03. Dahaga Akan Makna: Melampaui Homo Consumens Menuju Homo Religiosus

03. Dahaga Akan Makna: Melampaui Homo Consumens Menuju Homo Religiosus

“Manusia modern telah mengubah dirinya menjadi komoditas, mengalami energi hidupnya sebagai investasi yang darinya ia harus meraup keuntungan setinggi-tingginya… Ia telah menjadi bayi abadi, berbaring di payudara pasar, menunggu puting tersebut meredakan kegelisahannya.”

Erich Fromm, The Sane Society

Pendahuluan: Kelaparan Ontologis di Tengah Pesta Pora Materi

Saudara-saudariku, para peziarah makna dan pencari kebenaran yang terkasih,

Setelah kita menelusuri lorong-lorong gelap kesepian yang mengisolasi (Seri 01) dan membedah patologi normalitas yang membuat kegilaan tampak wajar (Seri 02), kini kita tiba di ambang pintu lapisan terdalam dari krisis eksistensial manusia modern. Kita tidak lagi berbicara tentang gejala permukaan; kita sedang menyentuh sumsum tulang dari penderitaan zaman ini: krisis makna.

Bayangkanlah sebuah perjamuan raksasa yang membentang dari New York hingga Tokyo, dari London hingga Jakarta. Meja-meja peradaban kita penuh sesak dengan kelimpahan yang tak terbayangkan oleh nenek moyang kita: makanan lezat dari seluruh penjuru dunia, gawai tercanggih yang menghubungkan kita dalam hitungan detik, hiburan streaming tanpa henti, dan kenyamanan termal yang sempurna di balik gedung-gedung pencakar langit. Secara statistik, kita adalah generasi yang paling makmur, paling sehat, dan paling panjang umur dalam sejarah spesies Homo Sapiens.

Namun, di tengah pesta pora konsumsi ini, jika kita mendengarkan dengan telinga batin yang peka, terdengar sebuah jeritan sunyi yang menyayat hati. Jeritan ini bukan berasal dari perut yang lapar—meskipun skandal kelaparan fisik masih ada—melainkan dari jiwa yang mengalami malnutrisi kronis. Kita makan lebih enak, tidur di kasur lebih empuk, dan bepergian lebih jauh, namun data kesehatan mental global menunjukkan grafik yang paradoksal. Kita merasa lebih hampa, lebih cemas, dan lebih bingung tentang “untuk apa” kita hidup.

Fenomena ini membuktikan tesis fundamental Psikologi Humanistik dan Antropologi Kristen: manusia bukanlah sekadar mesin biologis.

Jika manusia hanyalah hewan yang canggih, maka pemenuhan kebutuhan fisiologis (makan, tidur, seks, keamanan) seharusnya cukup untuk membuatnya bahagia. Namun, fakta bahwa manusia bisa merasa bosan, cemas, atau bunuh diri justru di puncak kemakmuran materi, membuktikan bahwa kita memiliki “organ” lain yang menuntut nutrisi berbeda. Kita memiliki kebutuhan akan transendensi, makna, dan keterhubungan yang melampaui materi.

Dalam seri ini, kita akan melakukan pembedahan psikohistoris untuk menelanjangi mitos Homo Consumens (manusia konsumen)—berhala baru yang dijajakan oleh pasar global sebagai puncak evolusi manusia. Kita akan melihat bagaimana karakter ini sebenarnya adalah bentuk regresi infantil. Selanjutnya, kita akan menunjuk pada kebangkitan tak terelakkan dari Homo Religiosus (manusia religius). Bukan dalam arti sempit dogmatis atau ketaatan ritual yang kaku, melainkan dalam arti antropologis yang mendalam: makhluk yang secara inheren merindukan Yang Mutlak, Yang Tak Terbatas.

Sebagai panduan, kita akan menggunakan Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio sebagai cermin teologis untuk melihat bagaimana “dahaga” ini dijawab. Bukan dengan air dari sumur dunia yang membuat kita haus lagi, melainkan dengan “Air Hidup” yang mengubah struktur keberadaan kita.

