh kehidupan.
Hipotesis Biofilia adalah sebuah undangan radikal untuk beralih dari “modus memiliki” yang mematikan ke “modus menjadi” yang menghidupkan.
Komunitas Sant’Egidio menunjukkan melalui praksis harian mereka bahwa revolusi harapan tidak dimulai dengan senjata atau kebijakan makro yang dingin, tetapi dengan “kelembutan yang revolusioner”—dengan cara membiarkan mata kita terbuka terhadap keindahan hidup bahkan dalam diri mereka yang paling hina dan dianggap “mati” oleh dunia.
Tuhan kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Maka, tugas suci kita hari ini adalah menjadi saksi-saksi kehidupan. Pilihlah untuk memberikan senyuman tulus kepada orang asing yang Anda temui. Pilihlah untuk mendengarkan dengan sabar mereka yang suaranya gemetar karena beban hidup.Pilihlah untuk percaya pada tunas kecil yang sedang berjuang tumbuh di batang yang tampak kering.
Karena pada akhirnya, hanya cinta pada kehidupanlah yang akan menyelamatkan peradaban ini dari kegelapan narsismenya sendiri. Mari kita melangkah keluar dari penjara diri kita, bukan sebagai pengamat yang dingin, tetapi sebagai kekasih kehidupan yang penuh gairah dan harapan.
Selamat mencintai kehidupan. Selamat menjadi manusia yang utuh.
================ Salam dari Borong ================
[1]Fromm, Erich. (1973). The Anatomy of Human Destructiveness. New York: Holt, Rinehart and Winston. Hlm. 332-368. Dalam bab “Malignant Aggression: Necrophilia”, Fromm menjelaskan secara mendalam kontras antara nekrofilia (cinta pada benda mati, hukum, dan kekakuan) dan biofilia (cinta pada kehidupan, pertumbuhan, dan kebebasan). Ini adalah karya monumental yang menjadi dasar analisis karakterologi kita.
[2]Fromm, Erich. (1964). The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil. New York: Harper & Row. Hlm. 37-61. Buku ini membahas secara spesifik konsep “Sindrom Pembusukan” (Nekrofilia, Narsisme Maligna, dan Simbiosis Inses) melawan “Sindrom Pertumbuhan” (Biofilia, Cinta Sesama, dan Independensi). Referensi ini penting untuk memahami pilihan moral manusia.
[3]Website Sant’Egidio. “Viva gli Anziani! – A program to counteract the isolation of the elderly”. https://www.santegidio.org/pageID/3/langID/en/Elderly.html. Diakses pada Januari 2026. Program ini menjadi bukti praktis sosiologis bagaimana teori biofilia Fromm diterapkan untuk menyelamatkan populasi lansia dari kematian sosial melalui jalinan persahabatan personal.
[4]Sant’Egidio Global Campaign. “No Justice without Life: The International Campaign against the Death Penalty”. https://www.santegidio.org/pageID/30062/langID/en/Cities-for-Life.html. Dokumentasi mengenai pengaruh gerakan biofilis ini dalam mengubah lanskap moral dan hukum internasional terkait penghormatan terhadap kehidupan.
[5]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (2022). File: renungan kse.pdf. “Senin, 12 Desember 2022: Bilangan 24:2-7.15-17a”, hlm. 10. Memberikan landasan teologis tentang transformasi mata batin yang beralih dari keinginan menghancurkan (kutukan) menuju keinginan memberkati kehidupan.
[6]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio. (2022). File: renungan kse.pdf. “Selasa, 29 November 2022: Yesaya 11:1-10”, hlm. 2. Deskripsi puitis dan teologis mengenai kekuatan “getah” kehidupan dalam tunas yang lemah sebagai simbol harapan biofilis yang tak terhentikan.