Mitos Homo Consumens: Bayi Abadi yang Tak Pernah Kenyang

Di jantung peradaban industri modern, terdapat sebuah kuil tak kasat mata di mana jutaan orang bersujud setiap hari, dari pagi hingga malam. Altar itu bukan milik dewa kuno seperti Baal atau Zeus, melainkan milik berhala baru yang lebih menuntut dan tak pernah puas: Konsumsi. Kredo sekuler kita berbunyi: “Aku mengonsumsi, maka aku ada” (Consumo, ergo sum).

Erich Fromm, dengan ketajaman pisau bedah psikoanalisis sosialnya, mendiagnosis karakter sosial dominan abad ini bukan sebagai Homo Sapiens (Manusia Bijaksana) atau Homo Faber (Manusia Pencipta), melainkan sebagai Homo Consumens. Ini bukan sekadar perilaku ekonomi (membeli barang); ini adalah struktur karakter psikologis yang mendasari cara kita berelasi dengan dunia, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.

a. Arketipe “Bayi Abadi” (The Eternal Suckling)

Fromm menggunakan metafora klinis yang sangat kuat dan sedikit mengganggu untuk menggambarkan kondisi batin kita: Bayi yang Menyusu Abadi (The Eternal Suckling).[1]

Dalam fase perkembangan bayi (oral), adalah wajar dan sehat jika seorang anak berhubungan dengan dunia melalui mulutnya. Ia ingin menelan, menghisap, dan mengambil apa pun yang ada di hadapannya. Ia pasif; ia tidak memproduksi, ia menunggu ibu memberinya makan. Rasa amannya bergantung pada asupan dari luar.

Tragedi manusia modern adalah bahwa secara psikologis, kita terhambat (arrested development) dan tidak pernah tumbuh dewasa dari fase ini. Mulut yang terbuka lebar; kita menghadapi dunia dengan mulut yang menganga lebar, siap menelan segalanya. Kita ingin “meminum” semua pengalaman, “menelan” semua pemandangan wisata, “melahap” semua buku terlaris, dan “menghisap” semua atensi digital. Dunia dilihat bukan sebagai ladang untuk digarap, melainkan sebagai botol susu raksasa untuk memuaskan dahaga kita. Kepasifan radikal yang terselubung, meskipun kita tampak sibuk bekerja, berlari mengejar deadline, dan aktif secara fisik namun secara batin kita pasif. Kita tidak menciptakan kebahagiaan dari dalam (melalui cinta, seni, atau pemikiran); kita membeli kebahagiaan dari luar. Kita menunggu Netflix menghibur kita, media sosial memvalidasi kita, dan pasar memuaskan kita. Kita adalah konsumen pasif dari kehidupan kita sendiri.

Akibatnya, kita menjadi kerdil secara emosional. Kita menuntut kepuasan instan. Jika keinginan kita ditunda, kita marah, rewel, atau depresi—persis seperti bayi yang menangis saat botol susunya ditarik. Kita memiliki tubuh dewasa dan kecerdasan teknis yang tinggi, tetapi jiwa bayi yang rapuh dan bergantung.

b. Mekanisme Kecanduan: Meminum Air Laut

Mengapa kita terus mengonsumsi meskipun kita tahu—jauh di lubuk hati—bahwa barang baru, mobil baru, atau gawai baru tidak akan membuat kita bahagia selamanya? Mengapa kenikmatan belanja hanya bertahan sekejap sebelum berubah menjadi kebosanan?

Jawabannya adalah: konsumsi sebagai obat cemas (anxiety buffer).

Dalam analisis Fromm, konsumsi kompulsif adalah mekanisme pelarian dari kecemasan akan keterpisahan dan kesepian. Di dalam diri manusia modern, ada lubang menganga akibat alienasi dari alam dan sesama.

“Saya merasa sepi, kecil, dan tidak berdaya di alam semesta yang dingin ini. Tapi jika saya membeli mobil baru ini, saya akan merasa besar, kuat, dan aman. Saya memiliki, maka saya aman.”

Namun, mekanisme ini tunduk pada hukum diminishing returns (hasil yang semakin berkurang). Kenikmatan dari gawai baru akan pudar dalam sebulan. Kecemasan akan kembali, kali ini lebih kuat karena disertai rasa kecewa. Maka, kita butuh dosis yang lebih tinggi; mobil yang lebih mahal, liburan yang lebih jauh, pengalaman yang lebih ekstrem.

Ini adalah struktur kecanduan. Homo Consumens adalah orang haus yang meminum air laut; semakin dia minum, semakin dia haus karena garamnya, dan semakin dekat dia dengan kematian rohani.

c. Diagnosis Sant’Egidio: Tragedi Orang Kaya yang Bodoh

Spiritualitas Sant’Egidio memberikan diagnosis teologis yang sangat presisi dan selaras dengan pandangan ini. Dalam renungan tentang perumpamaan Orang Kaya yang Bodoh (Lukas 12:13-21), Yesus menelanjangi ilusi fatal dari Homo Consumens.[2]

Mari kita simak monolog batin orang kaya itu:

“Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”

Perhatikan kesalahan kategoris yang fatal dalam kalimat ini. Dia berbicara kepada “jiwanya” (unsur rohani yang merindukan makna, keabadian, dan cinta) dan menawarkan “barang” (unsur materi yang fana). Dia mencoba memberi makan jiwanya dengan gandum dan harta.

Ini adalah definisi dari materialisme psikologis: keyakinan bahwa kebutuhan batiniah bisa dipuaskan dengan alat-alat lahiriah. Dia kesepian (tidak ada orang lain dalam monolognya, hanya “aku” dan “barangku”), dan dia mencoba menutupi kesepian itu dengan akumulasi.

Tuhan menyebutnya: “Hai engkau orang bodoh!” Kebodohan di sini bukan kurangnya IQ (dia pandai berbisnis), melainkan kurangnya hikmat eksistensial. Dia mencoba mengisi lubang tanpa dasar di jiwanya dengan benda-benda yang terbatas. Dia lupa bahwa “hidupnya tidak tergantung pada kekayaannya itu.”

Kekosongan Eksistensial (Existential Vacuum): Ketika “Bagaimana” Kehilangan “Mengapa”

“Ever more people today have the means to live, but no meaning to live for.”

(“Semakin banyak orang saat ini memiliki sarana untuk hidup (means to live), tetapi tidak memiliki makna untuk dijalani (meaning to live for)).”—Viktor E. Frankl

Ketika lampu-lampu pesta konsumerisme padam, ketika pusat perbelanjaan tutup, dan ketika kita sendirian di kamar pada jam 3 pagi, manusia modern dihadapkan pada tamu tak diundang yang paling ia takuti: kekosongan.

Viktor Frankl, penyintas Holocaust dan pendiri Logoterapi, menyebut kondisi ini sebagai Existential Vacuum (kekosongan eksistensial). Peradaban kita telah menjadi ahli dalam menyediakan “sarana untuk hidup” (means to live—teknologi, uang, kenyamanan), tetapi kita menjadi buta huruf dalam merumuskan “makna untuk hidup” (meaning to live for). Kita tahu bagaimana caranya hidup enak, tapi kita lupa mengapa kita harus hidup sama sekali.

a. Neurosis Noogenik: Penyakit Kehilangan Makna

Berbeda dengan neurosis zaman Freud yang sering kali berakar pada konflik seksual atau trauma masa kecil, neurosis zaman kita berakar pada frustrasi kehendak akan makna (will to meaning). Frankl menyebutnya Neurosis Noogenik (dari kata Yunani noos, pikiran/roh). Paradoks kesejahteraan, dimana data statistik bunuh diri global menunjukkan fakta yang meresahkan: tingkat bunuh diri dan depresi sering kali lebih tinggi di negara-negara yang paling sejahtera, demokratis, dan memiliki jaminan sosial terbaik (seperti Skandinavia atau Jepang).[3]

Mengapa?

Karena ketika perjuangan fisik untuk bertahan hidup selesai (perut kenyang, atap aman), pertanyaan tentang tujuan hidup muncul dengan kekuatan penuh. “Saya sudah punya segalanya, tapi saya merasa hampa.” Perut yang kenyang tidak bisa menutupi jiwa yang lapar. Kemakmuran tanpa tujuan adalah penjara emas yang membosankan.

b. Mekanisme Pelarian: Membius Sang Jiwa

            Manusia tidak tahan hidup dalam kekosongan. Alam membenci kehampaan (horror vacui), demikian juga jiwa manusia. Untuk menghindari rasa sakit akibat ketiadaan makna ini, kita membius diri dengan mekanisme pelarian. Lewat eskapisme hiburan; kita “membunuh waktu” (killing time) dengan hiburan tanpa henti. Kita takut hening, karena dalam keheningan, pertanyaan “siapakah aku?” akan terdengar. Maka kita menyumbat telinga dengan noise digital dan aktivisme neurotik, dimana kita menjadi “gila kerja” (workaholic). Kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak perlu hanya agar kita tidak punya waktu untuk berpikir dan merasakan kekosongan itu. Kesibukan menjadi obat penenang yang legal dan dipuji masyarakat.

c. Jawaban dari Sumur Yakub: Dahaga yang Lebih Dalam

            Dalam Renungan Komunitas Sant’Egidio, kisah pertemuan Yesus dengan Perempuan Samaria di Sumur Yakub (Yohanes 4) menjadi arketipe spiritual yang kuat untuk kondisi ini.[4]

            Perempuan itu datang ke sumur di tengah hari bolong, di bawah terik matahari—simbol dari keletihan hidup yang membakar. Dia membawa ember (teknologi/sarana) untuk mengambil air. Dia memiliki sejarah lima suami dan sedang hidup dengan laki-laki keenam yang bukan suaminya. Ini adalah gambaran dari upaya manusiawi yang putus asa untuk memuaskan dahaga cinta dan makna melalui hubungan yang berganti-ganti, namun tetap gagal. Dia minum, tapi tetap haus.

            Yesus, Sang Terapis Jiwa, mendiagnosis kondisinya dengan presisi:

“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”

            Yesus menunjukkan bahwa dahaga perempuan itu—dan dahaga kita—bukanlah dahaga biologis akan H2O, melainkan dahaga ontologis akan makna, akan cinta yang tak bersyarat, akan penerimaan yang utuh. Homo Consumens terus kembali ke sumur dunia (uang, seks, kuasa, ketenaran) dan tetap haus. Hanya perjumpaan dengan Yang Ilahi, dengan “Air Hidup”, yang bisa menyentuh kedalaman sumur jiwa dan memuaskan dahaga akan makna.

Kembalinya Homo Religiosus: Kerinduan akan Yang Mutlak

“The question is not whether man has a religion, but what kind of religion he has: whether it is one that promotes the development of human powers, or one that paralyzes them.”

(“Pertanyaannya bukanlah apakah manusia memiliki suatu agama, melainkan agama jenis apa yang ia miliki: apakah itu agama yang mendorong perkembangan kekuatan manusia, atau yang melumpuhkannya.”) — Erich Fromm

            Di puncak krisis makna ini, di tengah reruntuhan janji-janji sekuler yang gagal membahagiakan, kita menyaksikan fenomena “Kembalinya Yang Sakral”. Namun, ini bukan sekadar kembalinya ritualisme lama atau fanatisme. Ini adalah ledakan ontologis dari Homo Religiosus. Manusia menyadari bahwa ada lubang di dalam jiwa yang berbentuk “Yang Mutlak”, dan lubang itu tidak bisa diisi oleh benda-benda yang terbatas (finitude).

a. Kebutuhan akan Kerangka Devosi (Frame of Devotion)

            Erich Fromm mengajukan tesis bahwa manusia adalah binatang yang religius secara inheren. Bukan karena dogma, tetapi karena struktur eksistensi kita; Kerangka Orientasi, dimana kita butuh peta untuk memahami dunia yang kacau ini. Dan Kerangka Devosi, dimana kita butuh objek untuk mengabdi, sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri untuk mengatasi keterpisahan kita.[5]

          Jika kita menolak Tuhan yang transenden dan hidup, kita tidak menjadi “bebas nilai” atau ateis rasional. Sebaliknya, kita akan menciptakan agama sekuler yang sering kali lebih fanatik dan irasional. Yakni penyembahan berhala modern, dimana nasionalisme ekstrem, pemujaan teknologi (teknolatria), obsesi pada kesuksesan pasar, atau kultus terhadap selebritas adalah bentuk-bentuk agama regresif. Kita menyembah hasil karya tangan kita sendiri. Berhala-berhala ini menuntut pengorbanan manusia (waktu, kesehatan, keluarga), tetapi tidak memberikan keselamatan. Mereka adalah “air asin” yang membunuh.

b. Visi Profetik: Binatang vs Orang Kudus

            Dalam tradisi spiritualitas Sant’Egidio, kerinduan akan yang mutlak ini menemukan artikulasinya dalam visi profetik sejarah. Renungan Harian Komunitas memberikan tafsir yang brilian terhadap penglihatan Nabi Daniel tentang akhir zaman.[6]

            Teks tersebut mengontraskan dua entitas yang bertarung memperebutkan jiwa manusia. Yaitu binatang buas (the beasts), yang melambangkan kerajaan-kerajaan duniawi yang silih berganti (Babel, Persia, Yunani—atau hari ini: kapitalisme global, totalitarianisme, konsumerisme). Sifat mereka adalah memangsa, menguasai, menindas, dan menghancurkan. Mereka tampak kuat, berkilau, dan abadi. Namun pada hakikatnya mereka fana dan nekrofilis (mencintai kematian/benda mati). Dan orang-orang kudus (The Saints), yang melambangkan manusia yang setia kepada “Yang Mahatinggi”. Sifat mereka adalah manusiawi, lemah lembut, solider, dan setia.

            Kutipan kunci dari renungan Sant’Egidio berbunyi:

“Kerajaan Babel akan dihancurkan dan kekuasaan akan diberikan kepada ‘orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi’. Itulah pewartaan pengharapan. Kepada merekalah Tuhan mempercayakan kuasa untuk mengubah dan menyelamatkan bumi.”

            Secara psikologis, ini adalah momen kesadaran kritis. Manusia modern mulai menyadari bahwa “kerajaan binatang” (sistem ekonomi yang memangsa manusia) tidak memiliki masa depan. Keabadian hanya milik “kerajaan orang kudus” (nilai-nilai kemanusiaan dan ilahi). Transisi dari Homo Consumens ke Homo Religiosus adalah perpindahan kewarganegaraan: dari menjadi warga kerajaan binatang yang saling memangsa, menjadi warga kerajaan orang kudus yang saling melayani.

C. Penantian sebagai Sikap Batin: Adven yang Abadi

            Bagaimana kerinduan religius ini diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari? Bukan melalui pelarian ke biara terpencil, melainkan melalui sikap penantian aktif di tengah kota.

            Dalam renungan Masa Adven, Sant’Egidio mengajarkan bahwa identitas dasar manusia adalah “penanti Tuhan”.

“Hari ini kita menapaki langkah pertama ini, yang ditandai dengan penantian akan Tuhan. Dialah yang datang kepada kita dan bukan kita yang pergi kepada-Nya.”[7]

            Binatang tidak menanti; mereka hidup dalam insting saat ini (immediacy). Hanya manusia yang bisa menanti, karena manusia sadar bahwa kepenuhannya belum tercapai di sini dan saat ini. Penantian adalah pengakuan akan ketidaklengkapan diri dan keterbukaan terhadap transendensi. Inilah yang dinamakan Psikologi Penantian.

            Orang yang “menanti Tuhan” memiliki kesehatan mental yang kokoh. Mengapa? Karena dia tidak akan menuhankan benda. Dia memiliki jarak yang sehat (detachment) terhadap materi. Dia bisa menikmati dunia, tapi tidak diperbudak olehnya, karena dia tahu “bukan ini yang kucari; yang kucari belum datang”. Dia bebas dari obsesi Homo Consumens.

Kesimpulan: Sumur di Tengah Kota

            Perjalanan dari Homo Consumens menuju Homo Religiosus bukanlah sebuah kemunduran ke masa lalu yang pra-ilmiah, melainkan sebuah langkah maju menuju kedewasaan manusia. Ini adalah perjalanan kesembuhan. Kita berhenti mencoba memuaskan dahaga jiwa dengan air asin (konsumsi) yang mematikan, dan mulai berjalan menuju sumber air hidup yang menyegarkan.

            Di sinilah letak relevansi vital dari Komunitas Sant’Egidio: ia bukan sekadar organisasi sosial atau LSM kemanusiaan, melainkan sebuah “sumur” di tengah gurun kota modern. Tempat di mana manusia modern yang kehausan—lelah dengan kebisingan pasar, muak dengan kehampaan barang, dan rindu akan kasih yang tulus—bisa menimba makna.

            Di sumur ini, kita tidak hanya bertemu dengan sesama manusia, tetapi kita menemukan kembali wajah Yang Mutlak dalam wajah saudara kita yang miskin. Kita belajar bahwa memberi lebih membahagiakan daripada menerima, dan menjadi (being) lebih mulia daripada memiliki (having).

            Di seri selanjutnya, kita akan melangkah lebih jauh untuk melihat bagaimana dorongan untuk mencintai kehidupan—yang disebut Fromm sebagai Biofilia—menjadi landasan biologis dan spiritual bagi revolusi harapan ini.

========== Salam dari Borong ==========


[1]Fromm, Erich. (1955). The Sane Society. New York: Rinehart & Co. Konsep “Eternal Suckling” menjelaskan infantilisme psikologis masyarakat konsumeris yang pasif, yang mengharapkan segala sesuatu dari luar dan tidak mampu berproduksi dari dalam.

[2]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Lukas 12:13-21 Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh”. Halaman 239. Renungan ini menyoroti kesia-siaan menumpuk harta bagi diri sendiri dan melupakan Tuhan.

[3]Frankl, Viktor E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press. Data tentang Existential Vacuum dan tingkat bunuh diri di negara maju yang menunjukkan bahwa ketiadaan makna adalah patologi utama zaman ini.

[4]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Yohanes 4:5-42” pada Minggu Prapaskah ke-3, Halaman 69. Kisah ini digunakan untuk menggambarkan perjumpaan yang mengubah dahaga duniawi menjadi sumber air hidup.

[5]Fromm, Erich. (1950). Psychoanalysis and Religion. New Haven: Yale University Press. Argumen tentang kebutuhan intrinsik manusia akan kerangka orientasi dan devosi, serta bahaya agama otoriter versus potensi pembebasan agama humanistik.

[6]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat tafsir Kitab Daniel (Daniel 7:15-27), Halaman 228 dan 693. Tafsir ini membedakan antara kekuasaan duniawi yang buas dan kekuasaan orang kudus yang manusiawi.

[7]Renungan Harian Komunitas Sant’Egidio, dalam file renungan komunitas sant’egidio.pdf. Lihat renungan “Minggu, 27 November 2022: Hari Minggu Adven-1”, Halaman 1. Menggarisbawahi sikap dasar orang Kristen sebagai penanti kedatangan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *